Beranda - Bisnis - Ternyata Ini Penyebab Kelangkaan Solar di Sumbar

Ternyata Ini Penyebab Kelangkaan Solar di Sumbar

Print Friendly, PDF & Email

SpiritSumbar.com, Padang – Sudah satu bulan, Sumatera Barat mengalami krisis solar. Bahkan, hampir semua kendaraan yang bergantung dengan  bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi ini, banyak yang ngetem.

Bahkan, tidak sedikit pula yang memarkirkan kendaraan yang berukuran super jumbo itu di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) sambil berharap dapat jatah solar.

Kondisi semakin parah, lantaran pada tempat yang sama,  puluhan kendaraan jenis lain juga ngetem sambil menunggu antrian premium.



 

Suasana, agak terasa lapang, jika stok premium habis. Karena, pemburu bahan bakar satu ini memiliki alternatif dengan perbedaan harga yang tidak begitu jauh.

Artikel Lainnya

loading…


Antrian mangkalnya truk di setiap SPBU telah menimbulkan keresahan banyak pihak. Bahkan, pengguna jalan lain juga terkena imbas macet, lantaran badan truk menutupi badan jalan.

M. Roby Hervindo, Unit Manager Communication & CSR MOR I mengatakan, kuota Solar di 2019 memang lebih kecil dibanding tahun lalu. Tahun 2018, realisasi Solar subsidi untuk Sumbar mencapai 437.554 KL. Sementara tahun ini, kuota Solar subsidi sejumlah 404.308 KL. Sehingga rerata penyaluran Solar di 2019 menyesuaikan dengan kuota yang tersedia.

Adapun hingga Oktober 2019, penyaluran Solar subsidi di Sumbar sebesar 113 persen. Artinya sudah disalurkan melebihi kuota yang ditetapkan sebesar 13 persen. Jika kondisi ini diteruskan, maka kuota yang tersedia tidak akan mencukupi hingga akhir tahun.

Dalam pertemuan dengan Pemprov Sumbar, Pertamina melaporkan bahwa terjadi konsumsi Solar yang sulit dicegah kepada pihak-pihak yang tidak sesuai Perpres 191 tahun 2014. Dalam Perpres disebutkan kendaraan untuk pengangkutan hasil kegiatan perkebunan dan pertambangan dengan jumlah roda lebih dari enam buah tidak diperbolehkan menggunakan Solar subsidi.

Sebagai contoh, pengamatan Pertamina di SPBU Mata Air dan Indarung. Separuh kendaraan yang antri Solar subsidi adalah kendaraan dump truck maupun truk perkebunan beroda 10.

“Oleh karenanya, disepakati bersama Pemprov Sumbar bahwa ke depan kendaraan perkebunan dan pertambangan tidak bisa lagi mengkonsumsi Solar subsidi. Kami ditugaskan pemprov untuk secepatnya mensosialisasikan hal ini pada kalangan industri”, ungkap Roby.

Agar pembelian Solar subsidi sesuai kebutuhan serta menghindari penimbunan, disepakati dengan Pemprov bahwa pembelian solar maksimal 100 liter per konsumen. Jika ini terlaksana, maka per SPBU di Sumbar rata-rata dapat melayani hingga 12.500 kendaraan per hari.




“Kami menghimbau kepada kendaraan perkebunan dan pertambangan untuk mematuhi Perpres 191 tahun 2014. Gunakan Solar industri atau Dex yang sudah tersedia di SPBU Pertamina. Sehingga tidak mengambil jatah konsumen yang memang berhak atas Solar subsidi. Masyarakat juga agar membeli BBM sesuai dengan kebutuhan dan tidak menimbun atau melangsir,” pungkas Roby

loading...

Tentang Saribulih

mm
Seorang praktisi pers yang juga bergerak dibidang pendidikan. Menulis dan berorganisasi merupakan hal yang mutlak baginya. Prinsipnya, seorang guru harus jadi penulis, karena dengan menulislah cakrawala dan kemampuan akan terus terasah. Organisasi juga suatu kebutuhan, karena bisa dimanfaatkan untuk bertukar pikiran

Baca Juga

Irdinansyah : Direktur PDAM Harus Bisa Bikin Terobosan

SpiritSumbar.com, Tanah Datar – Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Alami merupakan salah satu perusahaan ...