Depan - Pariwisata - Budaya - Berkaca Pada Saribu Gonjong
Bagian Gonjong Sarugo diambil dari sisi atas rumah. (Foto: Detik Travel)
Bagian Gonjong Sarugo diambil dari sisi atas rumah. (Foto: Detik Travel)

Berkaca Pada Saribu Gonjong

Print Friendly, PDF & Email

Insan kreatif merupakan ujung tombak perkembangan wisata yang ada di daerah-daerah. Rasa kepedulian masyarakat terhadap lingkungan menjadi faktor utama untuk perubahan ke arah yang lebih baik. Pemanfaatan lingkungan sekitar menjadi salah satu bentuk sebagai rasa peduli masyarakat. Hal ini dapat dibuktikan oleh Kampung Sarugo.

Kampung Sarugo yaitu kampung Saribu Gonjong terletak di Jorong Sungai Dadok, Nagari Koto Tinggi Kec. Gunuang Omeh Payakumbuh, Sumatera Barat. Sungai Dadok menjadi satu-satunya jorong di Koto Tinggi yang memiliki ciri khas tersendiri. Mempertahankan gonjong pada Rumah Gadang yang memiliki simbol rukun islam, ditunjukan pada setiap rumah yang memiliki gonjong berjumlah 5. Gonjong Rumah Gadang merupakan salah satu bentuk ciri kebudayaan Sumatera Barat. Keadaan lingkungan dimanfaatkan masyarakat sebagai wujud budaya, dibimbing oleh mahasiswa Muhammadiyah (UMSB) dalam rangka pengabdian KKN sehingga kampung ini dijadikan kampung adat SARUGO (Saribu Rumah Gadang). Dukungan diberikan kepala jorong dan pemerintah desa serta kerja sama yang solid antar masyarakat bisa membawakan hasil baik bagi jorong ini.

Apresiasi masyarakat pun dibuktikan dengan adanya peresmian Saribu Gonjong, September 2019. Bergeraknya muda-mudi dalam penggerakan pagelaran seni yang sering dilakukan masyarakat, hingga saat ini masyarakat menyediakan Homestay pada daerah bagi yang ingin menikmati pesona alam yang sungguh asri di desa ini. Keyakinan masyarakat dalam pengembangan pariwisata dibidang budaya memberikan hasil yang baik. Setahun setelah dilakukannya peresmian, kampung Sarugo diberikan apresiasi pariwisata Indonesia (API) sebagai nominasi kampung adat. Wujud sabar dari masyarakat yang merasa bahwa kampung adalah daerah terpencil dari pusat kota yang memiliki jarak tempuh 1.5 jam dari pusat kota, bahkan dirasa kurang diperhatikan pemerintah terkait namun mereka dapat membuktikan bahwa hal yang tak mungkin dapat dijangkau orang luar saat ini mulai dikenal dan mulai dikunjungi oleh wisatawan.

Adapun hal yang patut ditiru dalam perkembangan suatu tempat wisata lainnya adalah rasa kebersamaan dalam membangun daerah, rasa cinta, serta rasa memiliki terhadap budaya yang ada dilingkungan, membuat aksi dalam perkembangan daerah, selalu berinovasi dalam kemajuan suatu wisata.

Tiang dari segalanya ialah masyarakat yang memiliki rasa memiliki. Jadi dapat disimpulkan untuk kemajuan wisata lainnya dengan memulai menumbuhkan rasa cinta, peduli, memiliki, serta ciptakan gerakan sadar akan wisata sekitar, sehingga wisata-wisata Sumatera Barat dapat dilirik oleh wisatawan luar. Penulis: Fitri Nurmayanti Kusumo Wibowo (Karyasiswa Pascasarjana ISI Padang Panjang).

Penulis

Profil Yetti Harni

mm

Baca Juga

Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit Dt. Malintang Panai membuka acara Festival Ekonomi kreatif Tahun 2020

FKAN Pauh IX, dari Seni Budaya ke Ekonomi Masyarakat

Spiritsumbar.com, Padang – Kita mengapresiasi kegiatan pagelaran budaya karya produk ekonomi kreatif Forum Komunikasi Anak ...