Beranda - Pendidikan - Artikel - Lokakarya Sekolah untuk Apa
Feri Fren
Feri Fren

Lokakarya Sekolah untuk Apa

Print Friendly, PDF & Email

Oleh : Feri Fren (Widyaiswara LPMP Sumbar)
Sebentar lagi Tahun Pelajaran baru akan segera datang, semua pihak mulai mempersiapkan diri. Peserta didik mempersiapkan diri dengan mendaftar ke sekolah yang sesuai dengan bakat dan minatnya. Orang tua mempersiapkan diri dengan mencari informasi tentang sekolah favorit untuk melanjutkan sekolah anaknya.

Demikian juga dengan pihak sekolah, mereka memulainya dengan duduk bersama satu meja dalam suatu kegiatan yang disebut lokakarya. Semua itu dilakukan agar kualitas pendidikan di sekolahnya bisa ditingkatkan.

Lokakarya dilakukan dengan melihat kilas balik proses yang telah dilakukan pada tahun sebelumnya dan membandingkannya dengan perencanaan yang dibuat.

Seluruh stakeholders sekolah secara bersama-sama melakukan evaluasi diri serta pengkajian apa penyebabnya mutu tidak tercapai. Lalu merumuskan solusi dan strategi apa yang bisa dipakai agar kualitas sekolah dan mutu lulusan bisa meningkat dengan mengoptimalkan segenap potensi yang dimiliki.



Dalam melaksanakan lokakarya, sekolah melakukannya dengan berbagai macam variasi baik dari segi jumlah hari, tempat, serta narasumber yang dipakai sebagai fasilitator kegiatan. Ada yang melakukan kegiatannya di sekolah sendiri, ada pula yang melakukannya di tempat-tempat yang representatif seperti di hotel, dan tempat-tempat wisata yang ada aula pertemuannya.

Semua itu dilakukan juga dalam rangka memberikan penyegaran kepada guru dan pegawai karena mereka sudah lelah bekerja selama satu tahun pelajaran lamanya.

Demikian juga dengan narasumber yang dipakai. Ada yang mendatangkannya dari tingkat kabupaten/kota, propinsi. Bahkan ada yang dari tingkat pusat. Semua itu tergantung pada kesiapan sekolah dari berbagai aspek.

Dari kegiatan lokakarya tersusunlah program yang akan dijalankan. Siapa mengerjakan apa serta target apa yang akan dicapai sekolah untuk satu tahun ke depan. Dengan demikian harapan orang tua menyekolahkan anaknya untuk merubah dari yang tidak tahu menjadi tahu dengan mengintegrasikan nilai-nilai sikap dan keterampilan akan bisa terwujud secara optimal.

Banyak sekolah yang pernah berprestasi dan dianggap baik. Namun hanya bertahan pada satu kurun waktu saja. Hal itu terjadi karena mereka tidak melakukan evaluasi diri dan melakukan perbaikan mutu secara berkesinambungan yang sesuai dengan harapan masyarakat, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pada sisi lain bermunculan pula sekolah-sekolah baru.



Mereka lebih mampu memenuhi harapan dan keinginan masyarakat sekitarnya. Mereka mampu melakukan perbaikan dari segi mutu pembelajaran dan mutu gurunya. Melihat keseriusan sekolah tersebut dalam mengelola pendidikan, terkadang orang tua tidak segan-segan untuk membayar mahal asalkan anaknya bisa bersekolah di sekolah tersebut.

Bagi sekolah-sekolah yang tidak mau dan tidak mampu memperbaiki mutunya secara berkelanjutan, sekolah tersebut tidak akan mendapatkan tempat di hati masyarakat. Akhirnya tidak ada orang tua yang mau menyekolahkan putra-putrinya untuk melanjutkan pendidikan di sekolah tersebut. Akhirnya sekolah tersebut ibarat kerakap tumbuh di batu, hidup segan mati tak mau.

Oleh karena itu, prinsip perbaikan mutu berkelanjutan pada setiap sekolah wajib untuk diterapkan. Sekolah harus mampu memenuhi bahkan melebihi harapan dan tuntutan masyarakat. Semua itu akan dapat dicapai dengan melakukan perencanaan yang matang secara bersama-sama dalam kegiatan lokakarya sekolah.

Berbicara masalah mutu, menurut Crosby adalah sesuatu yang disyaratkan atau distandarkan (Conformance to requirement), sesuai dengan standar mutu atau indikator mutu yang telah ditentukan, baik dari segi input, proses, maupun outputnya. Maka dari itu, mutu pendidikan yang diselenggarakan oleh sekolah harus memenuhi indikator mutu yang sesuai dengan delapan Standar Nasional Pendidikan (SNP).

Garvin mendefinisikan delapan dimensi yang dapat digunakan untuk menganalisis karakteristik suatu mutu,yaitu kinerja, tampilan, kehandalan, konfirmasi, daya tahan, kompetensi pelayanan, estetika dan kualitas.

Dalam pandangan masyarakat umum sering dijumpai bahwa mutu suatu sekolah atau keunggulan sebuah sekolah dapat dilihat dari bentuk fisik sekolahnya. Seperti gedung yang indah dan jumlah ekstra kurikuler yang disediakan. Ada pula masyarakat yang berpendapat bahwa kualitas sebuah sekolah dapat dilihat dari jumlah lulusan sekolah tersebut yang diterima di jenjang pendidikan selanjutnya yang favorit.

Atau banyaknya lulusan yang dapat bekerja dan diterima di Dunia Usaha danDunia Industri (DUDI). Untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dikatakan sekolahnya sehat ketika lulusan sekolahnya tidak ada yang menganggur. Kalaupun mereka menganggur paling lama tiga bulan dari mereka tamat.

Untuk dapat memahami kualitas pendidikandi suatu sekolah, perlu juga kiranya memandang bahwa sekolah merupakan suatu sistem. Didalamnya terdiri dari kepalasekolah, guru, pegawai tata usaha, siswa, pengawas dan masyarakat.

Mutu sistem tergantung pada mutu komponen yang membentuk sistem itu sendiri, serta proses yang berlangsung hingga membuahkanhasil yang optimal. Dalam lokakarya salah satunya dibahas masalah pembelajaran. Untuk meningkatkan kualitas mengajar hendaknya guru perlu pula merencanakan program pengajaran dengan menggunakan metode serta strategi yang tepat sesuai dengan tujuan dan Kompetensi Dasar (KD) yang ingin dicapai.

Hal ini sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan kebudayaan No. 22 tahun 2016 tentang Standar Proses. Dalam peraturan tersebut mengisyaratkan bahwa dalam pembelajaran seorang guru memiliki sebuah pendekatan, metode dan teknik-teknik tertentu.

Ini dapat menciptakan kondisi kelas pada pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif dan menyenangkan. Sehingga pada akhirnya akan diperoleh kondisi kelas yang mempunyai aktivitas tinggi serta hasil belajar yang sangat memuaskan.

Selain itu guru juga diminta untuk dapat memahami sejumlah prinsip-prinsip pembelajaran, diantaranya guru harus memperhatikan kebutuhan dan karakteristik peserta didik. Guru mengembangkan strategi pembelajaran, menilai proses serta hasil pembelajaran yang dilakukan secara akurat dan komperehensif sesuai dengan karakteristik peserta didik masing-masing.

Dengan adanya lokakarya sekolah, diharapkan terjadi perubahan dan peningkatan mutu sekolah dalam ranah delapan Standar Nasional Pendidikan. Jelaslah bagi kita disini mengapa sebuah sekolah secara berkala perlu mengadakan lokakarya.

Tip & Trik

loading…


<<< Sebelumnya

Selanjutnya>>>



Tentang Saribulih

mm
Seorang praktisi pers yang juga bergerak dibidang pendidikan. Menulis dan berorganisasi merupakan hal yang mutlak baginya. Prinsipnya, seorang guru harus jadi penulis, karena dengan menulislah cakrawala dan kemampuan akan terus terasah. Organisasi juga suatu kebutuhan, karena bisa dimanfaatkan untuk bertukar pikiran

Baca Juga

ilustrasi

Bayar Gaji ke-13 PNS, Minahasa Tenggara Anggarkan Rp 10 Miliar

Spiritsumbar.com, Sulawesi Utara – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara menyiapkan anggaran Rp10 ...