Senin , 27 September 2021
Depan - Pendidikan - Artikel - Membangun Sekolah Ramah Kritik
Rahmat Hidayat
Rahmat Hidayat

Membangun Sekolah Ramah Kritik

Print Friendly, PDF & Email

Oleh : Rahmat Hidayat (Guru SMPN 2 Sipora)

Aksi unjuk rasa siswa di Sekolah yang menuntut mundur kepala sekolah tak jarang kita dengar. Aksi siswa tersebut menjadi perhatian public, khususnya insan pendidikan.

Penyelesaian persoaloan diatas, bak mengambil rambut dalam tepung. Aagar lebih berimbang persoalan aksi unjuk rasa siwa diatas harus disigi dari berbagai segi

Pertama, keberanian siswa dan wali murid melakukan unjuk rasa adalah ekpresi dari kebebasan menyampaikan pendapat. Puncak dari ungkapan kekecewaan terhadap kepala sekolah.

Pun, salah satu penekanan revisi kurikulum 2013 terbaru adalah bagaimana siswa terbiasa berpikir kritis. Kebebasan menyampaikan pendapat yang dipahami sebagai satu kemajuan dalam demokrasi yang sejalan dengan semangat reformasi.

Aksi unjuk rasa siswa hari ini menunjukan bahwa tidak saja mahasiswa sebagai kaum intelektual yang berani melakukan aksi unjuk rasa. Spirit perjuangan mahasiswa seiring waktu sudah bertransformasi kepada siswa SMA dan SMP saat ini.

Transparansi menjadi salah satu pemicu aksi demonstrasi. Hari ini kita menginginkan sekolah yang tidak alergi dengan kirtik. Ketika kebijakan sekolah dimulai dan dilaksanakan dengan cara transparan maka kepala sekolah mestinya tidak perlu takut memberikan pertanggungjawaban kepada atasan dan warga sekolah.

Generasi 4.0 yang ditandai dengan penggunaan dan penguasan teknolgi media sosial, dimana informasi bisa didapat dimana dan kapan saja. hal ini berimplikasi kepada meningkatnya kecerdasan siswa. Akhirnya akan mengencangkan teriakan siswa atas rasa ketidakadilan yang ada disekitarnya. Artinya, kini warga sekolah tidak lagi bisa di bodoh bodohi.

Pembungkaman dalam menyampaikan pendapat terhadap mahasiswa pada rezim otoriter orde baru melalui kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK). Inti Kebijakan tersebut untuk “mematikan” daya kritis mahasiswa terhadap pemerintah.

Belajar dari masa lalu, sikap kritis pelajar hari ini jangan sampai pula dibungkam oleh kepala sekolah atau penguasa hari ini. Apapun itu namanya keberanian pelajar ini harus dilihat menjadi satu langkah maju dalam berdemokrasi.

Kedua, kebebasan yang didambakan tentunya bukan kebebasan yang salah kaprah. Belajar yang membebaskan bukan berarti bebas tanpa arah. Sikap siswa yang secara psikologis cendrung meniru, wujud dari pencarian jati diri.
Kita berharap aksi unjuk rasa yang dilakukan siswa diatas tidak berimbas ke sekolah lain.

Bagaimanapun jika hal ini berimbas secara massif maka akan banyak rugi dari pada untungnya. Bagaimana mungkin hal ini tidak bisa terjadi, maraknya tawuwan antar siswa menjadi tren dikalangan siswa.

Kita semua sepakat jangan sampai karena nila setitik rusak susu sebelanga, gara gara satu dua orang kepala sekolah yang berbuat, runtuh wibawa guru dan kepala sekolah yang lain. Masih banyak guru yang baik di negeri ini yang patut di gugu dan di tiru. Seperti kisah pengabdian Oemar Bakri, cerita tentang Butet Manurung yang mendidik anak pedalaman dengan sokolah rimbanya.

Wibawa seorang kepala sekolah akan terihat dari seberapa tinggi penghormatan yang diberikan oleh siswanya. Kopiah Bapak Kepala sekolah yang sengaja ditinggal diatas meja piket dekat tempat masuk dan keluar warga sekolah sudah dapat mengendalikan ketertiban sekolah dan sekolah dapat berjalan dengan normal. Begitu kuatnya pengaruh dan tingginya wibawa seorang kepala sekolah dimata siswanya. Itu zaman dulu.

Sekolah membutuhkan kehangatan, keharmonisaan, kekeluargaan. Mendidik merupakan upaya membangun peradaban. Harus ditangani dengan cara manusiawi, sadar, terencana, dan terukur dengan baik. Komunikasi dua arah menjadi penting agar tidak ada saling curiga.

Rasa senasib sepenanggungan, yang mengurat mengakar di sanubari warga sekolah akibat sehatnya hubungan yang dibangun akan menjadi benteng dalam mengahadapi tantangan. Jika hal ini sudah melekat kuat dihati warga sekolah. Jangankan ada yang mendemo kepala sekolah, seekor nyamuk saja tidak akan mereka biarkan menggigit Kepala Sekolah. Selamat berbenah.

Profil Saribulih

mm
Seorang praktisi pers yang juga bergerak dibidang pendidikan. Menulis dan berorganisasi merupakan hal yang mutlak baginya. Prinsipnya, seorang guru harus jadi penulis, karena dengan menulislah cakrawala dan kemampuan akan terus terasah. Organisasi juga suatu kebutuhan, karena bisa dimanfaatkan untuk bertukar pikiran

Baca Juga

Ini atlet Apriana Nasution yang turun pada nomor boulder perorangan putri

Panjat Tebing PON XX Papua, Tiga Atlet Sumbar Lolos pada Babak Kualifikasi

SPIRITSUMBAR.com, Mimika – Tiga atlet panjat tebing Sumatera Barat berhasil lolos pada babak kualifikasi pada ...