Beranda - Berita Pilihan - Alppind Gelar Webinar Titik Krisis RUU PKS dan RUU Ketahanan Keluarga
Launching Organisasi Aliansi Perempuan Peduli Indonesia (ALPPIND) Wilayah Sumatera Barat
Launching Organisasi Aliansi Perempuan Peduli Indonesia (ALPPIND) Wilayah Sumatera Barat

Alppind Gelar Webinar Titik Krisis RUU PKS dan RUU Ketahanan Keluarga

Print Friendly, PDF & Email

SPIRITSUMBAR.com, Padang – Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Aliansi Perempuan Peduli Indonesia (ALPPIND) Sumatera Barat gelar seminar/Webinar Ketahanan Keluarga dengan tema “Titik Kritis RUU Ketahanan Keluarga dan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual, Sabtu, 26 September 2020 di Auditorium Gubernuran Sumatera Barat.

Tema ini dipilih karena meskipun kedua RUU ini telah lama diajukan ke lembaga legislatif yakni DPR RI, namun sampai saat ini belum mendapatkan pengesahan dari DPR RI. Hal ini disebabkan karena Kedua RUU mulai dari proses, konsep, kajian akademis, penyusunan kontent, telah menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat.

“Padahal kita yakin bahwa kedua RUU ini bertujuan untuk mengatasi persoalan-persoalan yang sedang marak terjadi di lingkungan masyarakat. RUU Ketahanan Keluarga muncul karena rapuhnya institusi keluarga sehingga semakin tingginya tingkat perceraian, narkoba, penyimpangan seksual dan kaum LGBT di Indonesia,” Ketua ALPPIND PW Sumatera Barat Hj. Nevi Zuairina

Sementara RUU Penghapusan Kekerasan Seksual  ujarnya, bertujuan untuk mengatasi maraknya kekerasan terutama kekerasan seksual, sehingga Indonesia sudah dipandang sebagai negara darurat kekerasan.



Oleh karena itu PW Alppind Sumatera Barat mengajak organisasi masyarakat peduli perempuan dan anak, LSM, organisasi keagamaan, dan organisasi adat dan budaya, serta masyarakat secara umum untuk duduk bersama mempelajari, memahami, dan menghayati kekuatan dan kelemahan kedua RUU tersebut. Sehingga diperoleh masukan untuk kesempurnaan kedua RUU ini.

“Diharapkan melalui seminar/webinar dapat memberikan kontribusi yang berharga, untuk DPR RI karena salah satu fungsi anggota legislatif adalah fungsi legisasi, dimana legislator harus merumuskan kebijakan yang tidak menimbulkan potensi diskriminasi, atau pelanggaran terhadap hak perempuan dan anak, serta mendorong penerapan ekosistem yang ramah terhadap perempuan dan di lokasi terbuka,” ujarnya saat memberi sambutan.

Alppind ujarnya adalah organisasi masyarakat yang memiliki misi sebagai wadah bagi para muslimah untuk ikut berperan aktif mengentaskan persoalan-persoalan bangsa dan turut serta dalam mendidik perempuan-perempuan Indonesia dalam segala sisinya. Fokus utama perjuangan ALPPIND adalah penguatan keluarga dalam pembangunan nasional karena peran keluarga tidak dapat dikesampingkan dalam pembentukan sumber daya manusia berkualitas untuk bangsa dan negara.

Ketahanan Keluarga sangat urgen kerena keluarga merupakan lembaga sosial pertama yang didalamnya individu memulai kehidupannya, keluarga merupakan temapt seseorang mendapatkan berbagai nilai dan moral serta terbentuknya karakter, masyarakat dan negara tidak akan baik kecuali dengan baiknya bangunan keluarga

Webinar menghadirkan pemateri, Prof. Dr. Euis Sunarti, yang membahas Titik Krisis RUU Ketahanan Keluarga dan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual. Dia menjelaskan bahwa ketahanan keluarga sangat penting. Dari lingkungan sosial yang terkecil ini bisa memperkuat Ketahanan Negara.

Sementara, Anggota DPR RI, Hj. Nevi Zuairina  menjelaskan panjang lebar tentang peran DPR RI dalam melahirkan kebijakan yang berpihak pada perempuan dan keluarga. Menurutnya, DPR RI siap melahirkan kebijakan yang berpihak pada perempuan dan keluarga. Dia juga mengatakan bahwa ALPPIND ini kedepannya diharapkan dapat memberikan kontribusi positif bagi perempuan-perempuan Sumatera Barat.

Pada kesempatan itu juga dilakukan  Launching Organisasi Aliansi Perempuan Peduli Indonesia (ALPPIND) Wilayah Sumatera Barat yang dilantik langsung oleh Gubernur Prov. Sumbar,  Irwan Prayitno

Tip & Trik

loading…


Tentang Saribulih

mm
Seorang praktisi pers yang juga bergerak dibidang pendidikan. Menulis dan berorganisasi merupakan hal yang mutlak baginya. Prinsipnya, seorang guru harus jadi penulis, karena dengan menulislah cakrawala dan kemampuan akan terus terasah. Organisasi juga suatu kebutuhan, karena bisa dimanfaatkan untuk bertukar pikiran

Baca Juga

Hari Santri, PWNU Sumbar Hadirkan Cak Imin dan Maidir Harun

SPIRITSUMBAR.COM, Padang – Memeriahkan Hari Santri yang jatuh setiap tanggal 22 Oktober setiap tahunnya, Pengurus ...