Minggu , 19 September 2021
Depan - Pendidikan - Artikel - Husnik Kamil Manik, Sang Profesor Pengawal Demokrasi
Husni Kamil Manik
Husni Kamil Manik

Husnik Kamil Manik, Sang Profesor Pengawal Demokrasi

Print Friendly, PDF & Email

Oleh: Saribulih

Spirit Sumbar – Secara pribadi, saya tidak begitu dekat dengan Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Republik Indonesia (RI), Husni Kamil Manik. Bahkan, pertemuan dengan Husni boleh dikatakan sangat jarang.

Anehnya, jika ada kesempatan, pembicaraan justru menghabiskan waktu yang relatif lama. Tidak jarang, pembicaraan dilanjutkan ke tempat lain, sambil mecicipi makanan ringan.

Saya masih ingat, pertemuan pertama saya dengan Husni sewaktu dia menjadi Komisioner di KPU Sumbar tahun 2008. Walau pertemuan pertama, namun sudah terasa akrab. Saking akrabnya, tanpa diminta Husni malah membuatkan akun facebook  saya. “Uda harus banyak berinteraksi melalui media sosial. Ini uda sudah saya rekomendasikan,” ujarnya waktu itu.

Begitu juga, saat saya minta untuk meninjau TPS yang saya pimpin di Banuaran, Kota Padang. Walau saya minta dengan nada bercanda, ternyata lelaki dengan senyum khas ini  juga hadir sambil memantau pelaksanaan pemilu tersebut dengan seksama.

Bisa jadi diskusi terlama saya dengan Husni Kamil Manik terjadi pada Minggu, (28/12/2014). Usai melakukan pembicaraan ringan di rumahnya, Husni mengajak duduk santai pada salah satu café di kawasan Padang Baru, Kota Padang. Di lokasi inilah, Husni memaparkan program dan target yang hendak dicapai selama menjadi Ketua KPU. Saat saya tawarkan menjadi cover di The Public, dia pun tidak keberatan. Pada hal-hal tertentu, dia mengingatkan hal tersebut tidak untuk konsumsi publik. “Kalau iko off the record, Da,” ujarnya, terkait pemikirannya yang bersifat pribadi.

Rabu (2/12/2015), di Gedung KPU RI merupakan diskusi terakhir saya dengan Husni. Suatu diskusi yang saya anggap luar biasa, lantaran pertemuan itu sendiri mustahil terjadi. Saat dihubungi, Selasa (1/12/2015)  malam, Husni selaku, Ketua KPU RI,  mengaku masih berada di Jambi. “Berkemungkinan bisuak pagi, ka Jakarta Da,” ujarnya lewat sambungan telepon.

Namun Rabu (2/12/2015) pagi, dia menghubungi agar sudah ada di Gedung KPU paling lambat pukul 13.00 WIB. “Lai bisa Uda tibo di KPU paling lambek pukul 1 siang, karano pukul 2 siang, awak adoh pertemuan samo Komisi II DPR RI,” ujarnya.

Tragisnya, untuk mencapai Gedung KPU bukan perkara gampang. Lantaran, saat itu di Gedung KPU sedang berlangsung demo besar-besaran. Walau melalui ratusan pedemo, untuk masuk ke Gedung KPU ternyata tidak begitu sulit. Bisa jadi, sudah pesan khusus yang disampaikan pada petugas keamanan KPU.

Usai makan siang di ruang Ketua KPU, Husni mulai bercerita panjang lebar terhadap persiapan Pilkada serentak, termasuk, kemungkinan dan hambatan yang bakal terjadi. Namun, dia sangat optimis Pilkada serentak akan berlangsung sukses.Memang, salah satu karakter Husni yang saya kenal adalah selalu optimis dan bekerja penuh perhitungan.

Dia juga  menceritakan atas penghargaan Bintang Penegak Demokrasi Utama  yang diterimanya dari Presiden RI, Kamis (13/8/2015). Menurutnya, penghargaan merupakan tantangan agar bisa kerja lebih baik lagi.

Saat disentil tentang Ketua KPU sebelumnya yang berlabel Profesor, dia menegaskan penghargaan itu bakal dia gaet. “Saya juga ingin bergelar profesor, tapi tentu saja dengan menyelesaikan pendidikan formal level tertinggi. Habis S2 ini saya langsung ambil program doktor,” ujarnya.

Malahan dia menegaskan, Ketua KPU inilah yang bakal mengantarkannya mendapat penghargaan profesor. “Beberapa perguruan sudah menawarkan, karena pada akhirnya saya nanti berkeinginan menjadi pengajar di perguruan tinggi,” ujarnya.

Allah Swt ternyata berkehendak lain, Husni hanya diberi kesempatan membangun pondasi demokrasi Indonesia secara elegan. Yakni, pijakan bagi para akademisi lain untuk mendapatkan penghargaan profesor.

Selamat Jalan, Adinda! Semoga hal yang telah dilakukan semasa di dunia menjadi ilmu bermanfaat yang terus mengalir sampai dunia kiamat. Juga makin memperkokoh demokrasi Indonesia demi tercapainya cita cita bangsa.

Baca juga: Husni Kamil Manik Putra Terbaik Bangsa Telah Pergi Untuk Selamanya

 

Cover Husni Kamil Manik

Pada Edisi 09/Th.II/31 Desember 2014 – 06 Januari 2015

Cover The Public
Cover The Public

 

Profil Saribulih

mm
Seorang praktisi pers yang juga bergerak dibidang pendidikan. Menulis dan berorganisasi merupakan hal yang mutlak baginya. Prinsipnya, seorang guru harus jadi penulis, karena dengan menulislah cakrawala dan kemampuan akan terus terasah. Organisasi juga suatu kebutuhan, karena bisa dimanfaatkan untuk bertukar pikiran

Baca Juga

Rektor UM Sumbar Dr. Riki Saputra sedang menjelaskan perihal konferensi internasional ICoNTISH kepada para jurnalis dan peserta konferensi pers

Pertama Kali Digelar PT sejak Pandemi Covid-19, UM Sumbar akan Gelar Konferensi Internasional ICoNTISH

SPIRITSUMBAR.com, Padang – Melakukan penelitian dan menulis merupakan sebuah kewajiban bagi seorang akademisi. Selain itu, ...