Beranda - Berita Pilihan - Tanpa Sanksi, Aturan Adat Tak Bertaji

Tanpa Sanksi, Aturan Adat Tak Bertaji

Print Friendly, PDF & Email

SPIRITSUMBAR.com – Sebagus dan sebaik apapun sebuah peraturan maupun aturan yang diterbitkan, apabila tidak disertai sanksi tegas sama juga nihil, tidak akan berikan dampak yang kita inginkan.

Ini diungkapkan Wabup Zuldafri Darma saat menghadiri Musyawarah Penerbitan Peraturan Adat Salingka Nagari Parambahan, Sabtu (12/1/2019) di Masjid Raya Parambahan Kecamatan Lima Kaum.

Wabup Zuldafri Darma menyampaikan apresiasi dan dukungan kepada pemimpin di nagari telah sepakat mencoba terbitkan peraturan adat untuk menata kehidupan di kampung.

“Peraturan dibuat karena kekawatiran terhadap perkembangan zaman yang mempengaruhi segala sendi kehidupan, terutama generasi muda kita, seperti LGBT, pergaulan bebas, narkoba dan lainnya,” ujar Wabup.

Yang perlu menjadi perhatian, harap Wabup, Peraturan Adat Salingka Nagari yang diterbitkan berdasarkan hasil musyawarah seluruh elemen di Nagari Parambahan. “Aturan berdasarkan musyawarah tentu akan ciptakan komitmen dari seluruh masyarakat, tentunya juga jangan ada tebang pilih dan diskriminatif dalam pelaksanaannya, tapi prinsip kandua badantiang-dantiang, kandua bajelo-jelo tetap jadi runutan” pesan Zudafri.

Akhir penyampaiannya Wabup berharap Wali Nagari menganggarkan dana pelatihan bagi niniak mamak pemangku adat untuk meningkatkan pemahaman terhadap adat istiadat.

“Peraturan adat salingka nagari ini akan menjadi warisan kepada anak cucu kita, sehingga dibutuhkan juga ninik mamak yang menguasai dan memahami aturan adat sebagai pembimbing mereka,” tukas Zuldafri.

Sementara itu Ketua KAN Parambahan AZ Dt. Sinaro menyampaikan, ninik mamak yang tergabung dalam Kerapatan Adat Nagari (KAN) Parambahan sepakat kembali menghidupkan atau membangkitkan kembali Peraturan Adat Salingka Nagari.

“Dalam Peraturan Adat Salingka Nagari Parambahan ini, mengatur tatanan hidup sosial dalam masyarakat, seperti perkawinan sasuku, pemasangan pelaminan saat perkawinan, lompek banda, hukum bagi pelaku amoral dahulu bajak dari jawi, dan lainnya,” AZ Dt. Sinaro.

Ditambahkannya lagi, dengan terbitnya peraturan ini diharapkan menjadi pedoman, sehingga diharapkan kembali tercipta masyarakat Parambahan yang jaya berdasarkan ABS SBK dan Syarak Mangato, adat mamakai.

“Peraturan ini lahir berkat kerjasama kita semua termasuk perantau, tentu masih butuh kritik, saran serta masukannya, sehingga bisa lebih sempurna lagi, demi untuk kita dan anak-anak cucu kita nanti,” sampai Dt. Sinaro.

Di kesempatan selanjutnya, Kh Dt. Sia basa sesepuh adat Nagari Parambahan menyampaikan dukungan terhadap terbitnya Peraturan Adat Salingka Nagari Parambahan.

“Saya telah menjadi Pangulu selama 53 tahun lebih, mendukung terbitnya peraturan adat salingka nagari ini, sehingga masyarakat akan kembali ke kehidupan dengan tatanan adat yang kembali baik,” sampainya.

Hal yang buat ia sangat antusias, kata Kh. Dt. Sia Basa adalah fenomena sosial masyarakat yang mulai terkikis zaman dan kemajuan. “Tenggang rasa dan senasib sepenangungan dalam masyarakat harus kita bangkitkan kembali, karena sekarang ada meninggal di dekat atau bahkan di samping rumahnya, ia tetap pergi bekerja ke ladang, ngojek dan lainnya, ini tidak salah, namun sebagai orang minang, ini sudah beranjak dari apa yang diajarkan pendahulu kita,” katanya. (David)

loading...

Tentang Saribulih

mm
Seorang praktisi pers yang juga bergerak dibidang pendidikan. Menulis dan berorganisasi merupakan hal yang mutlak baginya. Prinsipnya, seorang guru harus jadi penulis, karena dengan menulislah cakrawala dan kemampuan akan terus terasah. Organisasi juga suatu kebutuhan, karena bisa dimanfaatkan untuk bertukar pikiran

Baca Juga

Karakter Dalam HOTS Matematika

Oleh : Ike Fitri Wardani  (Guru SMAN 1 Timpeh) Beberapa peristiwa fenomenal mengejutkan baru-baru ini ...