Beranda - Covid19 - Butuh Pemimpin Abnormal untuk Perangi Covid-19
Djohermansyah Djohan
Djohermansyah Djohan

Butuh Pemimpin Abnormal untuk Perangi Covid-19

Print Friendly, PDF & Email

Spiritsumbar.com, Jakarta – Guru besar IPDN, Prof. Dr. Drs. H. Djohermansyah Djohan, M.A merasa resah dengan semakin merebaknya penyebaran virus corona (Covid-19) di Tanah Air.

Sementara ia menilai, salah satu penyebab terus merebaknya pandemi Covid-19 adalah akibat penanganan yang belum dikelola dengan baik. Seperti menulis bait-bait puisi, Pakar Otonomi Daerah yang akrab disapa Prof Djo ini mengungkapkan kegelisahan sekaligus mendorong pemerintah untuk bertindak di luar pakemnya, melalui akun Facebook-nya (Kamis, 2/4/2020). Berikut cuplikannya :

“KEPEMIMPINAN ABNORMAL
Sudah lebih dari 200 negara kena wabah Covid-19.
Tidak hanya bupati, menteri, beberapa kepala pemerintahan positif corona.
Bahkan, dokter dan perawat pasien coronapun wafat.


Artikel Lainnya

loading…


Warga masyarakat yanvg masih sehat harus dijauhkan dari virus.
Isolasi diri, berkurung di rumah, jaga jarak fisik, bermasker, dan kuatkan imunitas perlu dilakoni.

Kini, roda ekonomi mulai melambat.
Bahaya kelaparan bisa mengancam masyarakat.
Andalan tinggal pemerintah yang perlu dibantu oleh mereka yang berpunya dan berilmu.
Keligatan aktor pemerintah menjadi penentu.
Memimpin perang menaklukkan musuh.

Kepemimpinan biasa yang alon-alon asal kelakon, normatif-regulatif, bekerja di belakang meja, one man show, dan terlalu terpaku hierarkhi tidak akan mampu mengatasi keganasan wabah ini.
Pemimpin pemerintahan kita perlu mengadopsi gaya kepemimpinan abnormal.

Gaya memimpin di zaman perang ala tentara. Hajar dulu, urusan belakangan, tak bertele-tele, red-tape, to the points, dan anti ewuh-pakewuh.
Dengan gaya yang sedikit kurang demokratis itu, saya yakin orang yang tidak positif corona bakal selamat, dan orang yang sudah terjangkit akan sembuh”

Saat dihubungi melalui media online, Presiden Institut Otonomi Daerah ini mengaku geregetan dengan sejumlah langkah yang masih saja terlampau prosedural seperti perdebatan soal istilah-istilah antara lockdown, karantina wilayah, karantina terbatas selektif, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), hingga kehebohan tentang istilah darurat sipil.

“Ya belum lagi perdebatan social distancing yang diubah dengan physical distancing. Itu tidak begitu urgen, istilah apapun namanya, yang paling utama itu adalah langkah penyelamatan rakyat. Jadi atas nama demi keselamatan rakyat, maka tempuhlah langkah apapun itu. Soal istilah, kelengkapan administrasi, dan lain-lain nomor berikutnya.”

Prof Djo yang sempat dijuluki “The Little JK” ini menuturkan pengalamannya saat menjadi Deputi Bidang Politik Wapres Jusuf Kalla, (2004-2009) “saya banyak belajar dan mengikuti sepak terjang Pak JK terutama dalam menangani bencana nasional. Beliau tidak ragu kasih perintah walaupun berada di posisi RI 2. Karena niatnya jelas, ketika bencana melanda, yang diharapkan adalah kecepatan bertindak. Ini adalah urusan nyawa orang, urusan lain-lain bisa nyusul.”

Mantan Pj Gubernur Riau (2013-2014) ini mengatakan bahwa hari ini merupakan genap satu bulan penanganan Covid-19 akan tetapi belum menunjukkan bahwa pandemi ini telah dapat dikendalikan. “Sebelum ini saya telah katakan, bahwa tongkat komando penanganan corona ini ada di tangan presiden. Daerah bisa ambil sikap untuk menutup objek wisata daerah, meliburkan anak sekolah, menyuruh pegawai daerah bekerja dari rumah, hingga pembatasan kegiatan ibadah. Namun, kondisi sekarang, rakyat di ibu kota yang kesusahan karena minimnya penghasilan terpaksa berbondong-bondong mudik, pulang kampung. Ini dikhawatirkan akan memperluas penyebaran pandemik Covid-19. Nah, hal serupa ini yang seharusnya dapat diantisipasi jauh hari.”

“Satu lagi, saya melihat ada satu-dua pembantu presiden yang kurang penuh membantu presiden menangani corona. Memaksakan kebijakan yang tidak relevan padahal presiden sedang berfokus menekan jumlah korban Covid-19.

Sikapnya ini jelas makin meningkatkan tensi publik. “Sewaktu pemerintahan SBY-JK menteri seperti ini tak lama umurnya di kabinet alias segera dicopot”, kata Prof Djo blak-blakan.



 

Tentang Saribulih

mm
Seorang praktisi pers yang juga bergerak dibidang pendidikan. Menulis dan berorganisasi merupakan hal yang mutlak baginya. Prinsipnya, seorang guru harus jadi penulis, karena dengan menulislah cakrawala dan kemampuan akan terus terasah. Organisasi juga suatu kebutuhan, karena bisa dimanfaatkan untuk bertukar pikiran

Baca Juga

Pantauan udara pascabanjir bandang yang melanda tiga kecamatan di Kabupaten Sukabumi pada Senin (21/9/2020)

Pemkab Sukabumi Tetapkan Status Darurat 7 Hari

SPIRITSUMBAR.COM, Jakarta – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sukabumi terus melakukan penanganan darurat pascabanjir bandang yang melanda ...