Minggu , 19 September 2021
Depan - Headline - Inovasi Tanah Datar, Gapura Mantap Pugar 625 Rumah
Pugar rumah melalui Gapura Mantap
Pugar rumah melalui Gapura Mantap

Inovasi Tanah Datar, Gapura Mantap Pugar 625 Rumah

Print Friendly, PDF & Email

SPIRITSUMBAR.com, Tanah Datar – Gerakan Pugar Rumah Masyarakat Tidak Mampu (Gapura Mantap) merupakan program inovasi Dinas Sosial Kabupaten Tanah Datar dilaunching Tahun 2017 lalu yang merupakan program rehab dan bedah rumah guna turut mengentaskan dan mengurangi rumah masyarakat yang tidak layak huni.

Kepala Dinas Sosial Yuhardi kepada the public, Selasa (23/7/2019) melalui selulernya mengungkapkan, program Gapura Mantap dimulai pelaksanaannya tahun 2018 dan di tahun yang sama telah mampu menyelesaikan pugar rumah sebanyak 625 buah.

“Alhamdulillah, berkat kerjasama dengan Dinas Perkim LH, perantau, pemerintah nagari dan dukungan masyarakat, tahun 2018 ada 625 rumah telah selesai di rehab, 2019 ini direncanakan ada 1120 buah rumah lagi yang akan di rehab. Insya Allah 3458 buah rumah yang tidak layak huni akan tuntas kita rehab sampai akhir 2021 nanti,” sampainya.



Terlepas itu, tambah Yuhardi, dukungan perantau, masyarakat dan pihak lainnya sangat kita butuhkan untuk sukseskan program ini yang diangggarkan melalui dana nagari atau APBN. “Dukungan langsung masyarakat ataupun keluarga terdekat untuk terjun langsung bekerja rehab rumah, karena sifatnya swadaya atau bekerja ikhlas sangat kita butuhkan, dan tahun 2019 ini tim TAGANA juga telah lakukan bhakti sosial merehab rumah Hanafi di Lintau Buo Utara dan Afrianto di Gurun Kecamatan Sungai Tarab,” tukasnya.

Artikel Lainnya

loading…


Di kesempatan lainnya, Kasi Bantuan dan Jaminan Sosial Dinas Sosial Tanah Datar Zainal Abidin menyampaikan, guna mendukung suksesnya program GAPURA MANTAP, tim Taruna Siaga Bencana (TAGANA) bersama Pelopor Perdamaian Kabupaten Tanah Datar melakukan aksi terjun langsung membantu pembangunan rehab rumah masyarakat.

“Saat ini kita sedang rehab rumah Afrianto (34 th) warga jorong Luhak Nagari Gurun Kecamatan Sungai Tarab yang merupakan korban gempa dan tsunami Palu Sulawesi Tengah tahun 2018 lalu, dimana sebulan setelah kejadian Pemkab dan bantuan donatur serta masyarakat memberikan bantuan Rp.10 juta sebagai biaya transpor pesawat, dan saat sudah sampai di kampung halaman dibantu lagi Rp.2,6 juta sebagai modal usaha ,” ungkap Zainal.

Zainal menambahkan, kegiatan itu berkat bantuan Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Sungai Tarab, karena berkat laporannya tim TAGANA langsung turun ke lapangan. “Rehab rumah Afrianto dibantu berupa material dan bahan bangunan melalui APBN Nagari Gurun sebesar Rp.15 juta dan tim membantu untuk turut serta membangun dengan bertukang memasang atap, dinding ataupun kegiatan pembangunan lainnya, namun tentu saja kita juga butuh bantuan langsung masyarakat setempat,” sampainya.

Kemudian Zainal mengungkapkan, keinginan untuk ringankan beban saudara sesama umat muslim, dipersilahkan kalau ada dari tim TAGANA yang mempunyai rezeki berlebih dan mau memberi amanah kepada Afrianto memelihara hewan peliharaan dengan sistem bagi hasil. “Alhamdulillah, kita juga mempercayakan pemeliharaan empat ekor kambing kepada Saudara kita Afrianto dengan sistem bagi hasil atau bahasa minangnya mampaduoi, sehingga diharapkan kegiatan ini membantu perekenomian ia bersama 4 orang tanggungannya,” harap Zainal.




Sementara itu Afrianto didampingi istrinya Zulandriani menyampaikan terima kasih atas bantuan dan perhatian pemerintah kepada keluarganya. “Di kesempatan ini atas nama keluarga, saya sampaikan terima kasih kepada seluruh pihak, terutama Wali Nagari, Pemkab Tanah Datar dan lainnya yang telah membantu kepulangan kami sekeluarga setahun lalu dan membantu rehab rumah kami hari ini, semoga bisa bermanfaat bagi kami dan dilimpahkan pahala setimpal oleh Allah SWT atas semua amal ibadahnya,” pungkas Afianto dengan perasaan haru. (David).

Profil Saribulih

mm
Seorang praktisi pers yang juga bergerak dibidang pendidikan. Menulis dan berorganisasi merupakan hal yang mutlak baginya. Prinsipnya, seorang guru harus jadi penulis, karena dengan menulislah cakrawala dan kemampuan akan terus terasah. Organisasi juga suatu kebutuhan, karena bisa dimanfaatkan untuk bertukar pikiran

Baca Juga

Rektor UM Sumbar Dr. Riki Saputra sedang menjelaskan perihal konferensi internasional ICoNTISH kepada para jurnalis dan peserta konferensi pers

Pertama Kali Digelar PT sejak Pandemi Covid-19, UM Sumbar akan Gelar Konferensi Internasional ICoNTISH

SPIRITSUMBAR.com, Padang – Melakukan penelitian dan menulis merupakan sebuah kewajiban bagi seorang akademisi. Selain itu, ...