Depan - Headline - Penantian Panjang Nagari Saro-Aro, Aspal Tipis Pelipur Lara
Seorang warga seakan sedih melihat jalan utama Nagari Siaro-Aro yang hanya diaspal setebal kerikil dan sudah mulai terlihat cor jalan yang menjadi alas aspal
Seorang warga seakan sedih melihat jalan utama Nagari Siaro-Aro yang hanya diaspal setebal kerikil dan sudah mulai terlihat cor jalan yang menjadi alas aspal

Penantian Panjang Nagari Saro-Aro, Aspal Tipis Pelipur Lara

Print Friendly, PDF & Email

Laporan Eri

Spiritsumbar.com, Solok – Siaro-aro, hanyalah sebuah nagari di perbatasan Kabupaten Solok dengan Kota Sawahlunto dan Kabupaten Sijunjung. Salah satu nagari di Kecamatan IX Koto Sungai Lasi , Kabupaten Solok, Provinsi Sumatera Barat yang berpenduduk 80 KK ini baru bisa memiliki jalan beraspal setelah kemerdekaan Indonesia berusia 73 tahun. Kehadiran jalan beraspal hotmix itu disambut dengan suka cita anak remaja sekaligus senyum kecut elit nagari.

Betapa tidak, jalan itu telah diimpikan masyarakat sejak puluhan tahun lalu. Beragam cara dan beragam lobi telah ditempuh warga agar nagari memiliki akses jalan yang baik. Mulai dari pernyataan tidak akan minta kue pembangunan apa pun selain akses jalan kepada Pemerintah Kabupaten Solok  sampai mengeluarkan ancaman akan keluar dari Kabupaten Solok dan bergabung dengan Kota Sawahlunto.

Ketika alat berat memasuki nagari Siaro-Aro masyarakat bersorak kegirangan dan merasa diri mereka telah merdeka dalam arti sesungguhnya. Seluruh karyawan PT  Arpex Prima Damor yang mengerjakan jalan disambut bak pahlawan pulang dari medan perjuangan. Bahkan mereka dianggap sebagai saudara kandung sendiri.

Namun sangat disayangkan, kehangatan,kekaraban dan saling menghormati itu tak berlansung lama. Setelah pekerjaan jalan selesai masyarakat mulai kecewa dan merasa harga diri mereka dinjak-injak. Mereka kembali merasa orang pinggiran yang dipinggirkan dan gampang ditipu. Jalan mulus yang mereka impikan sejak lama itu ternyata hanya aspal tipis setebal kerikil.

Para elit nagari kecewa berat dan menumpahkan kekecewaan itu kepada Wakil Bupat Solok, Yulfadri Nurdin. Semua keluh kesah disampaikan lewat telepon selular dan Sang Wabup pun memberi tanggapan positif.

Dua hari berselang setelah keluh kesah disampaikan, dua staf wabub datang mencek kebenaran. Sepuluh hari setelah itu, jalan kembali diperbaiki dan masyarakat kembali ceria. Keceriaan itu pun juga tak lama,karena perbaikan yang dilakukan itu tak lebih dari sekedar pelipur lara, aspal tetap tipis dan lebih merupakan kerikil lepas berlumur aspal.

Ketua Badan Musyawarah Nagari Siaro-aro, Edi Samar di Siaro-aro, Sabtu (18/8/2018) mengatakan, masyarakat Siaro-aro sangat kecewa dengan kualitas pengerjaan jalan ini. Masyarakat merasa dibodoh-bodohi. Jalan yang dijanjikan setebal 4 cm itu ternyata hanya 1 cm saja. Padahal masyarakat sudah bersusah payah memperjuangkan jalan ini.

Dikatakannya, pembangunan jalan ini selalu menjadi prioritas utama dalam setiap Musrenbang Kecamatan IX Koto Sungai Lasi. Jalan ini tidak hanya diperjuangkan oleh masyarakat Nagari Siaro-Aro saja, akan tetapi juga oleh 9 nagari lainnya yang ada di Kecamatan IX Koto Sungai Lasi. Bahkan jalan ini juga telah diperjuangan oleh beberapa Anggota DPRD Kabupaten Solok.

“Wajar kalau masyarakat Nagari Siaro-Aro kecewa. Sepertinya pihak rekanan pilih kasih dalam membangun jalan ini. Jalan dari Nagari Taruang-Taruang ke Siaro-Aro ini hanya bagus di daerah Taruang-Taruang saja. Semakin ke dalam, kualitas aspal semakin parah. Terutama di depan Kantor Wali Nagari Siaro Aro. Ketebalan aspal hanya setebal jari. Aspal hot mix  hanya menempel tipis diatas jalan cor beton yang dibangun tahun lalu,”ujar Edi Samar.

Lebih jauh dikatakannya, Nagari Siaro Aro mendapatkan alokasi pengaspalan sekitar 5.300 meter atau 5,3 kilometer. Dana pengaspalan ini berasal dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Bidang Bina Marga, Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Solok, dengan anggaran Rp 4.097.535.000. Paket DAK ini dikerjakan oleh kontraktor PT Arpex Primadhamor dan konsultan CV Mega Utama Consultant dengan nomor kontrak 620/259/KPA-BERKALA/DPUPR-2018. Pengerjan jalan dari Tarung Tarung-Siaro Aro ini dilakukan selama 180 hari kelender.

Sementara itu, Sekretaris Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Nagari (LPMN) Siaro Aro, Ardison, menyatakan penebalan dan pengaspalan ulang hanya dilakukan sekitar 50 meter saja. Jika datang musim hujan, besar kemungkinan jalan tersebut akan terkelupas karena rembesan air. Karena di kiri-kanan jalan tersebut, tidak ada drainase. Sehingga, air hujan otomatis akan melewati aspal tersebut dan aspal beton akan berubah menjadi kerikil lepas berlumur aspal. “Bagaimanapun juga kami tetap bersyukur, setidaknya aspal tipis ini telah menjadi pelipur lara. Bagaimana tidak,sejak Indonesia merdeka, baru sekarang kami memiliki jalan aspal. Sekalipun kualitasnya tidak setara dengan perjuangan  kami selama puluhan tahun,” kata Ardison

Berita ini juga bisa dibaca pada versi cetak, The Public Edisi 20/Th.V/21-27 Agustus 2018

Profil Saribulih

mm
Seorang praktisi pers yang juga bergerak dibidang pendidikan. Menulis dan berorganisasi merupakan hal yang mutlak baginya. Prinsipnya, seorang guru harus jadi penulis, karena dengan menulislah cakrawala dan kemampuan akan terus terasah. Organisasi juga suatu kebutuhan, karena bisa dimanfaatkan untuk bertukar pikiran

Baca Juga

Bertekad Tetap Informatif, Pessel Gelar Bimtek Pemeringkatan untuk PPID Pembantu

SPIRITSUMBAR.com, Painan – Agenda besar tahunan yang dilakukan oleh PPID Utama Kabupaten Pesisir Selatan (Kab.Pessel) ...