Sabtu , 25 September 2021
Depan - Pendidikan - Artikel - Gerakan Literasi Sekolah
Rikotmi Hasindi
Rikotmi Hasindi

Gerakan Literasi Sekolah

Print Friendly, PDF & Email

Oleh : Rikotmi Hasindi (Guru UPTD SMPN 1 Kec. Luak)

Gerakan literasi sekolah adalah gerakan literasi yang dilakukan di sekolah . Aktivitas tersebut dilakukan untuk menumbuh kembangkan budaya membaca dan menulis.

Kegiatan tersebut tentulah upaya untuk membiasakan peserta didik selalu berliterasi sepanjang hayat. Kegiatan literasi di sekolah biasanya dilakukan 15 menit sebelum memulai pembelajaran.

Kegiatan literasi yang dilakukan tersebut adalah gerakan yang sangat mendukung terhadap peningkatan wawasan , pengetahuan peserta didik serta menumbuhkan budi pekerti peserta didik melalui bacaan-bacaan yang di baca oleh peserta didik sebagai konsep dasar gerakan literasi menumbuhkan budi pekerti yang tercantum dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 tahun 2015.

Sejalan dengan itu dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 tahun 2015 kegiatan literasi di sekolah sesungguhnya melibatkan berbagai unsur dalam melaksanakannya. Unsur yang terlibat dalam kegiatan literasi di sekolah tersebut melibatkan peserta didik, guru, kepala sekolah, tenaga kependidikan dan pengawas sekolah.



Juga, komite sekolah, orang tua / wali murid dan unsur lain. Termasuk, akademisi, penerbit, media massa, tokoh masyarakat, dunia usaha dan pemangku kepentingan lainnya dibawah koordinasi direktorat jenderal pendidikan dasar dan menengah kementerian pendidikan dan kebudayaan.

Kegiatan literasi , baik membaca ataupun menulis adalah keterampilan yang harus diasah dan digali potensi yang ada pada diri peserta didik yang bisa di pelajari dan dilatih. Sehingga keterampilan tersebut bisa menjadi skill bagi peserta didik untuk masa depan mereka.

Dengan membaca berbagai buku tentunya peserta didik mempunyai ilmu pengetahuan yang luas. Dengan menulis , tentulah peserta didik bisa melihat perjalanan hidupnya , sebagai sejarah untuk di evaluasi bagi peserta didik di masa depannya.

Untuk lebih menggerakkan literasi di sekolah tidak lepas dari peran perpustakaan sekolah, sebagai tempat peserta didik untuk mendapatkan berbagai bahan bacaan. Sangat tidak tepat rasanya jika perpustakaan tidak dibenahi oleh sekolah jika ingin menggerakkan literasi tersebut berkembang di sekolah.

Untuk kegiatan literasi di sekolah buku-buku yang harus disiapkan perpustakaan adalah buku-buku selain buku mata pelajaran, seperti buku sastra atau buku referensi lainnya.

Memang untuk berliterasi di sekolah bukan saja memanfaatkan buku-buku bacaan yang ada dalam perpustakaan tersusun rapi di rak-rak perpustakaan.  Juga, menggunakan alat peraga dan mainan edukatif yang bisa mendukung kegiatan literasi di sekolah dan buku digital juga bisa dimamfaatkan untuk kegiatan literasi di sekolah.

Disamping itu, membuat pojok baca di ruang kelas juga merupakan upaya membentuk budaya minat baca peserta didik lebih meningkat sebagai kecintaannya kepada buku untuk membuka ilmu pengetahuan secara mudah oleh peserta didik secara mudah yang di akses di dalam kelas mereka masing-masing melalui kontrol Wali kelas masing-masing kelas yang dibinanya.

Di pandemi saat ini sebetulnya gerakan literasi masih bisa dilaksanakan melalui media , menggiatkan peserta didik untuk membaca dan menulis. Pandemi bukanlah penghalang untuk melakukan gerakan literasi di sekolah, hanya saja kita perlu kreativitas untuk melakukan kegiatan literasi tersebut sehingga tetap berjalan , bagaimana peserta didik selalu berminat untuk berliterasi.

Melalui kontrol wali kelas kegiatan literasi bisa berjalan dengan maksimal. Baik digunakan melalui daring atau luring. Melalui daring, saat ini bisa digunakan kegiatan literasi itu dengan sangatlah mudah. Peserta didik bisa saja di suruh melalui Whats App atau melalui Google Classroom atau aplikasi lain membaca buku-buku yang mungkin di share oleh guru tersebut.

Mungkin anak di arahkan untuk membuka E book atau artikel-artikel yang bisa di akses oleh peserta didik yang ada di internet. setelah mereka membaca buku non pelajaran tersebut serta menuliskan apa yang telah mereka baca dari bacaan yang disuruh untuk dibaca maka barulah memasuki pembelajaran yang dilasanakan hari tersebut.

Sedangkan melalui luring dalam kondisi saat ini tentunya masih bisa gerakan literasi dengan tetap menjaga protokol kesehatan. Mereka bisa di suruh meminjam buku non pelajaran di perpustakaan atau buku yang mungkin mereka miliki setiap hari.

Mereka disuruh untuk membaca dan menuliskan apa yang telah meraka baca dan melaporkan ke
sekolah setelah beberapa hari sesudah ditugaskan. Artinya, kegiatan literasi tetap berjalan dan bergerak menumbuhkan budi pekerti peserta didik. Disamping melalui kontrol wali kelas diatas juga bisa dilakasanakan gerakan literasi sekolah melalui radio sekolah.

Pada awalnya radio hanya digunakan dalam keperluan maritim mengirimkan pesan telegraf menggunakan sandi morse, disamping itu kegunaan gelombang radio,termasuk jaringan nilkabel, komunikasi segala jenis, dan juga komersil radio (Wikipedia)

Dengan gerakan literasi melalui radio tersebut tidak hanya peserta didik yang bisa menyimak tetapi orang tua dan masyarakat umum juga bisa mendengarkan dan mendapatkan apa yang disiarkan.

Sungguh banyak manfaat dari radio sekolah selain digunakan untuk memberikan pembelajaran juga sebagai Edukasi oleh orang tua dan masyarakat umum lainnya.Memang, radio sekolah sebagai edukasi belum banyak dimanfaatkan saat ini namun berbekal radio yang ada di sekolah sebenarnya gerakan literasi bisa termaksimalkan disaat pandemi sekarang ini.

Tip & Trik

loading…


Profil Saribulih

mm
Seorang praktisi pers yang juga bergerak dibidang pendidikan. Menulis dan berorganisasi merupakan hal yang mutlak baginya. Prinsipnya, seorang guru harus jadi penulis, karena dengan menulislah cakrawala dan kemampuan akan terus terasah. Organisasi juga suatu kebutuhan, karena bisa dimanfaatkan untuk bertukar pikiran

Baca Juga

PON XX Papua 2021, Kontingen Sumbar : Papua Sangat Kondusif

SPIRITSUMBAR.com, Papua – Kondisi empat kluster kota dan kabupaten pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON) XX ...