Kamis , 23 September 2021
Depan - Nasional - Ini Kata Anggota DPR Tentang LGBT
Ali Taher Parasong
Ali Taher Parasong

Ini Kata Anggota DPR Tentang LGBT

Print Friendly, PDF & Email

“Sebab, tidak ada alasannya LGBT bisa diterima oleh masarakat Indonesia,” tegas Ali Taher Parasong anggota DPR RI dari Komisi IX dari Fraksi PAN yang membidangi Keluarga Berencana di parlemen saat ditemui di Jakarta Selasa (18/2/2016).

LGBT, kata Ali, adalah prilaku asosial yang tidak bisa diterima untuk dijadikan norma, karena akan merendahkan peradaban, kemanusian dan kebebasan itu sendiri. Selain itu bertentangan dengan nilai nilai keluarga Indonesia yang setiap anaknya di doakan untuk menjadi genarasi baru yang lebih baik. “Orang baik akan lahir dari keluarga yang baik baik,” jelasnya.

Memang,katanya lagi, diantara warga negara kita ada yang memilih berprilaku LGBT karena alasan mahalnya biaya perkawainan, pengasuhan masa kanak kanak yang salah sejak dini, semisal anak laki laki bermain boneka dan yang perempuan bermain pistol. Makanya, kedepan harus ada edukasi terobosan yang bisa dijadikan bekal untuk remaja kita sebelum menuju berumah tangga. Artinya tetap masih ada peluang untuk dibina dan dituntun kembali ke kodrat awalnya, katanya.

Artinya pelegalan LGBT dengan alasan demokrasi tidak bisa dibenarkan, sebab akar LBGT lahir hidup di Amerika dengan liberalismenya. Lebih baik kita menyelamatkan anak anak kita daripada LGBT dijadikan norma sosial baru, tegas Ali Taher.

Ketika menerima Mahasiswa Pancasila, anggota DPR RI/MPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan Ahmad Basarah menyatakan menolak LGBT. Dikatakan, kita sudah pasti menolak LGBT. Sebab di dalam negara Pancasila, LGBT bertentangan dengan nilai nilai Pancasila kususnya sila Ketuhanan Yang Maha Esa yang bersumbar pada relegiusitas. Yang pada masa kaum Luth, LGBT sudah lama dilarang. “Sebaliknya kita akan dukung individu negarawan yang berdasar Pancasila, tapi tetap akan kita tolak individual liberal dengan alasan kebebasan yang akan malahirkan penjajahan baru lewat pengrusakan jiwa mental anak bangsa lewat LGBT,” tegasnya.

Yang pada hari ini ancaman tersebut telah menyusup ke dalam radikalisme kapitalisme yang lebih berbahaya dari radikalisme agama, karena sudah langsung masuk merusak pintu keluarga Indonesia, beber mantu ulama besar dari Kwitang ini.

Kapitalisme, ujar Basarah lagi, asalnya adalah dari individualisme yang melahirlkan liberalisme kapital

dengan cara mencari untung lewat menghalalkan segala cara yang ujungnya ber muara pada imperialisme dan kolonialisme, jelasnya.

Dan pelemahan bangsa pada hari ini adalah by design oleh asing. Ekonomi kita juga sekarang tergantung pada asing, pangan impor, handphone impor. “Indonesia hari ini sedang menjadi laboratorium eksperimen untuk tujuan liberalisme dengan melupakan Pancasila”, ujar Basarah mengingatkan.

Presiden Jokowi dalam hal ini harus berada di depan dalam ikut mengontrol semua ini, jika tidak, Indonesia benar benar akan dijajah kembali. Posisi ormas Mapancas akan menjadi penting disini sebagai pengawal Pancasila dan NKRI dari pada LSM yang berorientasi pada asing.

Disatu sisi kita sedang mengalami dis orienstasi dalam bernegara dan berbangsa. Disisi lain bangsa Barat merasa paling sempurna, sedangkan bangsa Timur masih dianggap warga kelas dua, keluh Basarah.

ERWIN KURAI

Lebih Lengkap, di:

The Public Edisi 12/22-27 Februari 2016

(Terbit Tiap Senin)

Cover The Public Edisi 11/15-21 Februari 2016
Cover The Public Edisi 11/15-21 Februari 2016

Profil Saribulih

mm
Seorang praktisi pers yang juga bergerak dibidang pendidikan. Menulis dan berorganisasi merupakan hal yang mutlak baginya. Prinsipnya, seorang guru harus jadi penulis, karena dengan menulislah cakrawala dan kemampuan akan terus terasah. Organisasi juga suatu kebutuhan, karena bisa dimanfaatkan untuk bertukar pikiran

Baca Juga

20 Tahun, Partai Demokrat Makin Menggeliat

SPIRITSUMBAR.com, Padang – Meski diterpa berbagai gelombang. Mulai dari riak sampai ombak besar, namun Partai ...