Sabtu , 25 September 2021
Depan - Pendidikan - Artikel - Rumah, Sekolah Pertama Bagi Anak

Rumah, Sekolah Pertama Bagi Anak

Print Friendly, PDF & Email

Oleh : Fitria Andriani ( Guru SDN 01 Labuah Gunuang, Kec. Lareh Sago Halaban )
Menurut undang-undang Sistem Pendidikan Nasional , pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah. Kerjasama ketiga komponen ini sangat mempengaruhi kemajuan pendidikan anak.

Keluarga disini tentu saja orang tua dari si anak, masyarakat merupakan lingkungan yang berada di luar keluarga seperti lingkungan tempat tinggal anak sedangkan pemerintah adalah sekolah yang berfungsi sebagai lembaga penyelenggara pendidikan formal.

Namun sekarang sudah terjadi ketimpangan dalam perjalanan tiga komponen ini, sebagian orang tua menyerahkan tanggung jawab sepenuhnya kepada pihak sekolah dalam pendidikan anak, akibatnya pendidikan anak menjadi tidak maksimal. Ironisnya lagi ada sebagian orang tua dan masyarakat yang menyalahkan pihak sekolah bila anaknya bertingkah laku yang meyimpang, namun bila anaknya berprestasi maka mereka dengan bangga menyebutkan itu karena didikan dan usaha mereka.

Hal ini tentu saja tidak adil bagi pihak sekolah, bukankah diawal sudah dikatakan bahwa pendidikan itu adalah tanggung jawab bersama, sesuai dengan kapasitas dan bagiannya masing-masing. Saling melengkapi bukan meniadakan, mengambil alih atau bahkan mengopernya.

Orang tua yang terlalu sibuk dengan pekerjaan sering menganggap enteng soal pendidikan anaknya. Mereka beranggapan bahwa pendidikan anak itu nanti akan dimulai saat anak masuk sekolah dan dengan memasukkan anak ke sekolah, berarti pendidikan anak telah menjadi tanggung jawab pihak sekolah. pemikiran seperti inilah yang harus diluruskan.

Pendidikan anak bukan berarti dimulai saat anak dimasukkan ke sekolah, melainkan dimulai sejak ia lahir. Dengan demikian rumah merupakan sekolah pertama bagi anak. Sebab ibu adalah orang yang mula-mula dikenal anak, dengan demikian ibu merupakan guru pertama bagi anaknya. Dan ingatlah seorang ayah adalah kepala sekolah di dalamnya.

Dengan memasukkan anak ke sekolah bukan berarti tugas orang tua dalam pendidikan anak bisa dialihkan kepada pihak sekolah. Karena peran orang tua dalam pendidikan anak tidak bersifat statis tetapi berlangsung sepanjang waktu dan sangat dinamis.

Maka peran orang tua dalam mendidik anak tidak bisa digantikan oleh apapun dan tidak memiliki jangka waktu, melainkan berlangsung sepanjang waktu. Oleh sebab itu orang tua tidak bisa begitu saja melimpahkan tugasnya kepada pihak sekolah. karena merekalah yang memberikan pengajaran, pendidikan apapun untuk pertama kalinya.

Keluarga adalah peletak dasar pendidikan bagi anak. Pendidikan orang tua dalam keluarga dapat memberikan pengaruh besar terhadap karakter anak. Sebab itu kunci utama untuk menjadikan anak menjadi pribadi yang baik terletak pada pendidikan dalam keluarga. Lalu pendidikan apa yang bisa diberikan orang tua dirumah ?

Pertama : orang tua harus menjadi contoh yang baik.. Sebagai orang yang menjadi role model dari seorang anak. Maka orang tua wajib memberikan contoh dan teladan bagi anaknya. Oleh karena itu orang tua harus mengevaluasi diri setiap hari, apakah yang dilakukan nya itu baik atau tidak bagi anak.

Kudidik diriku maka kudidik anak-anakku ( Kahlil Gibran), ungkapan ini memberikan isyarat kepada orang tua bahwa anak adalah cerminan dari orang tuanya. Jika orang tua dapat memberikan contoh dan teladan yang baik, maka anaknya pun akan bersikap baik.

Demikian sebaliknya, apabila orang tua tidak dapat memberikan contoh dan teladan yang baik maka orang tua tidak bisa berharap anaknya akan bersikap baik pula nantinya.

Kedua : menjadikan rumah sebagai taman ilmu, artinya orang tua harus menciptakan kegiatan yang sarat ilmu di rumah. Rumah adalah tempat lahir, tempat anak tumbuh dan berkembang sehingga rumah menjadi tempat belajar yang paling nyaman bagi anak.

Dalam keluarga orang tua melakukan kegiatan melalui asuhan, bimbingan dan pendampingan. Dalam setiap kegiatan ini lah orang tua harus memberikan pendidikan didalamnya, Misalnya anak diajarkan disiplin dalam mengatur waktu, anak dibimbing untuk belajar.

Waktunya sholat anak diajak untuk sholat. Waktunya istirahat anak disuruh tidur sehingga anak terbiasa dan akan mengingat kegiatan-kegiatan tersebut sebagai kebiasaan yang bermanfaat.

Selain itu orang tua juga harus memberikan ilmu bagaimana cara bersikap, berinteraksi dengan orang lain.

Ketiga : hadapkan anak pada tantangan. Jangan biasakan anak mendapatkan segala sesuatu dengan mudah, tak perlu selalu dibantu.. Ini berguna untuk menyiapkan anak untuk bisa menghadapi kompetisi di luar rumah. dan memberi kan kesadaran kepada anak bahwa untuk mencapai sesuatu perlu berjuang dan berusaha.

Empat : perlakukan anak dengan jujur. Orang tua harus memperlakukan anaknya dengan jujur agar anak bisa melihat kebenaran. Berikan kebenaran tentang kemampuan anak, karena penilaian orang tua jauh lebih dipercaya oleh anak dari pada orang lain.

Kalau anak memiliki kemampuan dalam suatu bidang, berikan kesempatan untuk anak bisa mengembangkan potensinya tesebut. Namun apabila anak tidak memilki kompetensi dalam bidang tertentu, jangan paksakan. Jangan jadikan anak seperti apa yang orang tua inginkan, tapi jadikan anak seperti apa yang dia inginkan, selagi hal tersebut berada dalam koridor yang benar.

Orang tua hanya perlu memberikan arahan dan bimbingan.
Besar sekali peran orang tua dalam pendidikan anak, dan hal itu tidak mungkin bisa dialihkan bahkan di lupakan oleh orang tua. Anak memiliki waktu yang lebih banyak bersama keluarga dari pada di sekolah, karenanya orang tua harus berusaha agar semua tidak terlewatkan begitu saja. Kalau diibaratkan asupan makanan yang dilakukan tiga kali sehari, tetap saja sarapan dan makan malamnya dilakukan dirumah, sedangkan di sekolah anak hanya mendapatkan makan siang. Jadi bagaimana mungkin waktu yang sedikit itu bisa memenuhi semua kebutuhan anak dalam pendidikan.

Akhirnya perlu kesadaran dari orang tua, bahwa keluarga adalah sekolah pertama bagi anak, mari jalankan peran dan fungsi tersebut sebaik mungkin di rumah. agar pihak sekolah tidak merasa diberi beban yang bukan tanggungan mereka. Bekerja samalah dengan pihak sekolah dan jalankan bagian masingmasing agar pendidikan anak bisa berjalan optimal

Profil Saribulih

mm
Seorang praktisi pers yang juga bergerak dibidang pendidikan. Menulis dan berorganisasi merupakan hal yang mutlak baginya. Prinsipnya, seorang guru harus jadi penulis, karena dengan menulislah cakrawala dan kemampuan akan terus terasah. Organisasi juga suatu kebutuhan, karena bisa dimanfaatkan untuk bertukar pikiran

Baca Juga

PON XX Papua 2021, Kontingen Sumbar : Papua Sangat Kondusif

SPIRITSUMBAR.com, Papua – Kondisi empat kluster kota dan kabupaten pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON) XX ...