Dari Tour Kerinci-2: Ekspor ke Eropa, kayu manis Kerinci Jadi Primadona Lagi

oleh

Adanya pasar langsung ke Eropa dengan harga relatif tinggi itu, tidak saja jadi peluang besar bagi petani di Kerinci mengembangkan usaha. Juga alat ampuh untuk menstabilkan harga kulit manis dan kopi di Kerinci, karena ada rujukan harga lewat pasar ekspor tadi. Kuncinya, tinggal menjaga kepercayaan pasar ekspor itu.

Tadinya, akibat harganya yang jatuh begitu lama, di antara petani merubah sebagian atau keseluruhan kebun kayu manisnya ke tanaman produktif lain. Dampaknya, seperti terungkap dari publikasi Pertanian (Kementan) RI, areal tanaman kayu manis di tanah air berkurang dari 140.969 Ha (2003) ke sekitar 94.604 Ha (2017).

Di Kerinci, Provinsi Jambi, areal kebun kayu manis juga menyusut. Belakangan, luas kebun kayu manis, tanaman industri itu di Kerinci menurut Kementan RI tadinya di atas 50.000 Ha, turun jadi sekitar 40.687 Ha. Meski turun, Kerinci masih kabupaten dengan areal tanam dan produsen kayu manis terbesar di Indonesia.

Sementara itu di Sumatera Barat, provinsi penghasil kayu manis terbesar kedua di tanah air setelah Prov. Jambi, areal kebun kayu manisnya juga turun. Data BPS 2020 mencatat 30.369,80 Ha, turun dari 39.885,50 Ha (2010). Lokasi kebun kayu manis 30.369,80 Ha itu tersebar di 19 kab/kota. Areal tanam terluas di Kab. Solok 9.966 Ha.

Menarik dibaca