Beranda - Pendidikan - Artikel - Dari Rencana ke Rancangan
Sukirman
Sukirman

Dari Rencana ke Rancangan

Print Friendly, PDF & Email

Oleh: Sukirman (Widyaiswara Madya LPMP Sumbar)

Jika seorang guru mengajarkan seluruh materi yang dijabarkan pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran(RPP) dan melaksanakan pembelajaran dengan mengikuti semua prosedur yang tercantum pada RPP tersebut.

Kita akan beranggapan bahwa pelajaran tersebut sukses. Sebaliknya, jika seorang guru mengajar tidak mengikuti persis seperti yang ada pada RPP. Kita akan selalu memberi penilaian bahwa pembelajaran itu gagal.

Pendapat tersebut, di satu sisi ada benarnya juga, karena, jika tidak diikuti, untuk apa kita membuat perencanaan tersebut. Pendapat ini sangat logis dan digunakan secara luas oleh banyak sektor sosial. Khususnya dalam pengembangan industri modern selama abad ke-20.

Terutama untuk meningkatkan barang produksi dalam jumlah besar yang dibutuhkan untuk memproduksi barang dengan kualitas yang sama sebanyak mungkin dalam waktu yang terbatas. Pekerja diminta untuk secara ketat mengikuti petunjuk kerja untuk memproduksi barang dengan kualitas yang sama.

Petunjuk yang digunakan pada sistem semacam itu dapat digunakan pada daerah manapun oleh siapapun. Maka hanya dengan mengikuti petunjuk tersebut, semua orang dapat memproduksi barang yang sama dengan kualitas yang sama.

Namun demikian, pada sektor pendidikan, suatu pelajaran bukanlah barang yang diproduksi dalam jumlah besar. Pelajaran bukanlah kegiatan yang dilaksanakan secara otomatis dan mekanis, namun lebih merupakan kegiatan yang dinamis dan kompleks yang tidak dapat dipastikan dengan sejumlah kerangka kerja atau prosedur.




Pelajaran itu adalah ‘makhluk hidup’.

Pelajaran yang sama tidak akan bisa diproduksi ulang, bahkan jika guru yang sama melaksanakannya pada situasi yang sama. Hal ini karena targetnya adalah siswa yang secara konstan meningkat dan tumbuh hari demi hari.

Setiap pelajaran masing-masing memiliki ciri khas unik dan keistimewaan-keistimewaan yang tidak dapat diproduksi ulang. Jadi kita harus keluar dari pemikirian konvensional mengenai pelajaran tersebut dan harus menerima pemikiran baru tentang pelajaran.

Pada saat ini beberapa pendidik menyebut pemikiran baru ini sebagai ‘Rancangan Pembelajaran’. Ide baru mengenai ‘Rancangan Pembelajaran’ menjadi populer dan diterima secara luas pada sektor pendidikan. ‘Rancangan Pembelajaran’ artinya merancang suatu pelajaran.

Sementara ‘Rencana Pembelajaran’ (RPP) lebih berfokus pada merencanakan suatu pelajaran, ‘Rancangan Pembelajaran’ berfokus pada setiap langkah dari suatu pelajaran; perencanaan, implementasi, dan refleksi, dan lebih difokuskan pada masa implementasi. Itulah sebabnya kenapa seorang guru perlu merancang suatu pembelajaran.

Tentu saja, kita juga tidak menampik bahwa perencanaan juga merupakan tahapan yang penting. Perencanaan yang cermat dapat menghasilkan pelajaran yang terfokus dan dapat dimengerti.
Pada saat merancang sesuatu, harus ada tujuan yang jelas dan orang-orang yang ditargetkan yang membutuhkan sesuatu itu.

Jadi apa yang dirancangkan biasanya digunakan oleh orang-orang tertentu untuk mencapai tujuan tertentu. Tidak seperti “Rencana Pembelajaran”, mengenai dimana rencana ini digunakan, siapa yang menggunakannya, dan kapan digunakannya merupakan aspek-aspek yang paling penting dalam “Rancangan Pembelajaran”.

Dengan demikian, maka apa yang kita rancangkan tidak dapat digunakan pada waktu lain dan oleh orang lain. Bahkan jika telah digunakan, maka hasilnya akan sungguh-sungguh berbeda.

Pada “Rancangan Pembelajaran,” kita harus mengingat bahwa suatu rencana pembelajaran (RPP) bukanlah suatu petunjuk yang mutlak. Namun hanyalah satu hal yang memperlihatkan petunjuk teoritis tentang pelajaran itu.

Karena itu, kita dapat merujuk pada RPP selama pelaksanaan pelajaran, tapi kita tidak dapat melaksanakan pelajaran sama persis seperti yang dijabarkan pada RPP tersebut. Selama kelas berlangsung, kita diminta untuk memahami situasi pembelajaran siswa secara konstan.

Karena situasi mereka akan terus menerus berubah. Kita juga diminta untuk menyesuaikan perencanaan kita dengan situasi pembelajaran siswa di tempat.

Hal ini merupakan bagian tersulit bagi kita. Namun, tanpa penyesuaian semacam itu, suatu pelajaran akan menjadi tidak menarik dan tidak diminati oleh siswa. Pada akhirnya, siswa akan kehilangan konsentrasi mereka terhadap pelajaran.

Karena itu, tingkat pemahaman siswa tidak akan bisa meningkat. Jadi, kapan dan bagaimana kita menilai apakah RPP kita harus disesuaikan? Ini merupakan pertanyaan yang cukup sulit. Namun, yang pasti untuk membuat penilaian yang lebih baik.

Maka sangatlah penting bagi kita untuk terus-menerus memperhatikan sikap dan ekspresi wajah siswa secara seksama. Begitu mereka memperlihatkan kesulitan atau ekspresi wajah tidak berminat, maka pada saat itulah kita dapat membuat penyesuaian pada RPP kita menjadi realitas pembelajaran siswa.


Baca Juga :



Tentang Saribulih

mm
Seorang praktisi pers yang juga bergerak dibidang pendidikan. Menulis dan berorganisasi merupakan hal yang mutlak baginya. Prinsipnya, seorang guru harus jadi penulis, karena dengan menulislah cakrawala dan kemampuan akan terus terasah. Organisasi juga suatu kebutuhan, karena bisa dimanfaatkan untuk bertukar pikiran

Baca Juga

Fachrul Razi

Breaking News, Menag Batalkan Keberangkatan Jemaah Haji

Spiritsumbar.com, Jakarta – Menteri Agama Fachrul Razi memastikan bahwa keberangkatan Jemaah haji pada penyelenggaraan ibadah ...