Depan - Berita Pilihan - Catatan-1, Derliana Raih Doktor; Ada Inovasi PBM Fiqih di MA-KMM Kauman, Padang Panjang
Dr.Derliana, M.Si
Dr.Derliana, M.Si

Catatan-1, Derliana Raih Doktor; Ada Inovasi PBM Fiqih di MA-KMM Kauman, Padang Panjang

Print Friendly, PDF & Email

Padang Panjang, Spirit Sumbar – Meraih gelar doktor (S3) untuk program studi  pendidikan agama Islam  dari Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol, Padang, 24 Mei 2021 lalu. Itulah sukses terbaru dari beberapa sukses yang diraih oleh Derliana sejak tampil jadi Kepala Madrasah di MA-KMM Kauman, Padang Panjang.

Derliana, kelahiran Pasir Pengaraian, Riau, 43 tahun silam itu merupakan alumni perempuan kedua dari MA-KMM Kauman Padang Panjang yang meraih doktor. Yang pertama itu Prof.Dr.Zakia Darajat, wanita kelahiran Bukittinggi, Sumatera Barat 6 November 1929, meraih S3 di Universitas Eim Shams, Mesir, 1959 untuk prodi psikologi.

Ada 5 orang profesor (guru besar) dan 2 orang doktor yang tampil sebagai tim penguji atas tesis S3 Derliana dengan judul; Pengembangan Pembelajaran Fiqih Berbasis Pondok Pesantren Di MA-KMM Kauman, Padang Panjang” dalam sidang terbuka secara virtual pada Senin 24 Mei 2021 lalu itu.

Mereka, para tim penguji karya penelitian Derliana tersebut, terdiri Prof.Dr.Martin Kustati sebagai ketua tim, Dr.Rehani (sekretaris tim), Prof.Dr.Alaiddin Koto, Prof.Dr.Asasriwarni, Dr.Yasmadi, Prof.Dr.Syafrudin Nurdin dan Prof.Dr.Zulmuqim (anggota tim).

Hasil sidang kompre, Derliana dinyatakan lulus dengan nilai memuaskan. Gelar Doktor (disingkat; Dr) pun hadir secara sah di depan namanya yakni Dr.Derliana. Alhamdulillah, kata Ummi Der, demikian Derliana biasa disapa oleh para santri di MA-KMM Kauman, Padang Panjang, berucap syukur atas keberhasilan itu.

Terkait sukses itu, Derliana berterimakasih kepada Kemenag RI — yang menyediakan beasiswa MORA 5000 doktor dimana Derliana salah seorang pesertanya. Berikut, kepada Kemenag Prov Sumbar dan Kota Padang Panjang, civitas UIN-IB Padang, keluarga besar MA-KMM Kauman, keluarga dan pihak terkait lainnya.

Penelitian tadi menurut Derliana, dedikasikan untuk MA-KMM Kauman, madrasah setingkat aliyah yang berdiri 1930 dengan kepala madrasah pertamanya Buya HAMKA. Dan itu seperti terungkap dari bincang dengan Derliana, sudah berjalan sejak beberapa tahun ini, lantaran terkait penelitian program S3 nya.

Dari penelitian ini, inovasi pola belajar-mengajar (PBM) yang dikembangkan di MA-KMM Kauman untuk mata studi fiqih antara lain, bahasa pengantar memakai Bahasa Arab, buku/kitab pegangan juga berbahasa Arab. Guru fiqih selain menguasai ilmu fiqih, juga menguasai Bahasa Arab dan bisa baca/artikan kitab gundul.

Tidak hanya itu, terhadap materi pelajaran yang diberikan oleh guru, siswa boleh bertanya, bahkan  mendebat guru, asal sopan. Berikut, siswa dibimbing berdiskusi/debat sesama mereka atas materi pelajaran tadi, dan kemudian mempresentasikan serapannya  atas materi tersebut di depan kelas.

Upaya agar siswa bisa berbahasa arab, tulis dan lisan, termasuk membaca/artikan kitab gundul (kitab berbahasa arab tanpa baris), ada belajar tambahan pola halaqah di asrama. Itu sebabnya, MA-KMM ini belakangan juga dikenalkan dengan sebutan Pondok Pesantren Muhammadiyah (PontrenMu) Kauman, Padang Panjang.

Lewat kolaborasi PBM mata studi fiqih di kelas dan di asrama itu, siswa tidak saja relatif lebih cepat mengerti dan memahami setiap materi diberikan guru. Tapi juga bagus untuk membantu siswa belajar dan menguasai Bahasa Arab, termasuk membaca dan mengartikan kitab gundul atau disebut juga dengan kitab kuning.

 Inovasi tadi dari indikator yang terlihat diyakini berpotensi menyiapkan kader-kader ulama ke depan. Sebab, sumber ilmu pengetahuan tentang Islam, salah satu ilmu fiqih, terdapat pada kitab-kitab berbahasa Arab dengan sumber induknya Al Quran dan Hadist. Jadi, akan lebih mudah/cepat menguasainya jika menguasai Bahasa Arab.(yet/jym).–

Profil Yetti Harni

mm

Baca Juga

Padang Lakukan Penyekatan PPKM dari RT Hingga Kelurahan

SPIRITSUMBAR.com, Padang – Perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level IV harus diimbangi dengan pengawasan ...