Beranda - Pendidikan - Artikel - Tikus Binatang Pengerat

Tikus Binatang Pengerat

Print Friendly, PDF & Email

Oleh : Riyon

Tahun 2020 kalau dikaitkan dengan siho China adalah ” Tahun Tikus “, pembaca yang budiman tahu kan sifat tikus adalah binatang pengerat, bila lapar apapun dilibasnya.

Disuatu desa kecil daerah Gito Gati Kec. Melati Kab.Sleman, petani sederhana bernama Makaryo (54), ketika sedang istirahat di pondok sawahnya sekitar pukul 10.00 Wib , sambil minum teh saring dan pacitannya (kue) adalah Tiwul yang terbuat dari ubi kayu.

Ketika di datangi seorang bapak, tanpa ada rasa curiga dan buruk sangka , dengan senyum ramah sambil menyeka keringatt dikening wajahnya lalu menyapa: Monggo mas, silahkan duduk di gubuk saya, sekalihan ngunjuk teh rumiyen (sekalian minum teh dulu).

Lalu bapak yang baru datang tampak akrab dengan pak Makaryo.Kedatangan singkat ceritanya, bapak tadi kebetulan sedang libur beberapa hari dan ada acara di Yogya di akhir tahun 2019 ini.

Saya juga mbah masih asli dari Yogyakarta, tapi sudah puluhan tahun di Pulau Sumatera, lengkapnya di Sumbar, kata bapak tadi yang enggan disebutkan namanya disini, kepada pak Makaryo. Sambung bapak tadi, kedatangannya sekedar ngobrol-ngobrol dan minta komentar sebentar lagi kan sudah memasuki pintu gerbang 2020 yang katanya tahun Tikus.

Lalu pak Makaryo, yang polos dan lugu dan sesuai namanya : Makaryo ; artinya bekerja dan bekerja. Kulo wong dheso pak, mboten ngertos nopo -nopo, kok politik lan sanese .Sing penting tetep Makaryo, nggarap sawah,empun ngantos dipangan tikus.(saya orang desa pak, nggak tau apa-apa, apalagi politik dan lainnya yang penting bekerja nggarap sawah), jangan sampai dimakan tikus).

Cuma komentar pak Makaryo, yang penting saya sekarang saya nggarap sawah. Sifat tikus itu memang jahat. Perumpamaan, siapapun orang, memakan hak orang lain, begitu juga oknum apapun yang melakukan tindak pidana Korupsi (tipikor), kolusi dan nepotisme, dari permainan pat – pat gulipat kelas gurem, sampai kelas gurita, itu telah terkena virus sifat tikus. Yang namanya korupsi itu disamping ada niat, ada kesampatan, dan akhlaqnya rapuh termasuk kolusi dan nepotisme.

Sementara dalam proses hukum nggih,kata pak Makarjo harus ada 2 alat bukti cukup, dan saksi.Lha gimana bisa dibuktikan , lha wong namanya kolosi dan nepotisme, tentu dibalik layar, nggih to? .Sementara bapak yang mendengarkan hanya tersenyum dalam hatinya berguman, pak Makaryo walau petani lugu, juga petani cerdas mengikuti perkembangan sikon saat ini.

CUma harapan saya di tahun tikus ini nggih pak,kata pak Makaryo melanjutkan, jangan sampai merajalela tikus-tikus terselubung bergentayangan menggerogoti uang negara. Uang negara kan uang rakyat.Aparat penegak hukum harus lebih tegas lagi menindak tikus-tikus yang menggunakan aji mumpung, dibalik perannya dalam sinitron menjalankan amanah atau yang diamanahkan. Mari kuatkan akhlaq, bangun kebersamaan menjauhi sifaf buruk seperti tikus, di 2020, jangan lupa daratan semakin menggila, kata pak Makaryo menutup perbincangannya.

Mudah, mugahan apa yang disampaikan pak Makaryo,berazas manfaat bagi kita semua menyongsong tahun 2020 ini.

loading...

Tentang Saribulih

mm
Seorang praktisi pers yang juga bergerak dibidang pendidikan. Menulis dan berorganisasi merupakan hal yang mutlak baginya. Prinsipnya, seorang guru harus jadi penulis, karena dengan menulislah cakrawala dan kemampuan akan terus terasah. Organisasi juga suatu kebutuhan, karena bisa dimanfaatkan untuk bertukar pikiran

Baca Juga

Bupati Solsel bersama Menteri PUPR

Pasca Banjir, Bupati Muzni Sampai Kondisi Solsel pada Menteri PUPR

SpiritSumbar.com, Jakarta –  Bupati Solok Selatan Muzni Zakaria dan jajaran terus berupaya melakukan usaha-usaha kepada ...