Kamis , 23 September 2021
Depan - Berita Pilihan - Mencabik Jilbab dari SMK 2 Padang

Mencabik Jilbab dari SMK 2 Padang

Print Friendly, PDF & Email

Oleh : Saribulih

Lebih 15 tahun berlalu, tatkala SMA/SMK masih menjadi kewenangan pemerintah kabupaten /kota. Semua adem ayem, mengikuti aturan. Dalam arti, pihak minoritas menerima apa adanya telah digariskan mayoritas.

Memang, tak ada yang mesti diributkan. Jilbab tidak akan merubah akidah atau keyakinan seseorang. Jilbab, hanyalah pakaian yang menutup aurat perempuan. Agar, pihak lelaki tidak jelalatan.

Secara langsung menutup tubuh secara utuh (bagi yang alergi istilah jilbab), justru akan menyelamatkan diri dari tindakan pelecehan seksual. Betapa sopannya mereka yang berjilbab. Karena, tidak ada aurat yang bisa dipertontonkan. Betapa, anggunnya mereka yang berjilbab, karena memunculkan pandangan dengan syahwat.

Bukankah, semua agama melarang adanya perzinahan, apalagi pemerkosaan. Tanpa adanya tubuh sensual akan diyakini tak bakalan ada pemerkosaan. Begitu, juga dengan perzinaan akan berkurang lantaran tak ada rangsangan awal dari pandangan. Jadi, untuk apa meributkan jilbab.



Bahkan, sebagaimana dilansir republika, Alumni SMKN 2 Padang, Delima Febria Hutabarat, mengaku heran isu aturan menggunakan jilbab sekarang dipertentangan. Delima yang merupakan seorang non-Muslim merasa selama sekolah di SMKN 2 Padang sejak 2008 – 2011 merasa tidak pernah ada perbedaan.

Delima merasa lingkungan sekolahnya dulu tidak pernah mempersoalkan perbedaan agama dan aturan berpakaian Muslim di sekolah. Meski demi mengaku selama di SMKN 2 Padang, ia tidak merasa keberatan dengan aturan sekolah harus memakai rok panjang, baju kurung lengan panjang dan memakai kerudung.

Sekolah tidak memaksakan harus memakai jilbab. Dan guru-guru kami itu sangat menghormati perbedaan agama dan keyakinan. Makanya heran kenapa sekarang heboh-heboh mengenai aturan pakaian,” kata Delima, Ahad (24/1/2021).

Delima mengatakan dia adalah penganut Nasrani. Karena itu tidak ada aturan dalam agamanya harus menggunakan jilbab. Tapi Delima merasa dulu waktu masih sekolah, ia tidak keberatan memakai pakaian seragam baju kurung, rok panjang dan pakai jilbab. Karena menurut dia, memakai pakaian yang identik dengan pakaian Muslim tidak mengubah keyakinan dan kepercayaan terhadap agama yang ia anut. “Tidak masalah memakai jilbab selagi tidak merusak keimanan. Cuma menutup kepala kan bukan berarti keimanan jadi berubah,” ujar Delima.

Ketika baru masuk SMKN 2 Padang tahun 2008 lalu, orang tua Delima memang sempat mempertanyakan kenapa dirinya memakai jilbab. Tapi Delima meyakinkan orang tuanya bahwa semua murid di sekolahnya memakai pakaian berjilbab sehingga ia juga ingin seragam dengan teman-teman yang lain.

Selain mengenai berpakaian, Delima dan teman-temannya juga tidak pernah merasa risih bila ada acara-acara keagamaan mayoritas di SMKN 2 Padang. Karena para guru memberi kebebasan bagi siswa-siswi non Muslim untuk ikut atau tidak. “Guru-guru memberi kebebasan (kepada kami non-Muslim). Sehingga tidak ada kami dulu yang merasa didiskriminasi,” kata Delima menambahkan.

Kepala SMKN 2 Padang, Rusmadi juga mengatakan hal sama. Menurutnya, tidak ada pemaksaan non muslim harus berjilbab. Surat pernyataan itu ujarnya, hanya untuk muslimah. Namun, ujarnya non muslim memang ada yang menandatangani. Mereka ikut, hanya untuk keseragaman. ” Untuk non muslim tidak dipaksakan. Tapi, sampai saat ini semua ikut menandatangani,” ujarnya melalui seluler, Sabtu (23/1/2021)

Rusmadi mengaku, persoalan ini mengemuka saat ada siswi yang tampil berbeda. Maka dipanggil oleh Guru BK. Malahan, siswi ngotot ingin mendatangkan orang tuanya ke sekolah.”Kehadiran orang tua siswi tersebut diterima wakil kepala sekolah. Saat bertemu dengan wakil kepala itulah perekaman itu terjadi. Namun, saya tidak ingin hal ini menjadi polemik dan hanya fokus untuk penyelesaian,” ujarnya.

Menariknya, persoalan di SMKN 2 Padang menjadi bola liar. Berbagai pihak yang memiliki kepentingan terselubung berupaya menggoreng dengan aneka ragam bumbu. Malahan, yang tidak bisa menggoreng ikut berupaya mengambil peran. Mereka seperti punya target agar Jilbab tercabik dari Ranah Minang. Semua telah dimulai dari SMK 2 Padang.

Padahal pendidikan juga bagian dari otonomi daerah. Mestinya, mereka menghargai kearifan lokal, seperti Bali, Yogyakarta, Papua dan sebagainya.

Tapi, yang terjadi justru sebaliknya. Mengkoyak kearifan lokal Ranah Minang. Yang dilempar oleh orang yang mengaku menjunjung tinggi Pancasila atau Pancasilais. Bukankah, kearifan lokal juga bagian dari penjabaran butir Pancasila. Bukankah kita disuruh beradab yakni sopan, bertatakrama. Baik tindak tanduk maupun cara berpakaian yang menutup aurat. Agar terhindar dari nafsu bejad.

Bahkan dalam Islam, kita kerap mendengar zina mata, zina tangan, zina kaki, zina mulut (zina majazi) selain zina tentu saja dengan alat kelamin (zina hakiki).

Semua praktik zina itu disebutkan oleh Rasulullah SAW dalam hadits sebagaimana dirawi Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud. Pada hadits ini, Rasulullah SAW menyatakan bahwa setiap anak adam ditakdirkan berzina melalui organ-organ tubuh tersebut.

Rasulullah SAW bersabda, ‘Allah telah menakdirkan anak Adam sebagian dari zina yang akan dialaminya, bukan mustahil. Zina kedua mata adalah melihat. Zina mulut adalah berkata. Zina hati adalah berharap dan berkeinginan. Sedangkan alat kelamin itu membuktikannya atau mendustakannya,’” (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud).

Meski zina majazi (zina mata, zina tangan, zina mulut, zina kaki) disebutkan sebagai dosa kecil, kita tidak boleh meremehkan dosa tersebut karena zina majazi ini dapat mengantarkan orang terperosok ke dalam zina hakiki.

Tip & Trik

loading…


 

Profil Saribulih

mm
Seorang praktisi pers yang juga bergerak dibidang pendidikan. Menulis dan berorganisasi merupakan hal yang mutlak baginya. Prinsipnya, seorang guru harus jadi penulis, karena dengan menulislah cakrawala dan kemampuan akan terus terasah. Organisasi juga suatu kebutuhan, karena bisa dimanfaatkan untuk bertukar pikiran

Baca Juga

Bertekad Tetap Informatif, Pessel Gelar Bimtek Pemeringkatan untuk PPID Pembantu

SPIRITSUMBAR.com, Painan – Agenda besar tahunan yang dilakukan oleh PPID Utama Kabupaten Pesisir Selatan (Kab.Pessel) ...