Beranda - Berita Pilihan - Wisata Halal Sumbar Masih Tertinggal

Wisata Halal Sumbar Masih Tertinggal

Print Friendly, PDF & Email

SPIRITSUMBAR.com –  Sumatera Barat hanya berada di 10 besar sebagai daerah Destinasi Wisata Halal di Indonesia. Hal terlihat dari hasil Report of Indonesia Muslim Travel Index (IMTI) 2018. Sumbar hanya berada pada posisi 4 (empat) nasional.

Berdasarkan hasil report IMTI 2018 , Rangking 1 dipegang Nusa Tenggara Barat (lombok) dengan nilai 58, rangking 2 Provinsi Aceh dengan nilai 57 dan rangking 3 DKI Jakarta dengan nilai 56.

Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit menyampaikan, potensi Destinasi Wisata Halal Sumbar untuk menjadi yang terbaik di Indonesia sangat besar, namun dia menyadari banyak hal yang mesti dibenahi bersama.

Soal sertifikasi makanan halal bagi setiap restoran, pelayan hotel halal, serta memaksimalkan potensi tempat ibadah Masjid Raya Sumatera Barat lebih bermakna sebagai magnet perhatian di Padang.

Hal ini disampaikan disela-sela acara Kementerian Pariwisata The Inaugural Report of Indonesia Muslim Travel Index (IMTI) 2018, Balairung Soesilo Soedarman, Kementerian Pariwisata, Jakarta, Jum’at siang (7/12/2018)

Lebih lanjut Wagub Nasrul Abit, hasil ini akan bahas dengan OPD terkait serta lembaga instansi yang termasuk dalam mendorong destinasi wisata halal di Indonesia.

Untuk lebih maju dan meningkatkan kunjungan wisata, tentu butuh komitmen bersama-sama pemerintah dan stekholder melakukannya. Potensi besar Sumatera Barat dalam destinasi wisata tanpa dukungan dan kerjasama semua pihak tentu tidak akan berhasil dengan baik.

Jika Sumbar mampu menumbuh kembangan destinasi wisata halal dengan baik, tentu kunjungan wisatawan mancanegara akan meningkat pula yang berdampak akan produktifitas masyarakat akan lebih baik dan sejahtera.

Kita berharap satu saat destinasu wisata halal Sumbar dapat menjadi yang terbaik di Indonesia, karena itu bahagian dari proses kerjabersama untuk kemajuan Sumatera Barat, ujar Nasrul Abit.

Wagub Nasrul Abit menambahkan, saat ini target kunjungan wisata nusantara itu 9 juta orang, sementara wisata mancanegara 65.000 orang. Banyak orang yang berkeinginan ke Sumatera Barat, keindahan alam, kuliner, budaya serta karakter masyarakatnya yang religi.

Pengembangan destinasi wisata halal amat cocok dengan potensi dan karakter masyarakat yang ada di Sumatera Barat. Keinginan bagaimana menarik wisatawan muslim di berbagai belahan dunia tentu menjadi tantangan yang mesti kita lakukan bersama-sama. Wisatawan Arab Saudi, Timur Tengah, Malaysia, Brunai, India adalah peluang yang cukup baik, terangnya.

Menteri Arief Yahya dalam sambutnya juga menyebutkan Sumatera Barat amat berpeluang besar memperbaiki rangking IMTI tahun 2018. Potensi kuliner, budaya muslim masyarakat, ba bangunan masjid-masjid memilik khas yang kuat.

Diharapkan Sumatera Barat segera melakukan pembenahan yang lebih baik lagi, karena Kementerian Pariwisata berharap Indonesia menjadi rangking 1 pada tahun 2019 dalam Global Muslim Travel Index, mengeser Malaysia, tegasnya.

Ketua Tim Percepatan dan Pengembangan Pariwisata Halal Rianto Sofyan menyampaikan, pemberian penghargaan Destinasi Wisata Halal Indonesia ini dalam rangka mendorong menjadikan Indonesia sebagai Destinasi Wisata Halal terbaik di dunia dan sebagai bentuk tindaklanjut dukungan dalam keikutsertaan peningkatan Indonesia menjadi rangking pertama pada Global Muslim Travel Index (GMTI) di tahun 2019.

Sebagai informasi awal, Kementerian Pariwisata telah melaksanakan Launching IMTI pada 5 Juni 2018 dan telah melakukan penilaian terhadap 10 Destinasi Prioritas Pariwisata Halal. Dari hasil penilaian tersebut, selanjutnya akan dilaksanakan The Inaugural Report of Indonesia Muslim Travel Index (IMTI) oleh Menteri Pariwisata yang bertujuan untuk memberikan laporan terkait sejauh mana persiapan yang dilakukan dalam menjadikan Indonesia sebagai peringkat pertama pada GMTI 2019. Sekaligus memberikan penghargaan kepada 4 Destinasi Wisata Halal terbaik di Indonesia berdasarkan pada hasil penilaian Tim IMTI 2018, ungkapnya. (Salih)

loading...

Tentang Saribulih

mm
Seorang praktisi pers yang juga bergerak dibidang pendidikan. Menulis dan berorganisasi merupakan hal yang mutlak baginya. Prinsipnya, seorang guru harus jadi penulis, karena dengan menulislah cakrawala dan kemampuan akan terus terasah. Organisasi juga suatu kebutuhan, karena bisa dimanfaatkan untuk bertukar pikiran

Baca Juga

Mahyeldi

Mahyeldi Antara Ekor Gajah atau Kepala Semut

Oleh: Isa Kurniawan (Koordinator Komunitas Pemerhati Sumbar/Kapas) Walikota Padang Mahyeldi Ansharullah merupakan satu dari sekian ...