Sabtu , 22 September 2018
Beranda - Pendidikan - Artikel - Wasit dan Kontestati
Isa Kurniawan
Isa Kurniawan

Wasit dan Kontestati

Print Friendly, PDF & Email

Isa Kurniawan, Koordinator Komunitas Pemerhati Sumbar (Kapas)
Setelah digelar beberapa pertandingan di Piala Dunia 2018 di Rusia, pelajaran pertama yang dapat kita ambil adalah bagaimana berwibawa dan dihormatinya seorang wasit yang memimpin pertandingan.

Ketika keputusan sudah diambil wasit, terlepas apakah kontroversial atau tidak, maka semua pihak harus tunduk. Protes boleh saja tapi yang sopan. Kalau emosional, bisa-bisa pemain atau pelatih sekalipun diberikan kartu kuning, bahkan tidak tertutup kemungkinan kartu merah.

Sebagai manusia biasa wasit mempunyai keterbatasan dalam melihat sesuatu yang terjadi begitu cepat, sementara keputusan harus diambil saat itu juga. Hanya orang-orang pilihan dan yang sudah berpengalaman yang bisa menjalaninya.

Makanya untuk menjadi wasit itu ada pendidikan serta sertifikasinya. Tetapi sekarang untuk menunjang kerja wasit, pada kejadian tertentu sudah dibantu dengan teknologi.



Bagi kita di Indonesia, dalam sebuah pertandingan sepakbola, walau sekelas Liga 1 sekalipun, masih kita lihat bagaimana wasit dikejar-kejar dan ditendang pemain karena tidak setuju dengan keputusan yang diambil si wasit. Ini bukti bahwa kita belum bisa dewasa dalam bersepakbola, yakni bagaimana dengan jiwa besar menerima keputusan yang sudah diambil wasit, walau itu menyakitkan sekalipun.

Sebenarnya persoalan ini adalah bagaimana membangun kepercayaan. Wasit pun harus bisa menjaga independensinya secara total. Jangan sampai ada kejadian wasit menerima suap dan melakukan tindakan / perbuatan di luar pertandingan yang bisa dinilai publik melanggar etikanya sebagai seorang wasit.

Ketika itu terjadi, maka runtuh lah kepercayaan tadi. Dalam suasana itu, tidak salah kalau ada yang menilai keputusan wasit ada keberpihakan. Maka itu seorang wasit harus pandai menjaga kepercayaan yang ada.

Dalam setiap kontestasi, biasanya ada wasit di sana. Kadang ada yang disebut dengan juri. Ke depan bangsa ini akan melaksanakan kontestasi politik Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres), dan tentunya ada pula wasit yang akan memimpin jalannya “pertandingan”. Kita berharap wasitnya bisa seperti wasit yang kita lihat di Piala Dunia 2018 sekarang, berwibawa dan dihormati.



loading...

Tentang Saribulih

mm
Seorang praktisi pers yang juga bergerak dibidang pendidikan. Menulis dan berorganisasi merupakan hal yang mutlak baginya. Prinsipnya, seorang guru harus jadi penulis, karena dengan menulislah cakrawala dan kemampuan akan terus terasah. Organisasi juga suatu kebutuhan, karena bisa dimanfaatkan untuk bertukar pikiran

Baca Juga

Diduga Ini Pemicu Kebakaran SPBU Sawahan

SpiritSumbar.com – Kebakaran hebat telah menghanguskan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Sawahan, Jl. Sawahan, ...