Beranda - Pendidikan - Usia Dini - Dilema Belajar di Rumah Bagi Anak Usia Dini Saat Pandemi
Agnesty Marchia asesor PAUD berdomisili di Kota Solok

Dilema Belajar di Rumah Bagi Anak Usia Dini Saat Pandemi

Print Friendly, PDF & Email

Oleh: Agnesty Marchia*

 

Anak Usia Dini tidak hanya sekedar membutuhkan materi pelajaran, akan tetapi lebih dari itu, Ia lebih butuh dukungan emosional yang membangun kedekatan anak dengan guru.

Karena pada hakikatnya anak usia dini adalah makhluk yang lebih membutuhkan figur guru di dekatnya untuk berinteraksi, yang memberikan senyuman hangat, rasa aman, dan selalu siap dengan slogan 5S ( Senyum, Salam, Sapa,Sopan dan Santun).

Pandemi covid 19 ternyata memiliki dampak yang cukup signifikan dalam semua aspek kehidupan manusia, termasuk dalam bidang pendidikan. Lazimnya  anak belajar di sekolah bersama dengan guru dan teman-temannya, akan tetapi kali ini anak terpaksa harus dirumahkan.

Mendadak dirumahkan mengakibatkan keterkejutan pada anak, tidak hanya pada anak tetapi juga pada guru dan orang tua. Sistem yang tiba-tiba berubah tersebut tidak hanya dialami oleh siswa di level siswa paling bawah maupun dari paling atas. Dunia pendidikan anak usia dini juga menerima dampak tersebut.

Salah satu prinsip pembelajaran anak usia dini adalah  belajar sambil bermain yang mana dengan adanya pandemi covid 19 secara otomatis juga memutus kegiatan tersebut.

Belajar adalah hak anak anak usia dini, di sekolah ia bertemu dengan teman-teman dan guru-guru disambil berkegiatan di sekolah. Akan tetapi dengan adanya covid 19 ini anak-anak menjadi korban yang paling besar.

Dengan adanya hal tersebut, pemerintah Republi Indonesia melalui Kemendikbud membentuk sebuah surat edaran Sekjen Kemendikbud nomor 15 tahun 2020, tentang pedoman penyelenggaraan belajar dari rumah. Dimana anak-anak lebih ditekankan untuk belajar di rumah atau disingkat dengan istilah BDR.

Bejar mewarnai di rumah

Penerapan belajar dari rumah pada anak usia dini dilaksanakan dengan pembelajaran jarak jauh yang terbagi dalam dua pendekatan yang pertama adalah ;

Pendekatan dalam Jaringan atau Daring .

Pembelajaran di rumah secara daring dapat menggunakan gawai atau gadget maupun melalui beberapa portal dan aplikasi pembelajaran daring. Di daring ini kita menggunakan media aplikasi, media sosial yang pertama adalah yang paling umum digunakan yaitu media WhatsApp.

Melalui WhatsApp ini guru melakukan koordinasi dengan orang tua, dengan menyiapkan bahan pembelajaran yang telah disiapkan,  mungkin dilaksanakan oleh anak di rumah dibawah pengawasan orang tua. Selanjutnya  ada yang menggunakan aplikasi Cisco Webex Zoom dan Google Drive.

Daring ini sedikit memiliki kendala penerapannya di PAUD, khususnya PAUD Non formal, diantara kendala itu adalah status ekonomi, dimana tidak semua orang tua berstatus ekonomi menengah ke atas. Pada orang tua yang berekonomi menengah ke bawah biasanya tidak memiliki HP Android, ataupun laptop.

Jika pun ada, cuma jumlah orang tua seperti itu tidak banyak, kalangan  orangtua ekonomi kebawah lebih memilih untuk memenuhi kebutuhan pokok dibandingkan harus mengisi paket data.

Ada juga kendala lain yang dihadapi yaitu kurangnya kerjasama antara orang tua dan guru sehingga terkadang orang tua kurangpeduli  bahkan tidak merespon.

Pendekatan Luar Jaringan atau Luring

Pendekatan Luar Jaringan atau Luring. Dalam pendekatan luring menggunakan beberapa beberapa media dan sumber belajar  seperti buku , modul, lembar kerja atau bahan ajar dari lingkungan sekitar. Kegiatan ini dapat diciptakan dan  dilaksanakan oleh orang tua melalui koordinasi dengan guru.

Kegiatan pembelajaran menggunakan barang-barang yang ada di sekitar lingkungan rumah. Seperti kegiatan membilang garpu di dapur, kolase daun di sekitar rumah, anak mewarnai dan kegiatan menanam bunga serta kegiatan lain yang dekat dengan anak. Pada pembelajaran ini dokumentasi kegiatan anak dijadikan sebagai bukti penilaian.

Media selanjutnya adalah TV edukasi dan radio edukasi yang  berisi tentang beberapa konten materi pembelajaran.

Anak usia dini belajar di rumah

Keseluruhan pendekatan di atas sama-sama memiliki kekurangan dan kelebihan, akan tetapi guru dapat menyesuaikan dengan kondisi yang ditemui dilapangan. Penambahan home visit oleh guru yang dijadwalkan juga sangat membantu memenuhi kebutuhan belajar anak. Tidak hanya kebutuhan secara materi pelajaran, akan tetapi juga dukungan emosional yang membangun kedekatan anak dengan guru. Bahkan juga edekatan guru dengan orang tua.

Karena pada hakikatnya anak usia dini adalah makhluk yang lebih membutuhkan figur guru di dekatnya untuk berinteraksi yang memberikan senyuman hangat, rasa aman, dan selalu siap dengan slogan 5S ( Senyum, Salam, Sapa,Sopan dan Santun).

Home visit oleh guru yang dijadwalkan ini ternyata juga mempererat hubungan silaturahmi antara orang tua dengan guru. Orangtua dan guru bersinergi dalam memantau perkembangan ,aktifitas serta kegiatan belajar anak. Hubungan antara guru dan orang tua menjadi lebih erat dan masif.

*Agnesty Marchia adalah asesor PAUD dan berdomisili di Kota Solok

Tentang Eri Satri

mm

Baca Juga

Empat Cara Mengatasi Tantrum Pada Anak

Tantrum adalah keadaan ketika anak meluapkan emosinya dengan cara menangis kencang, berguling-guling di lantai, hingga ...