Depan - Pendidikan - Artikel - Kato Nan Ampek bagi Generasi Muda Minangkabau
Khusnul Fatimah
Khusnul Fatimah

Kato Nan Ampek bagi Generasi Muda Minangkabau

Print Friendly, PDF & Email

Oleh : Khusnul Fatimah ( Pendidik SDN 02 Aur Kuning Bukittinggi)

Menghadapi era globalisasi dan perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) yang makin pesat di masa pada saat sekarang ini, sangat mempengaruhi perkembangan kebudayaan bangsa Indonesia, khususnya di Minangkabau.

Berkurangnya nilai-nilai agama dan tatakrama kesopanan yang dialami dikalangan remaja dan anak-anak sekolah. Sehingga pendidikan itu tak berarti. Walaupun dia sekolah tetapi kelakuannya tidak mencerminkan ia itu berpendidikan.



Disinilah peran mata pelajaran Budaya Alam Minangkabau khususnya yang berada di Sumatera Barat. Yakni, untuk memperbaiki akhlak anak-anak sekolah yang tidak sesuai pada tempatnya.

Saat sekarang ini masih banyak tingkah laku siswa yang tidak mencerminkan budaya orang Minangkabau. Contoh, sikap yang terlalu cuek dan tidak mau menghargai orang lain dan tidak megetahui bahasa isyarat yang diberikan oleh guru kepadanya.

Didalam mata pelajaran Budaya Alam Minangkabau sudah diterangkan, tata krama kesopanan orang Minangkabau. Juga, cara berbicara kepada orang yang lebih besar dan basa-basi yang telah digariskan oleh nenek moyang orang Minangkabau. Atau dikenal dengan Kato nan Ampek. Apa itu Kato Nan Ampek?

Kato nan Ampek adalah adat berbicara di Minangkabau. Setiap orang dituntut paham perbedaan cara berbincang-bincang dengan orang berbeda.

Seperti bunyi pepatah minang Indak ka pernah samo datanyo sawah jo pamatang. Maksudnya setiap orang punya tingkatan-tingkatan tertentu di masyarakat. Apa saja bagian dari kato nan ampek?

Kato mandaki adalah bahasa yang digunakan untuk lawan bicara yang lebih dewasa atau orang yang dihormati. Seperti orang yang lebih muda kepada orang yang lebih tua, murid kepada guru, dan bawahan kepada atasan.

Pemakaian tata bahasanya lebih rapi, ungkapannya jelas, dan penggunaan kata ganti orang pertama, kedua, dan ketiga bersifat khusus. Ambo untuk orang pertama, panggilan kehormatan untuk orang yang lebih tua: mamak, inyiak, uda, tuan, etek, amai, atau uni serta baliau untuk orang ketiga.

Selanjutnya >>>

Tip & Trik

loading…


Profil Saribulih

mm
Seorang praktisi pers yang juga bergerak dibidang pendidikan. Menulis dan berorganisasi merupakan hal yang mutlak baginya. Prinsipnya, seorang guru harus jadi penulis, karena dengan menulislah cakrawala dan kemampuan akan terus terasah. Organisasi juga suatu kebutuhan, karena bisa dimanfaatkan untuk bertukar pikiran

Baca Juga

Bright Gas Bersinergi Dengan UMKM Randang Payakumbuh Menuju Go Digital

Rangkaian Kampanye City of Randang SPIRITSUMBAR.com, Padang – Sebanyak 40 UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan ...