Seringkali di setiap kesempatan, bahkan saat apel atau upacara, lanjut Wagub Audy, dirinya sering diberi kesempatan oleh Mahyeldi untuk ikut memberikan sambutan, tapi ditolaknya.
Karena dalam etikanya, pembina upacara itu hanya satu. Inspektur upacara itu hanya satu. Beda saat rapat-rapat bersama.
“Karena, kita sama sama sepakat untuk bekerja saja untuk Sumbar, berupaya merealisasikan program-program semasa kampanye, bagaimana masyarakat sejahtera dan Sumbar lebih maju,” ucap Audy.
Bicara soal banyak retaknya hubungan kepala daerah dengan wakilnya, apalagi jelang pilkada, Audy mengaku cukup prihatin. Wakil kepala daerah itu harus punya etika dan tahu diri. Jangan hanya karena kepentingan tertentu, kerja jadi terbengkalai. Sibuk dengan urusan politisasi sehingga merugikan daerah dan masyarakat.
“Wakil kepala daerah itu, tajam tidak melukai, pintar tidak menggurui dan harus paham dengan tupoksinya sebagai wakil,” pungkas Wagub Audy. (Salih)