Beranda - Pendidikan - Artikel - Paradigma Baru Tugas Kepala Sekolah
Sukirman
Sukirman

Paradigma Baru Tugas Kepala Sekolah

Print Friendly, PDF & Email

Oleh: Sukirman (Widyaiswara Madya LPMP Sumbar)

Tidak bisa dipungkiri, selama ini tugas kepala sekolah belum optimal terlaksana. Ini disebabkan oleh jabatan kepala sekolah yang diposisikan sebagai tugas tambahan (Permendiknas nomor 28 tahun 2010). Karena tugas tambahan, kepala sekolah tidak fokus mengelola sekolah. Tupoksi yang seharusnya optimal dilaksanakan oleh kepala sekolah yaitu memastikan bahwa terjadi pembelajaran yang berkualitas di sekolah tersebut terabaikan.

Menyikapi hal tersebut, pemerintah melalui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan bahwa kepala sekolah tidak lagi tugas tambahan, tetapi tugas utama. Kalaupun, misalnya, kepala sekolah harus mengajar karena kekurangan guru, maka mengajar itu sebagai tugas tambahan.

Ketentuan ini tertuang dalam Permendikbud nomor 6 tahun 2018 tentang Penugasan Guru Sebagai Kepala Sekolah. Dalam Permendikbud itu dijelaskan bahwa kepala sekolah adalah guru yang diberi tugas untuk memimpin dan mengelola satuan pendidikan. Tugas kepala sekolah betul-betul fokus untuk memimpin dan mengelola sekolah.



Waktu kepala sekolah lebih banyak dihabiskan untuk memastikan bahwa terjadi pembelajaran yang berkualitas di sekolah tersebut. Hal-hal yang bersifat administratif, kalau tidak esensial betul, bisa diwakilkan kepada guru atau tenaga kependidikan lainnya.

Agar tugas kepala sekolah lebih terarah, pemerintah melalui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan juga telah merilis aturan baru, yaitu Permendikbud nomor 15 tahun 2018 tentang Pemenuhan Tugas Guru, Kepala Sekolah, dan Pengawas Sekolah. Dalam Permendikbud tersebut dijelaskan bahwa tugas utama kepala sekolah meliputi tiga aspek, yaitu manajerial, kewirausahaan, dan supervisi kepada guru dan tenaga kependidikan.

Saat ini tugas kepala sekolah harus difokuskan untuk memimpin dan mengelola sekolah. Kepala sekolah memastikan bahwa Standar Nasional Pendidikan (SNP) betul-betul diacu dalam peningkatan mutu sekolah, sehingga SNP itu bisa dicapai. Kemudian, kepala sekolah juga harus berjiwa kewirausahaan sehingga bisa memupuk dan mengembangkan jiwa kewirausahaan dalam meningkatkan mutu sekolah. Terobosan-terobosan baru dalam meningkatkan mutu harus muncul di sekolah.

Selanjutnya, supervisi kepada guru dan tenaga kependidikan harus jalan. Tidak hanya sebatas slogan atau program. Kalau, kepala sekolah punya program supervisi, maka program itu harus dilaksanakan. Hasil dari supervisi itu harus ditindaklanjuti dalam rangka meningkatkan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan.

Itulah sekilas paradigma baru kepala sekolah. Peningkatan mutu sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi. Sudah harus menjadi fokus kepala sekolah. Tuntutan terhadap mutu semakin lama semakin tinggi. Untuk itu, paradigma kepala sekolah harus diubah dari yang semula lebih bersifat administratif kepada penjaminan dan peningkatan mutu sekolah.

Tip & Trik

loading…


 

Tentang Saribulih

mm
Seorang praktisi pers yang juga bergerak dibidang pendidikan. Menulis dan berorganisasi merupakan hal yang mutlak baginya. Prinsipnya, seorang guru harus jadi penulis, karena dengan menulislah cakrawala dan kemampuan akan terus terasah. Organisasi juga suatu kebutuhan, karena bisa dimanfaatkan untuk bertukar pikiran

Baca Juga

Hari Santri, PWNU Sumbar Hadirkan Cak Imin dan Maidir Harun

SPIRITSUMBAR.COM, Padang – Memeriahkan Hari Santri yang jatuh setiap tanggal 22 Oktober setiap tahunnya, Pengurus ...