Beranda - Berita Pilihan - Tour Kerinci-3: Kenapa Kayu Manis & Kopi Kerinci Bisa Mengisi Pasar Eropa?
Bupati Adirozal bersama isteri, Ny. Nailil Adirozal, di salah satu lahan pertanian rakyat di Kerinci
Bupati Adirozal bersama isteri, Ny. Nailil Adirozal, di salah satu lahan pertanian rakyat di Kerinci

Tour Kerinci-3: Kenapa Kayu Manis & Kopi Kerinci Bisa Mengisi Pasar Eropa?

Print Friendly, PDF & Email

Padang Panjang, Spiritsumbar.com — Produk kayu manis dari Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, diekspor ke sejumlah negara di Eropa, yang kemudian mengalir ke Amerika dan negara lain. Sejak itu harga kayu manis di Kerinci melesat hingga Rp 70.000/kg, kopi rata-rata Rp 26.000/kg. Kenapa prestasi fantastis itu bisa terwujud?

Jawabnya,  seperti terungkap dari keterangan Bupati Kerinci, Dr.Adirozal, karena produk kayu manis (di Sumbar disebut kulit manis) dan kopi Kerinci sudah memperoleh sertifikat SNI dari Pemerintah RI. Sebab, konsumen dari negara maju seperti Eropa, mereka hanya akan mengimpor produk dari Indonesia yang sudah bersertifikat SNI.

Baca Juga: Dari Tour Kerinci-2: Ekspor ke Eropa, kayu manis Kerinci Jadi Primadona Lagi

Mudahkah memperoleh sertifikat SNI untuk produk pertanian, seperti kayu manis atau kopi? Jelas, tidak mudah, kata Adirozal menjawab pertanyaannya sendiri. Sebab, cukup banyak prosesnya, tidak  hanya pemeriksaan pada kualitas produk. Tapi mulai dari areal tanam, bibit, budidayanya sampai panen dan pasca panen.

Seperti produk padi payo Kerinci, yang belakangan juga dalam proses mendapatkan sertifikat SNI. Itu prosesnya mulai dari penelitian atas varietas padi payo itu sendiri bekerjasama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB), Bogor dan Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) Indonesia hingga panen dan pasca panen.

Hasil penelitian, padi payo yang ditanam pada sawah payo (tanah rawa) — yang dominan di Kerinci – sangat menggembirakan. Pertama, usia tanam padi hingga bisa panen jadi pendek dari sekitar 8,5 bulan jadi sekitar 4,5 bulan. Kedua, produksi naik dari 6,5 – 7,5 ton/Ha jadi 7 – 8 ton/Ha. Ketiga, rasa nasinya juga lebih enak.

Kegiatan penelitian dan sertifikasi berbagai produk pertanian di Kerinci adalah bagian dari program strategis Adirozal sejak tampil jadi Bupati Kerinci pada 2014 dalam upaya memacu kemajuan ekonomi daerah ini. Progres program itu kini antara lain;

A.Yang sudah mendapat sertifikat SNI

1.Kayu manis

2.Kopi arabika

B.Sedang pengurusan sertifikat SNI

1.Padi varietas Payo  

2.Bawang putih

C.Akan menyusul, antara lain;

1.Jeruk gigar  

2.Jeruk madu

Tujuan dari program sertifikasi produk pertanian di Kerinci itu menurut Adirozal, terutama agar produk tadi bisa jadi tuan di rumah sendiri, punya daya saing kuat di pasar dalam negeri dan pasar ekspor. Dengan begitu, para petaninya akan lebih bergairah dalam berusaha, begitu juga pedagang dan usaha terkait lainnya.

Bupati Adirozal bersama tamu dari Eropa
Bupati Adirozal bersama tamu dari Eropa

Untuk persaingan ke pasar internasional, harapan itu sudah terwujud lewat produk kayu manis dan kopi arabika. Itu ditandai dengan ekspor dua produk ini ke Belanda, Belgia, Jerman, Perancis dan Finlandia. Berikut, dari negara pengimpor itu ke negara lain, seperti Belgia yang  kemudian mengirim kayu manis Kerinci ke Amerika.

Sedangkan di pasar dalam negeri, setidaknya di Sumatera, Kerinci kini juga mulai memasarkan produk jeruk girga, jeruk madu, salak pondoh Kerinci, bawang putih, di samping kentang dan beberapa sayur lainnya ke luar Kerinci, seperti ke Sumatera Barat (Sumbar), Jambi dan lainnya.

Tidak hanya itu, pada sub-sektor peternakan, Kerinci juga mulai memasarkan produk telur ayam dan telur itik ke Sumbar dan daerah tetangga lain, di samping ke Jambi.  Tadinya, Kerinci memesan telur ayam dan telur itik dari Sumbar. Bahkan, kebutuhan pada ayam potong sudah mulai terpenuhi oleh produk lokal di Kerinci.

Itulah buah dari program tiga klaster yang dikembangkan oleh Pemkab Kerinci sejak era Bupati Adirozal mulai 2014 (bersama Wabup Zainal Abidin), dan kini periode kedua (bersama Wabup Ami Taher). Ketiga klaster itu adalah

1.Kawasan utara (kaki Gunung Kerinci)

-kebun kayu manis,

-kebun kopi arabika,

-horticultura dan sayur.

-kebun teh (milik PTPN-6)  

2.Kawasan bagian tengah

-kebun kayu manis

-kebun kopi arabika

-padi sawah payo

-peternakan (sapi/unggas)

3.Kawasan selatan

-kayu manis

-kopi arabika

-buah-buahan (jeruk girga, jeruk madu, alpokat & salak pondoh)

-jagung

Kebijakan program itu diambil, karena dari sekitar 250.000 jiwa penduduk Kabupaten Kerinci yang tersebar 18 kecamatan itu, sekitar 72% nya bergerak di sektor pertanian (agraria). Hanya sekitar 28% di sektor lain, seperti perdagangan, industri kecil, jasa dan pegawai (pemerintah, BUMN/BUMD dan swasta).

Baca Juga : Dari Tour Kerinci; Agribisnis Terbukti Bisa Jadi Kekuatan Ekonomi

Indikator terjadinya peningkatan ekonomi di Kabupaten Kerinci belakangan menurut Adirozal, tadinya sebelum terjadi musibah Covid-19 pertumbuhan ekonomi di Kerinci di atas 6%. Pada 2020 ini, jika pun turun jadi sekitar 3,5 %, tapi tidak sampai minus, kata mantan Wakil Walikota Padang Panjang periode 2003-2008 itu.

Perkembangan ekonomi petani tadi juga memicu kegairahan berbagai sektor ekonomi lain di Kerinci yang terkenal dengan Sekepal tanah dari surga itu. Adirozal mencontohkan, petani tadi karena sudah punya uang lebih, belakangan banyak terlihat pembangunan rumah baru, kebanyakan bertingkat. Bahkan di era Covid-19 ini.

Jeruk girga kerinci dengan keliling lingkaran sekitar 30cm
Jeruk girga kerinci dengan keliling lingkaran sekitar 30cm

Dari pembangunan rumah-rumah baru itu juga memicu kesibukan jual-beli pada toko bangunan. Truk keluar masuk menjemput-mengantar bahan bangunan untuk Kerinci. Rumah makan, restoran sampai kedai kopi bertambah pengunjungnya. Begitu juga toko pakaian, meubel, barang elektronik, kendaraan sampai perhiasan.

Kerinci  belakangan, hampir sempurna membuktikan bahwa ekonomi petani memang tahan atas badai krisis ekonomi. Wajar nenek moyang mengingatkan keturunannya; agar mempertahankan sawah-ladang. Di level nasional, pesan senada sudah dituangkan lewat UU No.41/2009 tentang  Lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B).

Di Minangkabau, bahkan pesan terkait ini kepada anak-cucu begitu keras. Sawah-ladang yang umumnya berupa harato pusako tenggi itu hanya boleh digadai bila menghadapi tiga hal ini; mayik tabujua di tangah rumah, rumah gadang katirisan, dan anak gadih gadang alun bajunjungan.

Pada negara maju, di antara kota yang memiliki lahan-lahan pertanian relatif luas hingga abad 21 ini bisa ditemui di banyak kota di Jepang, Belanda, New Zealand dan  Swiss. Kyoto sebagai salah satu kota tua di Jepang (13 abad), 65% dari wilayahnya adalah hutan, areal pertanian dan taman kota. Areal pertanian di kota-kota maju itu sekaligus jadi obyek agro wisata.(jym/yet).–

 

 

Tentang Yetti Harni

mm

Baca Juga

Tokoh Masyarakat Tanjung Gadang datangi Mapolres Sijunjung

4 Awak Bus ALS Lakukan Pembunuhan, Tokoh Masyarakat Tanjung Gadang Datangi Polres Sijunjung

SPIRITSUMBAR.COM, Sijunjung – Terungkapnya kasus pembunuhan yang diduga dilakukan oleh 4 awak Bus ALS di ...