Beranda - Berita Pilihan - Wow, Ternyata Ini Penyebab Harga Pangan Tetap Mahal
Bagus Adhi Mahendra Putra
Bagus Adhi Mahendra Putra

Wow, Ternyata Ini Penyebab Harga Pangan Tetap Mahal

Print Friendly, PDF & Email

Spirit Sumbar – Belum kunjung turunnya harga pangan meski kran impor telah dibuka oleh pemerintah. Akibat panjangnya rantai distribusi yang mengakibatkan bertambahnya  ongkos distribusi dan pengaruhnya terhadap harga di konsumen.

“Saya dilapori penyebab naiknya harga daging dan pangan dikarenakan terlalu panjangnya 7 rantai distribusi. Dengan Bulog yang kuat, 7 rantai distribusi bisa kita pangkas sehingga harga akan turun seiring berkurang nya pelaku pemburu  keuntungan,” ujar Bagus Adhi Mahendra Putra anggota Komisi IV bidang pertanian di Jakarta, Sabtu, 25 Juni 2016.

Anomali harga tinggi justru terjadi ditengah turunnya permintaan karena orang Islam sedang berpuasa artinya terjadi penurunan karena konsumsi berkurang.   Seharus nya diikuti dengan penurunan harga sejak di awal Ramadhan. Tapi pasar malah sebaliknya.

“Ada apa, ini akibat  kita tak berdaulat di sektor pangan dan daging,” kata Bagus Adhi Mahendra anggota DPR RI dari Propinsi Bali.

Agar kondisi ke depan lebih baik  maka diperlukan revitalisasi peternakan  dan  pertanian sejak sekarang. Lewat  peman faatan teknologi  dan modernisasi alat alat pertanian. “Selain pemupukan dan bibit unggul serta pembinaan SDM,” katanya.

Temuan Adhi dibenarkan Wahyu Direktur Pengadaan Perum Bulog. Ia mengatakan kebijakan Presiden Jokowi sebenarnya sudah tepat, yang akan menyerahkan ketahanan pangan atas 11 komoditi kepada Bulog. Tapi kemudian malah diselewengkan oleh pembantunya sehingga Bulog cuma  mengurusi 3 komoditi saja, yakni Beras, Jagung dan Kedele.

Dikatakan, Bulog dulu berbeda dengan Bulog sekarang. Bulog dahulu anggarannya dicukupi oleh pemerintah. Bulog sekarang bisa berjalan karena menggunakan biaya operasi beras sejahtera, yang dulu diberi nama beras untuk orang miskin yang disalurkan oleh Bulog.

Agar supaya gejolak harga pangan tidak terulang, Bulog harus diperkuat dalam menjalankan tugasnya dengan memperkuat kelembagaannya yang menjadi kewenangan Komisi IV DPR. Sejak beberapa tahun terakhir dengan tanpa pemberitaan banyak, Bulog sudah masuk  di sektor produksi beras di dalam negeri, selain membeli hasil panen dari petani jika harga padi jatuh. “Bulog juga telah membangun lumbung pangan di sejumlah sentra beras. Meski jumlahnya masih terbatas,” kata Wahyu di Jakarta Kamis, 23 Juni 2016.

Penyebab data pangan yang berbeda beda selama ini juga termasuk yang mendorong gejolak harga serta lahirnya sekitar 30 kartel importir pangan.  “Kita mendukung Bulog yang sudah memulai produksi beras. Tapi  Bulog jangan sampai berubah menjadi pedagang dengan meninggalkan

misinya sebagai penjamin keterjangkauan harga pangan dan ketersedian pangan,” kata Herman Khaeron wakil Ketua Komisi IV DPR RI ditempat yang sama.

ERWIN KURAI

The Public (terbit tiap Senin)

cover Edisi 23 (Terbit Tiap Senin)
cover Edisi 23 (Terbit Tiap Senin)
loading...

Tentang Saribulih

mm
Seorang praktisi pers yang juga bergerak dibidang pendidikan. Menulis dan berorganisasi merupakan hal yang mutlak baginya. Prinsipnya, seorang guru harus jadi penulis, karena dengan menulislah cakrawala dan kemampuan akan terus terasah. Organisasi juga suatu kebutuhan, karena bisa dimanfaatkan untuk bertukar pikiran

Baca Juga

Dilema Mulyadi Peluang Fakhrizal

Isa Kurniawan (Koordinator Komunitas Pemerhati Sumbar/ Kapas) Sah-sah saja Mulyadi (Anggota DPR RI / Ketua ...