Beranda - Pendidikan - Artikel - Teladan “Ruhnya” Pendidikan Karakter

Teladan “Ruhnya” Pendidikan Karakter

Print Friendly

Oleh : Dalvi (Kepala SDIT Juara Padang Panjang)

Pendidikan karakter, merupakan pembicaraan hangat di dunia pendidikan Indonesia saat ini, mulai dari diskusi lepas para guru hingga pembicaraan resmi dalam bentuk seminar dan workshop atau diskusi ilmiah bidang pendidikan lainnya.

Pendidikan karakter tidak akan luput untuk dibahas dan didiskusikan. Terlebih di kurikulum 2013, pendidikan karakter atau penanaman karakter terhadap peserta didik merupakan satu hal yang harus menjadi perhatian guru dalam menyajikan pelajaran, tidak lagi hanya mengedepankan nilai-nilai kognitif atau pengetahuan saja.

Menyikapi kuatnya penekanan penanam karakter dalam dunia pendidikan saat ini, memunculkan beberapa pertanyaan dalam diri penulis. Pertama, apakah penerapan kurikulum sebelum kurikulum 2013 tidak memuat upaya untuk menanamkan karakter, kedua apakah penerapan kurikulum 2013 dengan segala perangkat dan strateginya akan berhasil menanamkan karakter.

Pertanyaan ini tidak sebagai bentuk sikap pesimis penulis terhadap upaya keras pemerintah menanamkan karakter kepada anak bangsa melalui kurikulum 2013, namun hal ini didasari atas pengamatan penulis terhadap realita yang terjadi dilapangan terhadap pelaksanaan pendidikan, walaupun itu baru dalam skala yang kecil.

Kenapa muncul pertanyaan, apakah penerapan kurikulum sebelum 2013 tidak memuat upaya untuk menanamkan karakter. Kurikulum sebelumnya hanya mengutamakan aspek kognitif, berupaya untuk memberikan ilmu sebanyak-banyaknya kepada peserta didik dan memberikan porsi yang sangat kecil terhadap penanam karakter anak.

Akibanya adalah, bangsa ini sekarang banyak dihuni oleh orang-orang cerdas berilmu tinggi, namun memiliki karakter yang kurang baik, buktinya korupsi meraja lela disana-sini, seks bebas dimana-mana, narkoba, minuman keras, tawuran dan terjadinya berbagai bentuk tindak kejahatan.

Apakah kurikulum 2013 akan berhasil menanamkan karakter? Jawabannya tentu bisa ya atau tidak, karena kurikulum ini baru dan sedang berjalan. Bahkan bagi sebahagian guru, masih ada yang belum paham secara keseluruhan terhadap kurikulum 2013, meskipun telah beberapa kali mengikuti pelatihan.

Kita harus optimis memang, karena kurikulum 2013 telah dirancang untuk bisa menanamkan karakter kepada peserta didik, tidak lagi hanya mengutamakan kecerdasan saja. Salah satu bentuk upaya penanaman karakter dalam kurikulum 2013 adalah adanya penilaian pada Kompetensi Inti (KI) yang dibagi atas 2 yakni KI.1 (Sikap Spritual) dan KI.2 (Sikap Sosial).

KI.1 menyangkut aspek spritual, membentuk peserta didik yang berkarakter dan memiliki ahklak yang baik terhadap Tuhannya (hablum minallah). Dan KI.2 meyangkut aspek sosial, membentuk peserta didik yang berkarakter dan memiliki ahklak yang baik dengan sesama manusia (hablum minannas). Untuk mesukseskan ini telah dirancang berbagai metode penilaian, seperti adanya penilaian teman, rubrik, pembiasaan dan lain sebagainya.

Salah satu aspek dalam pendidikan yang sangat menentukan dalam menanamkam karakter adalah keteladanan. Kalaupun kurikulum masih belum sempurna, namun jika keteladan ada, maka karakter manusia akan bisa dibentuk. Lihatlah Rasulullah SAW, tidak memiliki kurikulum seperti yang kita miliki. Namun beliau sukses membentuk karakter sahabat, kuncinya adalah rasul menjadi teladan, tidak hanya menyampaikan, namun lebih banyak melaksanakan.
Hal tersebut beliau lakukan, bukan pada saat mengemban tugas sebagai Rasul saja, tetapi sebelum menjadi Rasul tetap sudah memiliki kepribadian yang baiknya luar bisa dan layak menjadi teladan.

Jika keteladanan tidak dimiliki, ataupun ada keteladanan tapi hanya karena adanya tuntutan tugas, bukan karena sebuah kepribadian, maka sehebat apapun kurikulum, niscaya pembentukan karakter akan sulit diwujudkan. Inilah yang dikhawatirkan. Inilah makna kata bijak yang sering kita dengar, bahwa seribu perkataan belum tentu akan melahirkan satu perubahan, namun satu perbuatan bisa melahirkan seribu perubahan.

Allah SWT juga mengancam dengan firmanNya, wahai orang-orang yang beriman, kenapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu lakukan, sungguh kebencian yang besar disisi Allah, orang-orang yang hanya pandai mengatakan namun tidak mengamalkan. (QS as- Saff: 2-3)

Pendidikan karakter memang sudah menjadi satu kemestian yang harus kita jadikan tujuan dalam pelaksanaan pendidikan kita dan kurikulum 2013 juga telah dicanangkan untuk dilaksanakan, sebagai upaya untuk mewujudkan tujuan ini.
Keteladanan haruslah menjadi modal utama yang harus kita miliki oleh semua pendidik dan semua orang yang memiliki keterkaitan dengan pendidikan, karena peserta didik yang berkarakter hanya akan bisa dibentuk oleh guru yang memiliki karakter.

Marilah kita semua terlebih dahulu berusaha memiliki karakter, agar juga bisa menanamkan karakter, karakter yang menjadi kepribadian, bukan karakter yang hanya menjadi hiasan ucapan atau karakter karena tuntutan tugas jabatan, karena hanya karakter yang sudah menjadi kepribadian yang bisa menjadi teladan dan teladan adalah ruh pendidikan karakter. Tanpa keteladanan pendidikan karakter akan mati, karena ruhnya telah pergi.

Tentang Saribulih

mm
Seorang praktisi pers yang juga bergerak dibidang pendidikan. Menulis dan berorganisasi merupakan hal yang mutlak baginya. Prinsipnya, seorang guru harus jadi penulis, karena dengan menulislah cakrawala dan kemampuan akan terus terasah. Organisasi juga suatu kebutuhan, karena bisa dimanfaatkan untuk bertukar pikiran

Baca Juga

Kegiatan KI Sumbar Tuntas

Spiritsumbar.com, Padang – Menjadi lembaga penerima dana hibah sebesar Rp1,5 miliar pada Perubahan APBD Sumbar ...