SPIRITSUMBAR.COM – Tidak berapa lama lagi umat Islam akan merayakan hari kemenangan (Idul Fitri) 1446 Hijriah. Budaya pulang kampung (mudik) pun akan segera terjadi.
Bagi masyarakat yang berada di perantauan hal ini merupakan kegiatan rutin yang selalu ditunggu-tunggu. Untuk melepaskan kerinduan dengan orang tua, sanak keluarga serta karib kerabat yang berada di kampung halaman.
Sesampainya di kampung halaman, sambil bersilaturahmi kunjung mengunjungi dan saling bermaaf-maafan. Dengan mengucapkan kalimat minal aidin wal faizin. Rasa lelah setelah bekerja beberapa lama di perantauan hilang lenyap dibuatnya seketika.
Tradisi pulang mudik bagi perantau asal Sumatera Barat yang berada di berbagai kota di Indonesia ada pula yang dilakukan secara bersama-sama untuk satu daerah atau satu nagari. Kegiatan pulang kampung serentak seperti ini dikenal dengan istilah pulang basamo.
Untuk tahun 2025 ini bus bantuan yang membawa perantau asal Sumatera Barat dari pulau Jawa sudah banyak bersileweran di sepanjang jalan lintas Sumatera. Dengan pemberhentian terakhir di depan Masjid Raya Sumatera Barat.
Tidak ketinggalan juga mobil-mobil pribadi dengan nomor polisi luar Sumatera Barat. Seperti seri B, D, Z, DK, BM, BE, BL dan lain sebagainya yang menuju kampung halamannya masing-masing.
Mudik berasal dari kata mau ke udik (pulang kampung). Menurut Wikipedia pengertian mudik adalah kegiatan perantau/pekerja migran untuk kembali ke kampung halamannya.
Maka apapun pekerjaannya, orang biasanya memaksakan dirinya. Untuk bertemu dengan keluarga atau karib kerabatnya di kampung halaman.
Ada yang pulang mudik dengan menggunakan kendaraan pribadi dan ada pula yang memakai jasa angkutan umum. Bagi mereka yang berekonomi bagus, mereka bisa pulang mudik dengan menggunakan kendaraan pribadi atau dengan jasa pesawat terbang.
Akan tetapi bagi yang berekonomi lemah tak jarang kita mendengar, mereka pulang mudik dengan berdiri di atas angkutan umum. Bahkan ada yang duduk diatas gerbong kereta api sekalipun.
Kondisi lain yang tidak mengenakan sekalipun harus mereka lalui. Seperti berdesak-desakan dan berkejar-kejaran saat menaiki angkutan umum. Ada yang terjepit bahkan ada yang terinjak.
Kadangkala tak jarang dari mereka ada yang tidur satu bahkan sampai dua malam terlebih dahulu di stasiun atau terminal pemberangkatan angkutan umum untuk menuju kampung halamannya.
Tidak peduli dengan harga tiket pesawat, bis, kapal, atau sewa kendaraan lainnya yang mahal. Tidak peduli waktu dalam perjalanan yang ditempuh sangat lama berjam-jam dan berhari-hari.
Tak peduli cuaca ekstrim yang mereka lalui selama dalam perjalanan. Semua itu rela mereka lakukan asal bisa sampai di kampung halaman.
Mudik menjadi sebuah kebahagiaan tersendiri bagi masyarakat yang berasal dari perantauan. Mereka bisa berkumpul kembali dan bersukacita dalam merayakan hari kemenangan di tengah hangatnya kasih sayang keluarga dan karib kerabatnya.
Mereka seperti menemukan kembali hakikat kehidupannya. Setelah bertahun-tahun hidup jauh dari keluarga. Hasrat dan naluri sebagai bagian dari keluarga pun terpanggil untuk kembali pulang berkumpul bersama mereka.
Inilah budaya mudik yang sering terlihat dalam budaya dan kebiasaan masyarakat kita. Segala usaha dilakukan agar kegiatan mudik dapat terlaksana.
Ada yang memulainya dengan kegiatan menabung mengumpulkan uang setahun lamanya. Ada yang memanfaat uang THR ( tunjangan hari raya). Agar kegiatan pulang mudik dapat dilakukan.
Komentar