Senin , 28 September 2020
Beranda - Pendidikan - Artikel - Membaca Kunci Sumber Daya Manusia
Delvia Roza
Delvia Roza

Membaca Kunci Sumber Daya Manusia

Print Friendly, PDF & Email

Oleh: Delvia Roza (Guru SDN.01 Tanjung Paku Kota Solok)

Penyebaran informasi melalui media telektonik di era kekinian semakin mendapat perhatian dari berbagai lapisan masyarakat, baik dari kalangan intelektual maupun rakyat biasa.

Kemampuan untuk memperoleh informasi melalui media elektronik tersebut begitu mudah didapatkan. Media-media sosial saat ini sudah menyatu dengan kehidupan, seperti media elektronik (Instagram, Televisi, Youtube Website, Blog, Twitter, Facebook). Mereka lebih memilih media ini dengan alasan praktisnya dalam penggunaan dan penyampaian berita lebih cepat, lebih menarik secara visual (tampilan) lebih indah.

Teknologi yang semakin canggih ini telah mambuat masyarakat terlena dengan dunia barunya, baik itu di kalangan anak-anak sampai orang lanjut usia. Seperti halnya Hand Phone (HP) yang digunakan sudah berbasis android yang telah menyediakan berbagai macam aplikasi, apa pun informasi yang dibutuhkan sudah tersaji secara instan dengan lengkap dalam benda yang kecil itu.

Maraknya media elektronik saat ini membawa pengaruh besar terhadap kegiatan membaca. Orang-orang mulai beralih yang awalnya membaca dari media cetak sekarang beralih ke media elektronik. Akan tetapi bagi sebagian masyarakat kita membaca merupakan sesuatu yang membosankan.

Berdasarkan studi Most Littered Nation In the World 2016 minat membaca di Indonesia menduduki peringkat 60 dari 61 negara. Fakta ini tidak dapat kita anggap sepele, karena ini menyangkut kredibilitas bangsa kita di mata dunia. Hal ini juga menunjukkan rendahnya mutu pendidikan di negara kita.

Bagaimana pun juga membaca adalah kunci suksesnya pendidikan. Oleh sebab itu sudah menjadi tanggung jawab kita semua untuk keluar dari keterpurukan minat baca ini. Perhatian dan peran aktif dari semua komponen bangsa dalam meningkatkan minat baca ini sangat dibutuhkan, mulai dari lingkungan pendidikan formal, masyarakat dan yang terpenting adalah dukungan keluarga.

Penurunan minat membaca ini diiringi dengan peningkatan penggunaan media elektronik. Inilah problema yang harus kita hadapi bersama, hal ini terjadi mulai dari jenjang Sekolah Dasar sampai ke perguruan tinggi.

Lalu bagaimana dengan generasi kita yang akan datang kalau tidak gemar membaca, karena membaca merupakan faktor yang sangat penting dalam kehidupan seseorang. Budaya membaca merupakan salah satu penentu utama yang membuat ilmu pengetahuan berkembang dan mengantarkan manusia ke dalam kehidupan yang dinamis dan berwawasan luas sehingga menciptakan generasi yang nantinya mampu dalam menghadapi segala problema dalam kehidupannya.

Semakin banyak membaca maka semakin meningkat kemampuan intelektual seseorang. Oleh sebab itu, guru di sekolah sebagai ujung tombak peningkatan kualitas sumber daya manusia dituntut untuk dapat membangkitkan minat baca peserta didik. Dengan demikian kemampuan membacanya pun akan meningkat. Perlu diingat membaca bukanlah suatu kegiatan yang berdiri sendiri dan tiba-tiba, melainkan suatu sintesis berbagai proses yang tergabung ke dalam suatu sikap ialah sikap pembaca yang aktif.
Cole, 1963; Eliot dkk, 2000; Sugiarto. mengartikan Minat membaca merupakan karakteristik tetap dari proses pembelajaran sepanjang hayat (life-long learning) yang berkontribusi pada perkembangan, seperti memecahkan persoalan, memahami karakter orang lain, menimbulkan rasa aman, hubungan interpersonal yang baik serta penghargaan yang bertambah terhadap aktivitas keseharian. Dari definisi diatas dapat disimpulkan, bahwa minat membaca merupakan aktivitas yang dilakukan dengan penuh ketekunan dan cenderung menetap dalam rangka membangun pola komunikasi dengan diri sendiri agar pembaca dapat menemukan makna tulisan dan memperoleh infomasi sebagai proses transmisi pemikiran untuk mengembangkan intelektualitas dan pembelajaran sepanjang hayat.
Proses pembelajaran yang pertama didapatkan anak adalah di rumah, oleh sebab itu orangtualah yang pertama mewarnai perkembangan anak, dan bertanggung jawab penuh atas pendidikannya, terutama dalam hal membaca. Orangtua memiliki waktu yang banyak bersama anaknya, kesibukan sehari-hari yang dijalani bukanlah alasan untuk mengabaikan tumbuh kembang anak. Supaya anak mendapatkan pendidikan yang terbaik sesuai dengan yang kita harapkan, maka perlu ditata dalam keluarga dari usia dini, dan membaca adalah kunci atau modal dasar untuk mendapatkan semua yang diimpikan.

Sudah seharusnya bagi kita untuk memberikan bekal pada anak-anak untuk bisa memilih secara tepat dan bermanfaat untuk masa depannya. Betapa banyak orangtua yang kecewa atas pendidikan anaknya karena kegagalan mereka di bangku sekolah, mendapatkan nilai rendah, sulitnya seorang mahasiswa menyelesaikan tugas-tugasnya di perguaruan tinggi. Itu semua tidak terlepas dari kebiasaan membaca yang kita tanamkan dari masa kecilnya, sebab dengan rendahnya minat baca mereka akan berpengaruh terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan informasi dimilikinya.

Hal ini juga akan berdampak pada sumber daya bangsa bangsa. Oleh sebab itu bila kita menginginkan anak-anak kita sukses di sekolah dan di masa mendatang, maka peranan kita sebagai orangtua harus membiasakan anak-anak dari usia dini untuk mengenal buku-buku dan menumbuhkan kebiasaan untuk membaca, baik yang dibaca itu buku pelajaran maupun buku-buku pengetahuan lainnya.

Hal ini harus dilakukan secara berulang-ulang dan terus menerus dengan harapan akan terbentuk kepribadian yang kuat dalam diri anak sampai mereka dewasa. Buku itu gudangnya ilmu, membaca adalah kuncinya. Dengan demikian tertanamlah pada diri mereka bahwa membaca adalah suatu kebutuhan bukan sekedar hobi. Seperti yang dikemukakan Sinambela (sandjaja,2005) mengartikan minat membaca sebagai sikap positif dan adanya rasa keterikatan dalam diri terhadap aktivitas membaca dan tertarik terhadap buku.

Dalam meningkatkan minat baca, pemerintah lewat Permendikbud nomor 23 tahun 2015, mewajibkan sekolah melaksanakan budaya literasi. Spesifiknya adalah wajib membaca selama 15 menit setiap hari sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai. Kegiatan ini bertujuan untuk pembiasaan budaya membaca. Pemerintah berusaha menanamkan rasa cinta perpustakaan dan budaya membaca melalui pengembangan perpustakaan.
Untuk masyarakat umum sudah tersedia perpustakaan umum dan perpustakaan daerah sebagai sarana pembelajaran sepanjang hayat tanpa membedakan umur, jenis kelamin, suku, ras, agama, dan status sosial ekonomi.

Di sekolah-sekolah juga telah tersedia perpustakaan sampai perguruan tinggi. Kita juga dapat memanfaatkan perpustakaan keliling dan taman baca untuk anak-anak usia dini. Pemerintah juga berupaya, mendorong peningkatan pengadaan buku karena ketersediaan buku juga faktor penentu peningkatan minat baca.

Dengan adanya berbagai fasilitas tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam peningkatan mutu pendidikan dan upaya menumbuhkan minat baca. Membaca merupakan kunci sumberdaya manusia, dengan meningkatnya minat baca pada peserta didik dan masyarakat akan membawa kemajuan dalam dunia pendidikan kita serta mampu mencapai tujuan negara dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Tentang Saribulih

mm
Seorang praktisi pers yang juga bergerak dibidang pendidikan. Menulis dan berorganisasi merupakan hal yang mutlak baginya. Prinsipnya, seorang guru harus jadi penulis, karena dengan menulislah cakrawala dan kemampuan akan terus terasah. Organisasi juga suatu kebutuhan, karena bisa dimanfaatkan untuk bertukar pikiran

Baca Juga

Pameran Bunga Bonsai Pikat Masyarakat Dharmasraya

SPIRITSUMBAR.COM, Dharmasraya – Untuk melestarikan dan menambah pengasilan di masa pandemi covid 19, Ikatan Pencinta ...