Depan - Pendidikan - Apresiasi - Kisah Korban Gempa 2009, Kesulitan Biaya Wakili Indonesia ke Amerika
Rina dalam salah satu kegiatan
Rina dalam salah satu kegiatan

Kisah Korban Gempa 2009, Kesulitan Biaya Wakili Indonesia ke Amerika

Print Friendly, PDF & Email

Spirit Sumbar – Saya percaya setiap orang pasti memiliki momen-momen kehidupan yang tidak akan terlupakan. Momen-momen itulah yang sedikit banyak akan membentuk setiap individu serta mempengaruhi pilihan, tindakan, dan cara berpikirnya.

Acceptance LetterNama saya Nisrina Azizah Lubis, kerap dipanggil Rina. Saya merupakan anak sulung dari empat bersaudara. Saat ini, saya sedang menempuh pendidikan S1 Kimia di Universitas Gadjah Mada. Salah satu momen tak terlupakan bagi saya terjadi 7 tahun lalu. Ya, saya adalah salah satu dari sekian banyak korban gempa Sumbar tahun 2009 silam. Saya terjebak selama lebih kurang lima jam di reruntuhan bangunan salah satu lembaga kursus bahasa Inggris di Padang. Pada akhirnya, dokter menyatakan kaki kanan saya harus diamputasi dibawah lutut.

Gempa 2009 mengajarkan saya banyak hal, salah satunya tentang kekuatan keyakinan dan harapan. Beberapa jam setelah gempa, tim relawan datang dan berusaha membuat akses ke lubang tempat saya terjepit. Hampir tujuh tahun berlalu, namun, sampai sekarang saya masih ingat secara detail bagaimana relawan-relawan tersebut mengais-ngais pasir dan bongkahan batu untuk mengeluarkan kaki saya yang terhimpit bangunan, memberi makanan dan minuman, dan menutupi luka kaki saya dengan sehelai kain.

Saat itu, rasanya waktu berjalan begitu lambat, tetapi, setiap menitnya saya tidak kehilangan keyakinan. Keyakinan bahwa saya akan keluar dari reruntuhan, bertemu keluarga lagi, dan melanjutkan sekolah seperti biasanya. Saya bahkan tidak tahu persis mengapa saya merasa begitu yakin. Namun, satu hal yang saya ketahui, pengalaman tersebut membuat saya menjadi pribadi yang optimis dan tidak mudah dilanda rasa takut. Saya yakin bagaimanapun juga Allah tidak akan meninggalkan saya.

Tak terhitung banyaknya orang-orang yang bahkan tidak saya kenal sebelumnya datang mengulurkan tangan membantu saya, baik yang dekat maupun yang jauh. Beberapa hari di tenda dan selanjutnya dipindahkan ke ruang bangsal rumah sakit, saya selalu kedatangan orang-orang yang mendukung saya dan wartawan lokal maupun asing yang ingin mendengar pengalaman saya. Salah seorang reporter asing yang mewawancarai saya waktu itu adalah Arwa Damon dari CNN.

Setelah beberapa jam berbincang-bincang, beliau akhirnya pamit dan meminta e-mail serta nomor telepon saya. Beberapa minggu kemudian, saya mendapat kabar dari Arwa bahwa ia ingin memindahkan saya ke RS Orthopedi Soeharso di Solo serta membiayai seluruh pengobatan dan rehabilitasi di RS tersebut.

“Check out your email! I’ve sent three plane tickets to Solo for you, your mom, and dad. I’ll see you in Jakarta!”

Melalui pesan singkat tersebut, Arwa memberitahu bahwa ia telah mengirimkan tiga tiket pesawat ke Solo dan berjanji untuk bertemu di Jakarta. Beberapa bulan setelah sembuh dan menjalani rehabilitasi di Solo, saya akhirnya mengetahui bahwa Arwa telah menggalang dana melalui CNN untuk membantu saya. Banyak kerabat Arwa yang berdonasi, memberikan dukungan bahkan mengirimkan paket berisi buku-buku.

Sepertinya Arwa memberitahu kerabat-kerabatnya bahwa saya senang membaca. Saya menganggap donasi yang diberikan kepada saya waktu itu, baik besar maupun kecil, masih hidup bersama saya. Terlintas di benak saya, apa yang terjadi jika Arwa, reporter berkebangsaan Suriah-Amerika tersebut, tidak tergerak hatinya untuk membantu saya?

Ya, mungkin bantuan Allah akan datang dalam bentuk yang lain. Tapi, fakta bahwa bantuan Allah datang dalam bentuk ini pasti mengandung hikmah-hikmah tertentu. Saya lalu berpikir, mengapa mereka mau membantu saya? Mereka berasal dari bagian lain globe bumi dan bahkan tidak merasakan gempa Sumbar. Sejak saat itu, saya sedikit banyak paham tentang arti ‘global citizenship’ atau masyarakat dunia.

Terlepas dari batas-batas geografis, perbedaan budaya, bahasa, ras, persepsi, dan prinsip hidup, kita adalah satu, sesama manusia yang memiliki rasa dan kemampuan untuk berempati. Sesama manusia yang tinggal dan hidup di planet Bumi. Manusia, sebagaimana yang telah kita ketahui bersama, merupakan khalifah di muka bumi. Kesibukan dan masalah sehari-hari membuat kita terkadang lupa, bahwa sebenarnya setiap individu merupakan bagian dari sesuatu yang lebih besar. Selain tanggungjawab terhadap diri sendiri dan orang-orang sekitar kita, terdapat tanggungjawab yang lebih besar, yaitu terhadap masyarakat dunia dan bumi kita. Kesadaran inilah yang memotivasi saya agar mencari kesempatan untuk berkontribusi dalam skala internasional.

Selanjutnya: Rina Lolos Seleksi Merit360, Kesulitan Dana ke Amerika Serikat

 [ 1 ]   [ 2 ]   Next

SARIBULIH

Profil Saribulih

mm
Seorang praktisi pers yang juga bergerak dibidang pendidikan. Menulis dan berorganisasi merupakan hal yang mutlak baginya. Prinsipnya, seorang guru harus jadi penulis, karena dengan menulislah cakrawala dan kemampuan akan terus terasah. Organisasi juga suatu kebutuhan, karena bisa dimanfaatkan untuk bertukar pikiran

Baca Juga

Bertekad Tetap Informatif, Pessel Gelar Bimtek Pemeringkatan untuk PPID Pembantu

SPIRITSUMBAR.com, Painan – Agenda besar tahunan yang dilakukan oleh PPID Utama Kabupaten Pesisir Selatan (Kab.Pessel) ...