Depan - Berita Pilihan - Perda Pariwisata Padang Panjang Tunggu Evaluasi Gubernur
Islamic Centre, salah satu potensi kuat pariwisata Padang Panjang ke depan.
Islamic Centre, salah satu potensi kuat pariwisata Padang Panjang ke depan.

Perda Pariwisata Padang Panjang Tunggu Evaluasi Gubernur

Print Friendly, PDF & Email

Padang Panjang, Spiritsumbar.com – Disetujui jadi Perda oleh DPRD di penghujung 2020, Ranperda Rencana Pengelolaan Pariwisata Kota Padang Panjang 2020-2025 kini dievaluasi oleh Gubernur Sumatera Barat. Sesuai rencana itu, pengelolaan pariwisata di dibagi 3 klaster, 8 kawasan pengembangan, puluhan objek.

Di antara potensi yang hendak digarap jadi objek wisata itu, profil tokoh nasional (salah satu HAMKA); Islamic Centre; Thawalib, ISI dan sejumlah kampus lain; kuliner; stasiun kereta api; gelanggang pacuan kuda; Air Terjun 7 Tingkek; BBI dan aneka objek agrowisata lain; kalender event dan cable car.

Ketiga klaster potensi pariwisata Padang Panjang itu, seperti terungkap dari bincang Spirit Sumbar dengan Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Porapar) Kota Padang Panjang, Maiharman di kantornya, Januari 2021 ini, yakni wisata alam, wisata sejarah dan wisata hasil buatan manusia.

Pada wisata alam ini, seperti rencana pengelolaan potensi obyek wisata alam Air Terjun 7 Tingkek, Goa Batu Batirai (Goa Batu dalam roman Dibawah Lindungan Ka’bah karya HAMKA). Wisata sejarah, antara lain profil sejumlah tokoh nasional yang pernah tinggal/berkiprah di Padang Panjang di masa lalu.

Di antara tokoh itu, seperti Buya HAMKA yang selain waktu remajanya tinggal di Padang Panjang, setelah dewasa juga salah seorang pendiri Perguruan Muhammadiyah yang berpusat di Kauman Padang Panjang sekarang. HAMKA juga tercatat sebagai Kepala Sekolah MA-KMM Kauman Padang Panjang yang pertama (1930-an).

Kedua, ayah HAMKA yakni Haji Abdul Karim Amrullah (HAKA), pendiri Thawalib Padang Panjang, pesantren pola klasikal pertama di tanah air. Thawalib jadi inspirasi pendirian pesantren sejenis di tanah air. Salah satunya Pesantren Gontor yang didirikan oleh Zarkasih Nur, alumni KUI (Aliyah) Thawalib Padang Panjang.

Berikut, St.Syahrir (Perdana Menteri RI), AR.St.Mansur (Pimpinan Muhammadiyah pusat), Dt.Palimo Kayo (mantan Dubes di Timur Tengah), Bustanil Arifin (mantan Menteri Koperasi), Rahmah El Yunusiyah (pendiri Diniyah Putri, anggota DPR-GR), dan Tarmizi Thaher (Menteri Agama, Dubes di Oslo).

Kadis Porapar Kota Padang Panjang, Maiharman
Kadis Porapar Kota Padang Panjang, Maiharman

Sedang pada klaster wisata buatan manusia, Maiharman didampingi Sekretaris Hendra Putra, antara lain cable car dan revitalisasi Rest Area. Dewasa ini obyek wisata buatan manusia dimiliki Kota Padang Panjang seperti Mifan Water Park, dan PDIKM (Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau).   

Di luar tiga klaster tadi, dalam Ranperda itu terdapat 8 rencana kawasan pengembangan pariwisata kota (KPPK). Rinciannya, terdiri;

1.Wisata berlatar-belakang kearifan lokal,

2.Wisata pertanian

3.Wisata petualangan ringan

4.Wisata permainan air

5. Wisata pusat budaya Islam

6. Wisata pendidikan seni

7. Wisata festival

8. Wisata kuliner

Pada 8 KPPK itu, seperti pada wisata berlatar-belakang kearifan lokal, salah satu contoh atraksi budaya serak bareh kunyik kepada marapulai saat akan menaiki rumah gadang. Pada wisata petualangan ringan, seperti lintas alam menyusuri aliran sungai Air Terjun 7 Tingkek. Pada wisata permainan air, seperti river tubing.

Pasar Kuliner Padang Panjang, di tepi Jalan Raya Padang/Bukittinggi- Solok
Pasar Kuliner Padang Panjang, di tepi Jalan Raya Padang/Bukittinggi- Solok

Terus pada pusat budaya Islam, pendidikan seni dan festival, potensinya kolaborasi Institut Seni Indonesia (ISI), budaya Minangkabau yang berlandaskan Islam, dan kebudayaan Islam yang hidup lewat pesantren/madrasah. Lewat kolaborasi relatif banyak budaya Islam bisa disuguhkan sebagai daya tarik wisata.

Sedang pada festival, Kota Padang Panjang ke depan akan berupaya menyiapkan kalender event seni budaya, olahraga dan seminar. Dari catatan Spirit Sumbar, di bidang seni, di kota ini selain kerap berlangsung festival tari tingkat nasional, ASEAN dan dunia, juga festival musik tradisi, dan panggung teater Sumatera/nasional.

Terkait festival tari internasional, salah satu seperti WSDF (West Sumatera Dance Festival) pada 2005. Festival ini memang bernama lokal, tapi pesertanya terdiri 7 koreografer Sumbar dan 7 koreografer luar negeri (dari Breda Belanda, Fiji, Korea Selatan, Filipina, Thailand, Malaysia dan Singapore).(yet/jym).–

 

Profil Yetti Harni

mm

Baca Juga

Bright Gas Bersinergi Dengan UMKM Randang Payakumbuh Menuju Go Digital

Rangkaian Kampanye City of Randang SPIRITSUMBAR.com, Padang – Sebanyak 40 UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan ...