Minggu , 19 September 2021
Depan - Headline - Senator, AM Fatwa Tutup Usia
AM Fatwa
AM Fatwa

Senator, AM Fatwa Tutup Usia

Print Friendly, PDF & Email

Spiritsumbar.com, Jakarta – Salah seorang Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia (RI), Andi Mappetahang Fatwa atau yang dikenal AM Fatwa meninggal dunia, di RS MMC, Jakarta, Kamis (14/12/2017) pukul 06.25 WIB

Sebagaimana disampaikan Hanif (Staf AM Fatwa) melalui media sosial, jenazah AM Fatwa yang meninggal dalam usia 78 tahun telah dibawa ke rumah duka Jl. Condet Pejaten, Komplek Bappenas, Pejaten Barat, Pasar Minggu (Belakang Republika).

Artikel Lainnya

loading…


AM Fatwa merupakan salah seorang deklarator Partai Amanat Nasional (PAN). Pernah menjabat sebagai Wakil Ketua DPR RI di periode 1999-2004. Selanjutnya AM Fatwa sebagai Anggota DPR RI yang juga Wakil Ketua MPR RI periode 2004-2009. Berikutnya, Sebagai Anggota DPD RI periode 2009 – 2014 dan 2014 – 2019 daerah pemilihan DKI Jakarta.

Semasa muda, pria kelahiran Bone, Sulawesi Selatan, 12 Februari 1939 ini dikenal sebagai ikon perlawanan dan sikap kritis terhadap rezim otoriter Orde Lama dan Orde Baru.  teror dan tindak kekerasan dari intel-intel kedua rezim otoriter tersebut, hingga keluar masuk rumah sakit dan penjara sudah menjadi bagian dalam hidupnya.

Malahan, semasa orde baru dia dihukum penjara 18 tahun, namun hanya dijalani 9 tahun lantaran dapat amnesti dari presiden BJ Habibie dari tuntutan seumur hidup. AM Fatwa dituduh sebagai provokator melalui kutbah politiknya yang kritis terhadap Orde Baru. Puncaknya, AM Fatwa dituding sebagai dalang dalam kasus Lembaran Putih Peristiwa Tanjung Priok 12 September 1984.

AM Fatwa yang saat itu masih berstatus narapidana bebas bersyarat (1993-1999) ikut menggulirkan gerakan reformasi bersama Amien Rais, hingga Presiden Soeharto mengundurkan diri pada tanggal 21 Mei 1998.

Editor : Saribulih

Baca juga:

loading…


Profil Saribulih

mm
Seorang praktisi pers yang juga bergerak dibidang pendidikan. Menulis dan berorganisasi merupakan hal yang mutlak baginya. Prinsipnya, seorang guru harus jadi penulis, karena dengan menulislah cakrawala dan kemampuan akan terus terasah. Organisasi juga suatu kebutuhan, karena bisa dimanfaatkan untuk bertukar pikiran

Baca Juga

Rektor UM Sumbar Dr. Riki Saputra sedang menjelaskan perihal konferensi internasional ICoNTISH kepada para jurnalis dan peserta konferensi pers

Pertama Kali Digelar PT sejak Pandemi Covid-19, UM Sumbar akan Gelar Konferensi Internasional ICoNTISH

SPIRITSUMBAR.com, Padang – Melakukan penelitian dan menulis merupakan sebuah kewajiban bagi seorang akademisi. Selain itu, ...