Beranda - Pendidikan - Artikel - Radio Amatir dalam PJJ

Radio Amatir dalam PJJ

Print Friendly, PDF & Email

Oleh : Feri Fren (Widyaiswara LPMP Sumatera Barat)

Sebagai dampak dari penyebaran Virus Corona dalam bidang pendidikan di daerah kita pada saat ini, peserta didik tidak lagi belajar secara tatap muka langsung di sekolah dengan gurunya.

Mereka belajar dengan pola Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), guru di sekolah atau di rumah, sementara peserta didik juga di rumahnya. Sebagai media untuk menjembatani semua ini agar peserta didik tetap bisa belajar di masa pandemic covid-19 dipergunakanlah modul, buku, diktat, hand out, lembar kerja peserta didik dan lain sebagainya yang sejenis. Disisi lain pembelajaran bisa juga dilakukan dengan mempergunakan jaringan internet dalam bentuk on line learning.

Penggunaan jaringan internet untuk pembelajaran online sudah dilakukan sejak dalam keadaan darurat covid-19 beberapa waktu lalu. Mulai dari bulan Maret sampai dengan bulan Juni kemaren.

Ternyata dari hasil survei Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud) dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada akhir Tahun Pelajaran 2019/2020 kemaren diperoleh kesimpulan bahwa sangat banyak sekali permasalahan serta kendala-kendala yang ditemui ketika pembelajaran dilakukan dengan mempergunakan jaringan internet.

Diantara permasalahan yang terjadi adalah ketidaktersediaannya perangkat Hand Phone/Android oleh guru maupun peserta didik secara menyeluruh. Keterbatasan jaringan internet, kesiapan dana untuk membeli paket internet, sulitnya berkoordinasi antara guru dengan peserta didik, kesulitan dalam mengontrol dan mendisiplinkan peserta didik dalam belajar dan masih banyak lagi yang lainnya.

Ditambah pula jika dikaitkan dengan keadaan ekonomi orangtua peserta didik saat ini, tentu akan menambah pengeluaran biaya dan beban ekonomi keluarga. Sementara pada saat ini mereka sudah banyak yang tidak bekerja atau diberhentikan karena perusahaannya sudah banyak yang gulung tikar.

Sebagai muara dari semua itu mereka lebih banyak berdiam diri di rumah (stay at home) tanpa ada uang masuk untuk menopang kehidupan keluarganya.

Kita bisa bayangkan pada saat ini, seandainya ada saja tiga orang anak dalam sebuah keluarga yang sedang berusia sekolah yakni untuk jenjang SD, SMP, dan SMA/SMK. Seorang kepala keluarga harus mengeluarkan uang berapa juta rupiah untuk membeli tiga buah Hand Phone untuk memfasilitasi anaknya supaya bisa belajar secara online. Ditambah lagi pengeluaran untuk pembelian paket internet.

Pembelian paket internet akan dilakukan setiap bulan agar anaknya bisa belajar, berapa biaya yang harus dikeluarkan setiap bulannya oleh orangtua. Pengeluaran sebesar ini akan lebih terasa sekali bagi masyarakat golongan menengah ke bawah. Apalagi bagi mereka yang bekerja secara serabutan untuk bisa mendapatkan uang dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup rumah tangganya, pagi makan sore tiada.

Meskipun pada saat ini pihak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sudah memberikan kelonggaran dalam hal penggunaan dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) untuk pembelian paket internet bagi peserta didik serta fasilitas pendukung lainnya dalam rangka menyukseskan pembelajaran jarak jauh di era Pandemi Covid-19 ini. Namun sebagaimana yang kita ketahui dana yang akan dikeluarkan sekolah sangatlah banyak, sementara anggaran untuk sebuah sekolah sangat terbatas.

Guru dan tenaga kependidikan honorer perlu digaji, daya dan jasa perlu di bayar, serta masih banyak lagi pengeluaran lainnya yang akan dilakukan sekolah yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Apabila dana BOS tersebut dipergunakan sepenuhnya untuk kebutuhan fasilitas pembelajaran jarak jauh tersebut, sudah tentu untuk menunjang keperluan sekolah lainnya tidak bisa pula terpenuhi. Simalakama pula jadinya.

Untuk itu lewat tulisan ini kita coba menawarkan sebuah solusi agar pembelajaran jarak jauh bisa dilakukan tanpa mempergunakan paket data internet. Hal ini dapat dilakukan dengan memanfaatkan fasilitas radio amatir yang ada di tanah air kita seperti ORARI (Organisasi Radio Amatir Republik Indonesia) dan RAPI (Radio Antar Penduduk Indonesia). Pihak yang terkait mulai dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Dinas Pendidikan Propinsi, Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota bisa melakukan kerjasama dengan Kementerian Perhubungan yang membawahi kegiatan radio amatir.

Frekwensi radio amatir bisa menjangkau seluruh pelosok negeri dan bisa dimanfaatkan fasilitas jaringannya untuk mendukung pembelajaran jarak jauh di era pandemic covid-19 ini.
Dalam implementasinya, setelah dilakukan kerjasama dengan radio amatir dan pihak yang terkait, sekolah atau madrasah bisa membeli pesawat Handy Talki (HT) beberapa buah dan antena pemancar untuk di pasang di sekolah atau madrasah guna memperkuat penyaluran sinyal radio dari sumber kepada penerima melalui udara sehingga lebih luas jangkauannya.

Peserta didik dalam satu kelas terlebih dahulu di data tempat tinggalnya mana yang berdekatan. Andaikan dalam sebuah kelas terdapat 30 orang peserta didik. Kita cukup membeli HT 7 buah untuk satu kelas, pola pembagiannya satu buah HT untuk 5 orang peserta didik yang tempat tinggalnya berdekatan dan satu buah HT untuk guru.

Dengan adanya HT dan pemanfaatan jaringan radio amatir guru-guru bisa mengajar secara leluasa tanpa paket data internet dengan peserta didik dari rumah atau dari sekolahnya dengan jadwal belajar yang sudah disepakati bersama. Peserta didik bisa berdiskusi secara interaktif dengan gurunya dan dengan sesama peserta didik kapan saja pada jalur frekwensi yang telah ditetapkan. Pembelajaran akan terasa lebih aktif dan menyenangkan, guru bisa memantau peserta didiknya dalam belajar.

Bagi orang tua peserta didikpun rasanya tidak akan terlalu sulit untuk membelikan HT ini untuk anak-anaknya karena harganya yang jauh lebih murah dari pada membelikan sebuah Hand Phone. Orang tua tidak perlu lagi membeli paket data setiap saat untuk pembelajaran jarak jauh anaknya di masa pandemi ini. Bahkan kalau orang tua mau, diapun bisa memiliki HT dan masuk di frekwensi yang telah ditetapkan untuk memantau anaknya belajar.

Sekolah atau madrasah mana yang mau mencoba terlebih dahulu untuk memulai cara ini. Kita tunggulah kreatifitas dan inovasi dari kepala sekolah atau madrasah serta dukungan dari semua pihak untuk bisa mewujudkannya. Semoga.

Tentang Saribulih

mm
Seorang praktisi pers yang juga bergerak dibidang pendidikan. Menulis dan berorganisasi merupakan hal yang mutlak baginya. Prinsipnya, seorang guru harus jadi penulis, karena dengan menulislah cakrawala dan kemampuan akan terus terasah. Organisasi juga suatu kebutuhan, karena bisa dimanfaatkan untuk bertukar pikiran

Baca Juga

Hari Santri, PWNU Sumbar Hadirkan Cak Imin dan Maidir Harun

SPIRITSUMBAR.COM, Padang – Memeriahkan Hari Santri yang jatuh setiap tanggal 22 Oktober setiap tahunnya, Pengurus ...