Senin , 28 September 2020
Beranda - Pendidikan - Artikel - Pembelajaran Dalam Kondisi Khusus
Feri Fren
Feri Fren

Pembelajaran Dalam Kondisi Khusus

Print Friendly, PDF & Email

Oleh : Feri Fren (Widyaiswara LPMP Sumbar)

Baru-baru ini tanggal 4 agustus 2020, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia mengeluarkan Surat Keputusan Nomor 719/P/2020 tentang Pedoman Pelaksanaan Kurikulum Pada Satuan Pendidikan dalam Kondisi Khusus. Kondisi khusus yang dimaksud disini adalah suatu keadaan bencana yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah.

Keputusan ini dikeluarkan dalam rangka memberikan fleksibelitas dalam mengimplementasikan kurikulum di masa pandemi covid-19. Satuan pendidikan harus memperhatikan ketercapaian kompetensi peserta didik dalam kondisi khusus dalam artian sesuai dengan kebutuhan pembelajaran bagi peserta didik.

Pada surat keputusan tersebut juga ditegaskan bahwa bagi guru pada Satuan Pendidikan dalam Kondisi Khusus, ketentuan pemenuhan beban kerja mengajar minimal 24 (dua puluh empat) jam tatap muka dalam satu minggu mendapat pengecualian.

Untuk pelaksanaan pembelajaran pada Satuan Pendidikan dengan menggunakan Kurikulum dalam Kondisi Khusus haruslah memperhatikan usia dan tahap perkembangan peserta didik, capaian kompetensi pada kurikulum, kebermaknaan, serta manfaat. Kesemuanya itu tetap mengacu pada Kurikulum Nasional yang selama ini telah dilaksanakan oleh satuan Pendidikan.

Dalam implementasinya, satuan pendidikan dapat melakukan penyederhanaan kurikulum secara mandiri, namun tidak diwajibkan untuk menuntaskan seluruh capaian kurikulum untuk kenaikan kelas atau kelulusan. Meskipun dalam suasana khusus, pembelajaran tetap dilaksanakan dalam suasana yang aktif, menyenangkan, menciptakan rasa aman, saling menghargai, berorientasi masa depan, percaya dan peduli serta terlepas dari keberagaman latar belakang peserta didik.

Sebelum proses pembelajaran dilaksanakan, sebaiknya dilakukan terlebih dahulu asesmen diagnostik yaitu asesmen yang dilakukan secara spesifik untuk mengidentifikasi kompetensi, kekuatan, kelemahan peserta didik, sehingga pembelajaran dapat dirancang sesuai dengan kompetensi dan kondisi peserta didik. Bagi peserta didik yang hasil asesmen diagnostiknya paling tertinggal diberikan pendampingan belajar secara afirmatif (Penguatan).

Pembelajaran dalam kondisi khusus dilaksanakan secara kontekstual dan bermakna dengan menggunakan berbagai strategi yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi peserta didik, Satuan Pendidikan, dan daerah serta memenuhi prinsip-prinsip pembelajaran.

Menurut Gagne (1977) terdapat 7 (tujuh) prinsip-prinsip pembelajaran yakni pertama, perhatian dan motivasi. Perhatian adalah hal yang sangat penting dalam kegiatan pembelajaran. Seorang guru harus dapat memberikan perhatian kepada setiap peserta didiknya.

Perhatian dapat membuat peserta didik belajar dengan maksimal dan semangat. Perhatian guru dapat membuat peserta didik merasa nyaman, dia akan rela mengerjakan setiap tugas yang diberikan guru. Hal tersebut tidak bisa lepas karena peserta didik merasa bahwa setiap tugas yang diberikan oleh guru adalah untuk kepentingan dirinya. Seperti perhatian yang selalu diberikan oleh guru kepadanya.

Motivasi itu ada dua yaitu motivasi yang datang dari dalam diri peserta didik (interen) dan motivasi dari luar diri peserta didik (exteren). Setiap guru harus bisa memunculkan motivasi-motivasi belajar peserta didik baik yang dari dalam maupun dari luar dirinya. Motivasi dapat muncul dari dalam diri peserta didik bila peserta didik memahami kepentingan yang akan dia peroleh dalam melaksanakan sesuatu hal.

Motivasi eksteren dapat diberikan oleh guru untuk selalu mensuport setiap hal positif yang dilakukan oleh peserta didik.Kedua, keaktifan, menurut pandangan psikologi, anak dilahirkan untuk menjadi aktif. Hal itu dibuktikan dengan gerakan anak ketika dilahirkan untuk pertama kali di dunia ini. Dia akan terus bergerak dan itu adalah filosofi bahwa anak dilahirkan untuk aktif.

Dalam kegiatan pembelajaran, seorang guru harus memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk aktif mencari pengetahuannya sendiri. Banyak para ahli mengatakan bahwa guru adalah fasilitator dari peserta didik atau seseorang yang memfasilitasi peserta didik untuk mencari sendiri pengetahuannya. Pengetahuan tidak di transfer melainkan diperoleh secara aktif oleh peserta didik, sehingga guru harus benar-benar memegang prinsip keaktifan  ini.

Ketiga, keterlibatan langsung atau pengalaman. Pembelajaran yang dilaksanakan guru baik di dalam kelas maupun di luar kelas, harus memperhatikan keterlibatan peserta didik. Bukan hanya satu dua peserta didik saja yang terlibat dalam proses pembelajaran, akan tetapi seluruh peserta didik harus terlibat dalam proses pembelajaran.

Keterlibatan peserta didik dalam belajar akan memberikan pengalaman kepada peserta didik. Beberapa ahli mengatakan bahwa esensi dari proses belajar adalah pengalaman. Peserta didik dikatakan belajar jika dia memperoleh pengalaman dari interaksinya dengan lingkungan.
Keempat, pengulangan, dari wikipedia disebutkan bahwa yang menjadi prinsip pengulangan ini adalah dari teori psikologi daya.

Pada teori belajar daya menilai bahwa pembelajaran adalah proses untuk mengamati, menangkap, mengingat, mengkhayal, berfikir, dan sebagainya. Teori ini beranggapan dengan mengadakan daya yaitu untuk melakukan pengulangan maka kemampuan hasil belajar akan meningkat. Penerapannya dalam proses pembelajaran yang dilakukan guru yaitu jika guru mengajar, peserta didik mencari tahu. Jika hal itu dilakukan hanya sekali, mungkin hasilnya tidak akan maksimal. Hal tersebut akan berkembang jika dilakukan secara berulang-ulang misalnya 3-6 kali yang akan membuat hasil dari belajarnya menjadi lebih baik.

Kelima, tantangan. Proses pembelajaran di kelas membutuhkan tantangan. Konsep ini muncul berdasarkan teori medan yang dikemukakan oleh Kurt Lewin. Teori ini beranggapan bahwa belajar adalah situasi yang dihadapi peserta didik untuk mencapai sesuatu. Hal ini diibaratkan seperti dalam medan perang untuk mencapai tujuan dalam merebut kemenangan. Dalam mencapai tujuan peserta didik akan menemukan hambatan, dan hambatan tersebut harus diatasi. Jika hambatan itu sudah berhasil diselesaikan maka peserta didik akan mencapai tujuan hal itu berarti peserta didik juga telah berhasil mencapai tujuan pembelajaran.

Untuk penerapan dalam proses pembelajaran di kelas, artinya guru harus bisa menjelaskan kepada peserta didik bahwa setiap belajar pasti akan ada hambatan dan tantangan. Peserta didik harus bisa mengtasinya itulah makna belajar untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan.

Keenam, balikan dan penguatan. Dasar dari prinsip ini adalah Hukum Thondrik tentang stimulus dan respon. Peserta didik akan belajar lebih baik jika dia berbuat baik dan mendapatkan reward atau hadiah, sementara jika melakukan kesalahan maka peserta didik harus mendapatkan hukuman agar tidak diulangi lagi. Hukaman disini adalah hukuman yang mendidik.

Ketujuh, perbedaan individual. Setiap peserta didik yang ada di kelas atau di sekolah adalah anak yang lahir dengan berbagai latar belakang. Mereka punya kemampuan dan potensi yang berbeda-beda. Seperti intelegensi, gaya belajar, dukungan orangtua dan lain sebagainya. Setiap anak punya gaya belajar yang berbeda-beda. Hal ini perlu di pahami oleh guru. Karena tidak dapat memberlakukan satu anak sama dengan anak yang lainnya secara adil. Definisi adil bukan memperlakuukan semuanya secara sama, melainkan memperlakukan sesuai dengan hak dan kewajibannya.

Dalam pembelajaran terdapat komponen-komponen yang saling bertinteraksi. Setiap komponen dalam pembelajaran saling terkait antara satu dengan yang lainnya. Hal ini karena komponen pembelajaran adalah sebuah sistem. Seperti komputer, jika salah satu komponen pada komputer rusak atau tidak berjalan dengan baik, maka akan membuat sistem pada komputer itu terganggu. Begitupun dalam proses pembelajaran. JIka terdapat satu saja komponen yang rusak atau tidak berjalan sebagaimana mestinya maka sistem pembelajaran juga akan terganggu.

Oleh sebab itu sangat penting untuk mengerti, memahami dan melaksanakan sistem ini dalam pembelajaran. Apalagi dalam pembelajaran dalam situasi dan kondisi khusus seperti sekarang ini dimana virus corona masih merajalela di setiap tempat, untuk itu kurikulumnya harus disederhanakan karena peserta didik tidak lagi belajar secara tatap muka di sekolah.

Tentang Saribulih

mm
Seorang praktisi pers yang juga bergerak dibidang pendidikan. Menulis dan berorganisasi merupakan hal yang mutlak baginya. Prinsipnya, seorang guru harus jadi penulis, karena dengan menulislah cakrawala dan kemampuan akan terus terasah. Organisasi juga suatu kebutuhan, karena bisa dimanfaatkan untuk bertukar pikiran

Baca Juga

Pameran Bunga Bonsai Pikat Masyarakat Dharmasraya

SPIRITSUMBAR.COM, Dharmasraya – Untuk melestarikan dan menambah pengasilan di masa pandemi covid 19, Ikatan Pencinta ...