Beranda - Headline - Tidak Kenal Kekerasan, Isu Radikal Coreng Agama Islam
Wawako Sawahlunto bertindak sebagai pembina upacara hari santri
Wawako Sawahlunto bertindak sebagai pembina upacara hari santri

Tidak Kenal Kekerasan, Isu Radikal Coreng Agama Islam

Print Friendly, PDF & Email

SPIRITSUMBAR.com, Sawahlunto – Wakil Walikota Sawahlunto Zohirin Sayuti berpesan pada para santri di ‘Kota Arang’ untuk dapat berperan meluruskan pemahaman keliru terkait ajaran agama Islam di tengah-tengah masyarakat.

Termasuk maraknya istilah Islam radikal yang belakangan ini begitu mencoreng agama Islam. Karena sejatinya Islam tidak mengenal kekerasan dalam ajarannya.

Artikel Lainnya

loading…


“Santri sebagai insan yang mempelajari dan memahami ajaran agama Islam dengan baik, maka hendaknya ikut turun membagikan pemahaman yang benar dan baik mengenai agama kepada masyarakat. Kalau santri kan dalam menafsirkan sesuatu itu dengan melewati banyak pertimbangan, ada panduan Al-Quran dan Sunnah, juga referensi kitab-kitab terkait sampai pada pendapat dari ustadz dan kiai-nya,” kata Wawako Zohirin Sayuti, saat membuka Tabligh Akbar dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional (HSN) ke-5 di Masjid Agung Sawahlunto, Selasa 22 Oktober 2019.

Sementara, Ketua DPRD Sawahlunto yang diwakili oleh anggota DPRD, Irland mengatakan bahwa DPRD terbuka untuk mendukung Pemko jika nantinya mengusulkan anggaran untuk peringatan Hari Santri Nasional (HSN) tahun depan.

Bahkan jika diperlukan, Undang-Undang (UU) Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren perlu untuk diterjemahkan lagi dalam Peraturan Daerah (Perda), pihak DPRD juga siap menindaklanjuti.

Peringatan HSN di Sawahlunto diselenggarakan dengan Tabligh Akbar dan gotong royong membersihkan pesantren. Dalam Tabligh Akbar yang dihadiri santri MI/MTs/MA dan guru-guru di lingkungan Kementerian Agama Sawahlunto itu, ditutup dengan penampilan kesenian religi ‘Hadroh’ dari santri Pondok Pesantren Ababil Lunto. (Rni)



 

loading...

Tentang Saribulih

mm
Seorang praktisi pers yang juga bergerak dibidang pendidikan. Menulis dan berorganisasi merupakan hal yang mutlak baginya. Prinsipnya, seorang guru harus jadi penulis, karena dengan menulislah cakrawala dan kemampuan akan terus terasah. Organisasi juga suatu kebutuhan, karena bisa dimanfaatkan untuk bertukar pikiran

Baca Juga

13 Rumah Dihantam Longsor di Tanjung Sani

SpiritSumbar com, Agam – Sedikitnya 13 unit rumah rusak akibat hujan deras dan tanah longsor ...