Depan - Berita Pilihan - Fateta Unand Daftarkan Paten Nasi Padang Instan
Feri Arlius daftarkan paten Nasi Padang
Feri Arlius daftarkan paten Nasi Padang

Fateta Unand Daftarkan Paten Nasi Padang Instan

Print Friendly, PDF & Email

SPIRITSUMBAR.com, Padang – Tim peneliti dari Fakultas Teknologi Pertanian (Fateta) Unand, yang terdiri dari Dr. Ir. Feri Arlius Datuak Sipado, M.Sc., Daimon Syukri, S.Si, M.Si, Ph.D, Cesar Welya Refdi, S.TP, M.Si, mendaftarkan paten untuk Nasi Padang Instan, Jumat (25/6/2021), ke Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unand

Ketua tim peneliti, Feri Arlius menyampaikan bahwa paten ini didaftarkan atas inovasi penelitian mereka menciptakan nasi, rendang, dendeng dan sayuran yang dapat disimpan sampai 1 tahun pada suhu ruangan biasa, dan pemanas air instan (self heating) untuk memasak dan menghangatkan kembali nasi, randang, dendeng, dan sayuran tersebut.

Kemudian, anggota tim peneliti, Daimon Syukri dan Cesar Welya menjelaskan bahwa dari penelitian yang dilakukan sejak 3 bulan yang lalu di Laboratorium Pangan dan Hasil Pertanian Fateta Unand, tim peneliti berhasil mendapatkan metode yang tepat untuk mengawetkan nasi, rendang, dendeng dan sayuran sehingga bisa tahan lama dalam penyimpanan.

“Dehidrasi atau pengurangan kadar air dari nasi dan sayuran yang dilakukan pada suhu dan waktu tertentu menghasilkan nasi dan sayuran dehidrasi yang kemudian disimpan dalam kemasan vacuum. Untuk rendang dan dendeng juga dilakukan sterilisasi dan pengemasan vacuum,” ucap Feri.

Untuk dapat dikonsumsi, lanjutnya, maka nasi, rendang, dendeng dan sayuran tersebut perlu dipanaskan lagi selama 5–10 menit.

“Untuk ini, tim peneliti juga menciptakan kantong pemanas instan yang apabila direndam dengan air, maka akan membuat air menjadi panas dan mendidih. Pemanas instan ini didisain untuk mendapatkan suhu yang tepat untuk memanaskan nasi, randang, dendeng dan sayuran pada berbagai kemasan,” terangnya.

Dengan metode ini, sebut Pak Datuak, demikian Feri biasa disapa, tanpa menggunakan zat-zat kimia dalam pengawetan, nasi, randang, dendeng dan sayuran dapat tahan sampai 1 tahun lebih dan dapat disajikan untuk dikonsumsi hangat-hangat seperti baru saja dimasak dengan cita rasa yang tidak berubah atau tidak berbeda dari makanan biasa.

Lebih lanjut Feri Arlius, yang juga menjabat sebagai Dekan Fakultas Teknologi Pertanian (Fateta) Unand menjelaskan  bahwa saat ini beberapa pihak swasta sudah menghubungi pihaknya dan menyatakan tertarik untuk bekerjasama dalam memproduksi Nasi Padang Instan ini, sehingga produk ini bisa segera tersedia di pasar.

Alat-alat yang diperlukan dalam memproduksi Nasi Padang Instan ini, menurut Feri tidak memerlukan biaya investasi yang tinggi sehingga produk ini nantinya dapat dijual dalam harga yang tidak mahal dan sesuai dengan kemampuan konsumen.

“Nasi Padang Instan ini dapat menjadi produk alternatif yang digunakan masyarakat untuk kebutuhan pangan pada berbagai keadaan seperti naik haji, mendaki gunung, camping, dan bantuan pangan untuk daerah yang sedang terkena bencana alam,” tukasnya.

Pada saat menerima pendaftaran paten Nasi Padang Instan ini, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unand, Dr. Ir. Uyung Gatot, M.T., didampingi Ketua Pusat Kekayaan Intelektual dan Layanan Teknis Unand, Hanalde Andre, S.T., M.T., menyampaikan, dalam waktu 2 hari ini akan mengeluarkan sertifikat pendaftaran paten dan menyampaikan dokumen paten kepada Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia untuk diproses lebih lanjut.

Rektor Universitas Andalas, Prof. Dr. Yuliandri, M.H., sangat mengapresiasi hal yang sudah dilakukan oleh Tim Peneliti Fateta. Dia berharap hasil penelitian ini dapat segera diproduksi bekerjasama dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI).

Lebih lanjut Rektor menyampaikan, tim peneliti telah melakukan suatu langkah inovasi. Terutama dalam menghasilkan berbagai produk unggulan yang dapat dimaanfaatkan oleh masyarakat. Apalagi dengan makanan khas Nasi Padang, yang sudah dikenal luas oleh masyarakat. (rel fateta)

Profil Saribulih

mm
Seorang praktisi pers yang juga bergerak dibidang pendidikan. Menulis dan berorganisasi merupakan hal yang mutlak baginya. Prinsipnya, seorang guru harus jadi penulis, karena dengan menulislah cakrawala dan kemampuan akan terus terasah. Organisasi juga suatu kebutuhan, karena bisa dimanfaatkan untuk bertukar pikiran

Baca Juga

Padang Lakukan Penyekatan PPKM dari RT Hingga Kelurahan

SPIRITSUMBAR.com, Padang – Perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level IV harus diimbangi dengan pengawasan ...