Minggu , 26 September 2021
Depan - Berita Pilihan - Ada 266 Orang Lansia Terlantar di Padang Panjang
Osman, Kepala Dinas Sosial Kota Padang Panjang.
Osman, Kepala Dinas Sosial Kota Padang Panjang.

Ada 266 Orang Lansia Terlantar di Padang Panjang

Print Friendly, PDF & Email

Padang Panjang, Spiritsumbar.com – Di Kota Padang Panjang sekarang terdapat sebanyak 266 orang tua lanjut usia (Lansia) terlantar. Dari jumlah itu baru 90 orang yang sudah mendapat bantuan konsumtif dari Dinas Sosial setempat, sedangkan 176 orang lagi belum dapat bantuan tersebut.

Itulah salah satu persoalan sosial yang cukup serius dihadapi oleh Pemerintah Kota (Pemko) Padang Panjang, seperti terungkap dari bincang Spirit Sumbar dengan Kepala Dinas Sosial setempat, Osman di kantornya, Jalan Anas Karim, kawasan pusat kota Serambi Mekah tersebut, Januari 2021 ini.

Persoalan sosial lain itu adalah angka kemiskinan yang masih cukup tinggi, sesuai data BPS sekitar 5,2 %, turun sedikit dari sebelumnya 5,7% . Berikut, dari hasil pendataan yang dilakukan oleh pihak Dinas Sosial sendiri di lapangan didapati disabilitas terlantar sebanyak 79 orang, dan anak terlantar 26 orang.

Terkait data 266 orang Lansia terlantar, itu hasil pendataan pihak Dinas Sosial ke rumah-rumah warga. Indikatornya antara lain, kesulitan memenuhi kebutuhan hidup, terutama untuk makan-minum, karena faktor ekonomi. Tidak ada orang yang mengurusnya. Tempat tinggal tidak/sangat tidak layak.

Kini, dari 266 orang Lansia terlantar yang tinggal tersebar di Kota Padang Panjang itu yang sudah dibantu pemerintah baru 90 orang, naik dari sebelumnya 70 orang. Nilai bantuannya Rp 200.000/orang perbulan untuk 6 bulan dalam setahun. Atau sekitar Rp 1,2 juta/orang per tahun. Sedang 176 orang lagi, belum.

Menjawab pertanyaan Spiritsumbar.com, Osman menyebut, Dinas Sosial  telah mengusulkan bantuan serupa untuk  Lansia terlantar lainnya. Tapi bagaimana realisasinya nanti, kita belum tahu. Sebab, itu terkait dengan perkembangan kucuran bantuan dari pusat dan kondisi keuangan daerah.

Tapi terkait upaya membantu Lansia terlantar itu, juga ada program bantuan peralatan kamar tidur. Kecuali itu, untuk kebutuhan berobat, sebagai warga kota Lansia terlantar itu juga berhak atas layanan dokter warga, layanan panggilan darurat PSC-119, dan Askes JPKM-PP. Berikut, layanan Rumah Healing yang akan berdiri pada 2021 ini.

Berbagai program bantuan itu mungkin belum cukup. Apalagi, ada 176 orang Lansia terlantar lain yang belum mendapat bantuan konsumtif. Sebab, jenis kebutuhan seorang Lansia terlantar itu cukup banyak, di antaranya;

  1. Makan-minum
  2. Rumah/kamar tempat tinggal yang agak layak
  3. Pakaian, termasuk peralatan tidur yg agak layak
  4. Bantuan orang lain untuk masak, mencuci dan membersihkan rumah/kamar -terlebih jika sakit; butuh orang lain untuk duduk, jalan, mandi sampai ganti pakaian.
  5. Biaya berobat
  6. Bimbingan rohani
  7. Teman ngobrol, termasuk juga butuh jalan-jalan.

Melihat ragam kebutuhan Lansia tadi, apa tidak sebaiknya Pemko Padang Panjang ke depan berupaya membangun gedung Panti Jompo yang representatif? Tanggapan Osman, itu sebagai masukan positif. Tapi belum bisa menanggapi lebih jauh, karena itu terkait  kebijakan pimpinan daerah.

Dari usulan wacana yang cukup kerap muncul sejak sekitar 2010 lewat forum diskusi terkait, salah satu di Musrenbang Kota, Pemko Padang Panjang sebaiknya membangun gedung Panti Jompo yang representatif. Bentuk bangunannya, sebaiknya;

  1. Gedung bertingkat, untuk efisiensi pemakaian lahan dan perbesar daya tampung
  2. Akses turun naik diberi selasar atau lift
  3. Basement untuk kendaraan tamu, agar halaman bisa jadi taman
  4. Fasilitas penunjang lain;
  •   Ruang klinik untuk percepatan pemeriksaan kesehatan Lansia,
  •   Ruang perawat Lansia, untuk bantu Lansia, seperti berjalan, dorong kursi roda, dll
  •   Ruang baca/tontonan
  •   Mushola
  •   Ruang serbaguna
  •   Ruang home industri (bisa di bagian basement) untuk kerajinan produktif
  •   Juga taman, dan membawa mereka berwisata sesekali ke obyek wisata.
  •   Perlu kunjungan rohaniawan dan psikolog

Ikut diusulkannya ruang home industri pada Panti Jompo itu, karena sebagian Lansia ingin juga hidup produktif dan berarti sesuai keterampilan dimiliki, seperti menyulam, bordir, menjahit dan lainnya. Produknya, mungkin bisa dijual ke pasar. Terus uangnya, bisa untuk Lansia tadi dan Panti itu sendiri.

Sedang pola pengelolaan, disarankan seperti lembaga BAZ (Badan Amil Zakat), atau seperti konsep pengelolaan Islamic Centre Padang Panjang. Sedang  sumber dana operasionalnya disarankan dari;

  1. Dana APBD Kota (sebagai stimulant)
  2. Dana Badan Amil Zakat (BAZ) Kota
  3. Sumbangan sukarela dari kalangan donatur
  4. Sumber dana lain yang tidak mengikat

Jika itu terwujud, Panti Jompo akan bisa jadi wadah praktis menampung Lansia terlantar di kota ini ke depan. Pola mengurus makan-minum, pakaian, kesehatan dan kebutuhan yang lainnya juga akan relatif mudah, karena mereka sudah tinggal terkonsentrasi di satu tempat, tidak terpencar seperti selama ini.

Panti Jompo itu juga akan jadi jawaban komprehensif atas salah satu program unggulan Walikota/Wakil Walikota Fadly Amran – Asrul (2018-2023), yakni kota sayang Lansia. Berikut, menunjang penghargaan Kota Peduli HAM yang sudah diraih kota ini. Kelak, panti itu juga akan jadi contoh di tanah air. Dan pendirinya akan dikenang.

Kecuali itu, dambaan setiap orang akan bisa menikmati hari tua dengan baik dan tenang juga akan bisa ikut dirasakan oleh Lansia terlantar itu. Dan pesan pejuang Ismail Marzuki lewat nyanyian Rayuan Pulau Kelapa dengan 2 baris akhir; “tempat berlindung di hari tua, sampai akhir menutup mata” juga akan terjawab baik.(yet/jym).–

 

Profil Yetti Harni

mm

Baca Juga

Novrianto

Ughang Piaman di Padang Cari Pemimpin

SPIRITSUMBAR.com, Padang – Ughang Piaman di Kota Padang sambuah alah banyak e. Nah untuk menguatkan ...