Beranda - Pendidikan - Artikel - Nilai Karakter Dimanakah
Feri Fren
Feri Fren

Nilai Karakter Dimanakah

Print Friendly, PDF & Email

Oleh : Feri Fren (Widyaiswara LPMP Sumatera Barat)

Perih hati ini rasanya serasa disayat sembilu ketika melihat sebuah tayangan video singkat dengan durasi 2 menit 53 detik yang baru-baru ini viral di media sosial dan televisi.

Terlepas dari bagaimana keadaan sebelumnya yang terjadi dengan kondisi real, yang jelas dalam tayangan video tersebut kita dapat melihat betapa sedihnya kita melihat seorang nenek yang sudah tua renta hidup terlantar sebatang kara, dengan kondisi yang sangat memprihatinkan.

Lebih lanjut cerita dalam video itu memperlihatkan sang nenek hidup seorang diri tanpa ditemani oleh sanak keluarga di sebuah gubuk reot yang tidak layak huni. Atap dan dinding gubuk tempat sang nenek tinggal sudah pada bocor dengan berlantaikan tanah. Mungkin ini salah satu dari sekian banyak pemandangan dari implementasi nilai-nilai karakter yang tidak baik yang terjadi di tengah-tengah masyarakat kita.



Akan tetapi yang selebihnya itu tidak muncul ke permukaan. Berbeda dengan kasus yang satu ini, dikarenakan sudah muncul ke permukaan bahkan sempat viral di media sosial dan media elektronik, tentu menjadikan semua mata tersentak dan ikut prihatin dengan kejadian ini.

Dahulu kala, cerita-cerita seperti ini hanya kita kenal sebagai sebuah dongeng atau legenda-legenda yang disampaikan sebagai pengantar tidur oleh orangtua kepada anaknya dalam rangka menanamkan nilai-nilai karakter positif. Supaya setelah mereka dewasa nanti anaknya bisa menjadi orang yang baik dan berbakti kepada kedua orang tuanya.

Diantara ceritanya adalah cerita malin kundang sebagai anak yang durhaka, cerita batu menangis, batu belah, gunung tangkuban perahu, kancil dan buaya, dan banyak lagi cerita-cerita lainnya yang disampaikan dalam rangka menanamkan nilai-nilai karakter positif kepada anak. Legenda-legenda tersebut bahkan ada yang diangkat ke layar lebar oleh sutradara film dan dipertontokan kepada masyarakat luas untuk diambil hikmahnya.

Akan tetapi pada saat ini sangat banyak sekali kisah-kisah tersebut sudah tampak nyata di dalam kehidupan masyarakat kita seperti tayangan video yang kita lihat. Menurut akal sehat kita rasanya tidak mungkinlah seorang anak atau sanak keluarga dekat begitu tega membiarkan dan menelantarkan orangtuanya yang sudah lanjut usia hidup sebatang kara. Bahkan orangtua tersebut hidup dari belas kasihan orang lain, sementara anak dan keluarganya hidup dalam keadaan yang layak.



Tidak bisa pula kita pungkiri, ditengah tergerusnya nilai-nilai karakter karena berbagai faktor hal itu bisa saja terjadi. Namun kalau memang kasus tersebut benar-benar terjadi, tentu timbul pula pertanyaan bagi kita ada apa sebenarnya dengan implementasi nilai-nilai karakter kita yang selama ini selalu kita dengung-dengungkan itu.

Sebagaimana yang kita ketahui Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) sudah ditegaskan pula oleh pemerintah melalui Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017. Di sekolah, guru dituntut untuk melakukan penguatan nilai-nilai karakter kepada peserta didiknya dengan terlebih dahulu menginternalisasikan nilai-nilai utama PPK dalam kehidupan seperti religiusitas, nasionalisme, mandiri, gotong-royang dan integritas dalam setiap kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan.

Dalam mengimplementasikannya ada tiga strategi yang bisa dilakukan guru yakni pendidikan karakter berbasis kelas, pendidikan karakter berbasis budaya sekolah, dan pendidikan karakter berbasis masyarakat.

Saat ini, penguatan pendidikan karakter menjadi semakin mendesak untuk diprioritaskan, Guru sebagai garda terdepan di sekolah harus dapat memberikan contoh teladan dalam mengimplementasikan nilai-nilai karakter tersebut. Guru dapat memilih bagian dari mata pelajarannya atau tema pelajaran untuk diintegrasikan dengan pengembangan karakter peserta didik. Metode belajar yang dipilihpun dapat menjadi media pengembangan nilai-nilai karakter. Ketika mengelola kelas guru berkesempatan untuk mengembangkan nilai-nilai karakter melalui tindakan dan tutur katanya selama proses pembelajaran berlangsung.

Perilaku guru akan memberikan warna terhadap karakter peserta didik. Pembentukan sikap seseorang sangat di warnai oleh pandangan seseorang terhadap orang lain atau obyek di luar dirinya, juga bagaimana cara ia memandang orang atau obyek tersebut, yang lazim di sebut : “ dunia kognitif seseorang. ”(Kreck). Di sekolah peserta didik memandang sikap dan perilaku gurunya untuk dijadikan contoh dalam menjalankan hidupnya di tengah-tengah masyarakat.

Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) berbasis budaya sekolah memotret berbagai macam bentuk pembiasaan, model tata kelola sekolah, termasuk di dalamnya pengembangan peraturan dan regulasi yang mendukung PPK. Proses pembudayaan menjadi sangat penting dalam penguatan pendidikan karakter karena dapat memberikan atau membangun nilai-nilai luhur kepada peserta didik. Strategi membangun budaya sekolah dalam internalisasi nilai-nilai utama PPK dapat dilakukan melalui kegiatan rutin, kegiatan spontan, kegiatan teladan, dan kegiatan terprogram.

Kegiatan-kegiatan tersebut di antaranya adalah gerakan literasi (membaca buku non pelajaran 15 menit sebelum memulai pelajaran), berbagai macam kegiatan esktrakurikuler, membuat tata tertib sekolah yang adil, demokratis, dan edukatif.

Keberhasilan pendidikan karakter bergantung juga pada kemitraan yang sinergis antara para pelaku pendidikan yakni keluarga, sekolah, dan masyarakat. Pondasi pendidikan karakter sebagaimana yang digarisbawahi oleh Ki Hajar Dewantara diletakkan oleh keluarga sebagai pendidik yang pertama dan utama. Namun demikian, lingkungan masyarakat juga sangat mempengaruhi keberhasilannya. Apabila masih ada kita lihat keluarga yang tidak memperhatikan sanak keluarganya tentu timbul pula pertanyaan bagi kita dimanakah letak implementasi nilai-nilai karakter yang selama ini kita pelajari dan yang sudah kita ajarkan kepada orang lain.

Tip & Trik

loading…


Tentang Saribulih

mm
Seorang praktisi pers yang juga bergerak dibidang pendidikan. Menulis dan berorganisasi merupakan hal yang mutlak baginya. Prinsipnya, seorang guru harus jadi penulis, karena dengan menulislah cakrawala dan kemampuan akan terus terasah. Organisasi juga suatu kebutuhan, karena bisa dimanfaatkan untuk bertukar pikiran

Baca Juga

Simpan Sabu dan Ekstasi Dalam Kotak Rokok, Dua Pemuda pengangguran Diringkus Polisi

Spiritsumbar.com,Solok– Satuan Resnarkoba Polres Solok Kota  meringkus dua pemuda pengangguran yang menyimpan Narkotika jenis sabu ...