Beranda - Pendidikan - Artikel - Pitih Tagang Hari Rayo
Feri Fren
Feri Fren

Pitih Tagang Hari Rayo

Print Friendly, PDF & Email

Oleh : Feri Fren (Widyaiswara LPMP Sumbar)
Tidak berapa hari lagi Bulan Suci Ramadhan akan segera berlalu, seterusnya disambut dengan datangnya Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1441 Hijriyah.

Hari Raya Idul Fitri merupakan hari kemenangan bagi umat Islam yang telah selesaikan melaksanakan ibadah puasa.

Kedatangan Idul Fitri selalu dinanti-nantikan oleh sebagian besar masyarakat. Para perantaupun sebelum datangnya Idul Fitri telah bersiap-siap untuk melaksanakan pulang kampung untuk menjumpai karib kerabat, handai tolan untuk bersilaturrahmi dan melepaskan kerinduan setelah sekian lama berada di rantau orang.

Tidak hanya orang rantau, anak-anakpun kalau mendengar kata-kata Idul Fitri sebentar lagi akan datang, mereka juga sangat merindukan kedatangannya. Mengapa tidak, dengan datangnya hari Raya Idul Fitri mereka akan bisa pergi jalan-jalan ke sejumlah tempat wisata secara berombongan dan mengunjungi rumah sanak keluarga.


Di Hari Raya, anak-anak biasanya secara berombongan pergi dari satu rumah saudara ke rumah saudaranya yang lain untuk bersilaturrahmi. Kegiatan seperti ini di Sumatera Barat sering juga kita kenal dengan istilah “manambang”.



Betapa bahagianya mereka, ketika mereka datang dan menaiki rumah famili, mereka disuguhkan dengan minuman sejenis sirup dan kue-kue lebaran yang enak-enak. Sangat terhormat sekali rasanya bagi mereka yang masih anak-anak diperlakukan seperti raja. Mereka didudukkan di kursi tamu yang empuk dan baru yang ukurannya jauh lebih besar dari ukuran badannya.

Artikel Lainnya

loading…


Setelah itu mereka ditanya oleh yang empunya rumah, dimana tinggalnya, anak siapa, kelas berapa dan lain sebagainya. Setelah beberapa menit percakapan berlalu, si empunya rumahpun mulai merogoh kantong dan membagi-bagikan uang “Pitih” baru, mereka sangat bahagia dan gembira sambil mengucapkan terima kasih, lalu minta permisi.

Betapa bahagianya perasaan sang anak saat itu, merekapun menyimpan uang yang diperolehnya ke dalam dompet yang telah mereka persiapkan dan disusun rapi. Dipisahkan uang yang nilai nominalnya lebih besar dengan yang kecil. Setelah agak banyak uang mereka kumpulkan. Merekapun dengan sesuka hatinya membelanjakan uang yang diperolehnya tanpa ada yang melarang dan membatasinya, wow…..sungguh indah dunia terasa bagi mereka saat itu.

Mereka ibarat seorang raja yang pada saat itu bisa membuat keputusan sendiri untuk dirinya dengan sesuka hati.
Ketika mereka haus dan lapar, merekapun bisa langsung membeli makanan dan minuman yang disukai dengan uangnya. Bagi anak laki-laki yang sering di beli adalah pistol mainan yang lengkap dengan sejumlah peluru-peluru yang membuat mereka semakin percaya diri dan tambah gagah dimata kawan-kawannya. Bagaikan seorang prajurit yang siap berperang lagaknya.

Kadangkala sesekali peluru dari pistolnya ada juga yang nyasar mengenai tubuh kawan yang lain. Tak jarang ini akan menjadi pemicu perkelahian. Itulah anak-anak yang sedang asyik dengan dunianya.

Menindaklanjuti keperluan penggunaan uang baru yang nantinya akan dibagi-bagikan kepada anak-anak di hari raya Idul Fitri. Di pertengahan puasa sudah banyak pula orang dewasa yang menukarkan uangnya ke bank untuk memperoleh uang baru “pitih tagang-tagang”.

Tapi hati-hati dengan uang palsu, karena pada saat seperti ini sindikat pengedar uang palsu sangat hebat menjalankan aksinya. Kesempatan dalam kesempitan, waspadalah-waspadalah.

Untuk mencegah beredarnya uang palsu, Bank Indonesia (BI) pun ikut memberikan fasilitas layanan penukaran uang dalam rangka menyambut Hari Raya Idul Fitri. Bank-bank lainpun tidak ketinggalan seperti, BRI, BNI, Bank Mandiri, BTN, BCA, BJB, Bank DKI, CIMB Niaga, Bank Panin, BII, Bank Permata dan lain sebagainya. Masing-masing Bankpun telah menunjuk sejumlah kantor cabangnya untuk melayani penukaran uang tersebut (http://bisnis.liputan6.com).

Penukaran uang dilakukan dalam bentuk pecahan mulai dari seribu sampai lima puluh ribu rupiah.
Adanya uang baru pada saat hari raya kayaknya sudah menjadi budaya bagi masyarakat kita. Agak kurang lengkap rasanya ketika memberikan uang kepada anak-anak di hari raya kalau tidak dalam bentuk uang baru “pitih tagang” yang baru keluar dari Bank.

Namun untuk Hari Raya Idul Fitri pada tahun ini, kegiatan seperti ini mungkin tidak terjadi lagi. Karena negara kita sedang dilanda Pandemi Covid-19 yang telah banyak memakan korban. Pemerintah mengajak masyarakat untuk tetap berada di rumah. Tidak boleh bepergian dan berkumpul-kumpul, pembatasan sosial berskala besar.

Bahkan untuk pulang mudikpun saat ini dilarang. Kita berharap semoga virus corona ini cepat hilang dan pergi dari daerah kita. Sehingga kita bisa kembali menjalani kehidupan normal seperti semula. Selamat Hari Raya Idul Fitri mohon maaf lahir dan bathin.



Tentang Saribulih

mm
Seorang praktisi pers yang juga bergerak dibidang pendidikan. Menulis dan berorganisasi merupakan hal yang mutlak baginya. Prinsipnya, seorang guru harus jadi penulis, karena dengan menulislah cakrawala dan kemampuan akan terus terasah. Organisasi juga suatu kebutuhan, karena bisa dimanfaatkan untuk bertukar pikiran

Baca Juga

Pimpinan DPD RI Hadiri Peringatan Hari Lahir Pancasila Secara Virtual

Spiritsumbar.com, Jakarta – Nono Sampono menghadiri Peringatan Hari Lahir Pancasila secara virtual di Gedung Nusantara ...