Sabtu , 25 September 2021
Depan - Berita Pilihan - Menulis Dalam Rangka Ibadah
Rikotmi Hasindi
Rikotmi Hasindi

Menulis Dalam Rangka Ibadah

Print Friendly, PDF & Email

Oleh : Rikotmi Hasindi (Guru UPTD SMPN 1 Kec. Luak)

Beribadah dengan cara memberikan ilmu kepada orang lain. Bukan saja dengan jalan mengajarkan ilmu tesebut secara lisan didalam kelas akan tetapi beribadah bisa pula kita lakukan melalui menyebarkan ilmu pengetahuan lewat menulis.

Dengan menulis kita sesungguhnya menyebarkan ilmu pengetahuan dengan cara yang bertahan lama bila dibandingkan dengan mengajarkannya dengan cara menjarkan ilmu secara lisan didalam kelas. Mengajar didalam kelas bagi guru juga merupakan ibadah. Mengajar dengan cara menulis artikel, membuat buku, membuat bahan ajar atau menulis lainnya juga merupakan ibadah.

Menulis bagi guru adalah memenuhi angka kredit apabila naik pangkat yang termasuk kepada unsur utama bagian pengembangan profesi di publikasi ilmiah atau karya inovatif. Disamping itu menulis bagi guru juga bisa menjadi ladang ibadah atau memperluas pelaksanaan ibadah.



Mencintai menulis berarti mencintai untuk beribadah. Karena dengan menulis ibadah yang dilakukan akan selalu mengalirkan pahala kepada penulisnya. Selama tulisan yang ditulis tersebut dibaca oleh orang lain. Dan orang lain mengamalkan apa yang ditulisnya tentunya manfaat ilmu yang diberikan dalam sebuah tulisan masih mengalir sekalipun penulisnya sudah tiada.

Menebarkan ilmu pengetahuan dengan cara menulis adalah cara yang amat menguntungkan bagi guru. Karena dengan menulis, tulisan tersebut akan bisa dibaca setelah guru tersebut sudah tiada. Akan menjadi amalan tidak putus, tetap mengalir nantinya. Seperti yang dicantumkan didalam hadist Rasulullah Saw:

Dari Abu Hurairah r.a . Rasulullah Saw bersabda: “ Apabila mati anak adam maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara: sedekah jariayah, ilmu yang bermamfaat, dan anak yang sholeh yang mendoakannya (HR Muslim).

Jadi dari hadist tersebut jelaslah bahwa ilmu yang bermamfaat akan menjadi amalan yang tiada putusnya nanti apabila seseorang telah meninggal dunia. Ilmu bermanfaat tersebut bukan saja bisa disampaikan oleh guru di dalam kelas. Malahan akan lebih tahan lama apabila dituliskan guru melalui tulisan-tulisan yang dipublikasikannya. Disamping pemenuhan angka kredit untuk kenaikan pangkat.

Guru yang suka menulis bisa dipastikan guru tersebut adalah guru yang suka membaca. Sebab menulis dan membaca dua sisi yang saling mengisi , yang saling bergandengan , sejalan untuk saling mencintai.

Sedangkan guru yang suka membaca belum tentu guru yang suka menulis. Maka guru yang suka menulis adalah guru yang mampu melihat perkembangan zaman dan mampu untuk beribadah tanpa putus-putusnya sekalipun sudah meninggal dunia.

Melalui menulis yang diniatkan untuk beribadah kepada Allah Swt dengan memberikan ilmu kepada orang lain maka akan Allah memberikan kemudahan-kemudahan yang terkadang tak terduga.

Memang banyak motivasi seseorang didalam melaksanakan menulis. Ada yang motivasinya untuk beribadah, ada ingin yang dikenal orang, ada yang mencari uang dengan hasil karyanya, dan lain sebagainya. Tetapi, lebih baik menulis dijadikan amalan yang tidak putus-putusnya, yang tetap mengalir sampai keliang lahat, menjadi penerang , penolong ketika di dalam kubur nantinya.

Menurut Fatima mernissi dan Pannebaker dalam buku menulis dengan hati membangun motivasi menulis karangan Ismail Kusmayadi ada beberapa point manfaat menulis yang dapat diberikan dari kegiatan menulis tersebut, yaitu: menulis sebagai media dakwah. Menulis dapat mengubah sesuatu . Menulis dapat menambah penghasilan. Menulis menunjang karier. Menulis warisan tak ternilai harganya.

Jadi , seharusnya kegiatan menulis dipupuk agar mengahasilkan permata didalam kehidupan. Keinginan yang kuat adalah kunci untuk menulis, tanpa ada keinginan kuat untuk membuat sebuah tulisan tentunya tidak akan menjadi penulis yang mampu untuk produktif , dengan menghasilkan karya-karya yang barangkali bisa merubah kehidupan.

Permasalahan yang sering didengar untuk melakukan kegiatan menulis dari teman-teman adalah tidak punya waktu untuk menulis, tidak punya ide untuk menulis, dan permasalahan-permasalahan lain seperti permasalahan orang lain pada umumnya, yang membuat tidak kunjung memulainya membuat tulisan.

Permasalahan-permasalahan tersebut sesungguhnya yang bisa mengacurkan adalah diri mereka sendiri. Hamabatan-hambatan tersebut tidak akan hilang atau habis apabila tidak memulai untuk menulis. Sebagai solusinya adalah “ lakukan menulis , menulis dan menulis ” untuk mengasah keterampilan menulis dengan niat beribadah kepada Allah Swt. Sehingga apa yang kita tulis bermamfaat bagi orang lain.

Pada awalnya memang terasa berat untuk menulis tetapi ketika kita sudah disiplin untuk menulis hambatan-hambatan tersebut hilang begitu saja. Pengalaman yang pernah penulis rasakan yaitu untuk membuat satu artikel membutuhkan waktu satu minggu. Jadi, menulis butuh kesabaran dan berniat membuat tulisan dalam rangka beribadah kepada Allah Swt.

Kita harus punya komitmen untuk menjadikan menulis tersebut sebagai ibadah kepada Allah Swt dengan tujuan bagaiamana kita bisa ikhlas untuk berbuat. Dengan keikhlasan yang kita tujukkan dalam hati , semoga Allah membalasnya dengan pahala yang berlipat ganda. Semoga tulisan ini bisa bermamfaat dan memberikan inspirasi bagi pembaca. Amin…

Tip & Trik

loading…


 

Profil Saribulih

mm
Seorang praktisi pers yang juga bergerak dibidang pendidikan. Menulis dan berorganisasi merupakan hal yang mutlak baginya. Prinsipnya, seorang guru harus jadi penulis, karena dengan menulislah cakrawala dan kemampuan akan terus terasah. Organisasi juga suatu kebutuhan, karena bisa dimanfaatkan untuk bertukar pikiran

Baca Juga

PON XX Papua 2021, Kontingen Sumbar : Papua Sangat Kondusif

SPIRITSUMBAR.com, Papua – Kondisi empat kluster kota dan kabupaten pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON) XX ...