Minggu , 18 November 2018
Beranda - Pendidikan - Artikel - Sertifikasi dan Beban Kerja Guru

Sertifikasi dan Beban Kerja Guru

Print Friendly, PDF & Email

Oleh : Eva Suri (Kepala SMPN 9 Solok Selatan)

Sertifikasi merupakan tunjangan profesi yang di berikan kepada guru yang memiliki sertifikat sebagai penghargaan atas profesionalitasnya.

Tujuan penyaluran tunjangan profesi adalah membiayai pelaksanaan kegiatan pengembangan keprofesian berkelanjutan yang mendukung pelaksanaan tugas sebagai guru  yang profesional .

Guru sebagai tenaga profesional mempunyai tugas dan tanggung jawab seperti yang tertuang dalam Peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan Republik Indonesia No 15 tahun 2018 tentang pemenuhan beban kerja guru, kepala sekolah dan pengawas sekolah.

Pada pasal 1 menyatakan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah.

Guru, kepala sekolah dan pengawas sekolah melaksanakan beban kerja selama 40 (empat puluh) jam dalam 1 minggu pada satuan administrasi pangkal, yang terdiri dari 37,5 jam kerja efektif dan 2,5 jam istirahat .

Berdasarkan PP No 15 tahun 2018 pasal 3 kegiatan pokok yang harus di kerjakan guru selama 37,5 jam kerja efektif itu adalah merencanakan pembelajaran atau pembimbingan, melaksanakan pembelajaran atau pembimbingan, menilai hasil pembelajaran atau pembimbingan, membimbing dan melatih peserta didik dan melaksanakan tugas tambahan yang melekat pada pelaksanaan kegiatan pokok sesuai dengan beban kerja guru.

Pelaksanaan pembelajaran yang harus dilakukan oleh guru paling sedikit 24 jam dan paling banyak 40 jam tatap muka perminggu sebagai syarat untuk menerima tunjangan sertifikasi. Pemenuhan 24 jam seminggu yang biasanya bisa dipenuhi dengan mengajar di sekolah lain tanpa batasan jam , namun saat ini guru harus mengajar minimal 12 jam di sekolah induk (satminkal) dan hanya boleh menambah di luar sekolah induk sebanyak 6 jam pelajaran saja. Kekurangan dari 24 jam dipenuhi dengan tugas tambahan dari sekolah induk.

Masalah inilah yang di hadapi oleh para guru sertifikasi saat ini, terutama guru sertifikasi yang mengajar di sekolah kecil. Dimana untuk mata pelajaran Agama, PKN, Seni Budaya ,Olahraga hanya 3 jam pelajaran dan mata pelajaran Prakarya, TIK hanya 2 jam pelajaran dalam 1 rombel. Sehingga, guru mata pelajaran tersebut tidak dapat mengajar di satminkal 12 jam pelajaran per minggu. Hal ini menyebabkan data guru tersebut tidak valid dan terancam tidak menerima sertifikasi .

Sebagai kepala sekolah yang ditugaskan pada sekolah kecil yang hanya terdiri dari 3 rombel dengan jumlah siswa 84 orang. Saya sangat prihatin dengan guru yang jam pembelajaran hanya 2 atau 3 jam saja. Jumlah rombel 3 tidak akan bisa mendapatkan jam 12 jam di satuan atministrasi pangkal (satminkal).

Haruskah mereka tidak menerima sertifikasi? jawabannya tentu tidak .

Jalan keluar yang di tawarkan oleh dinas pendidikan kepemudaan dan olahraga adalah guru yang kurang jam pindah ke sekolah yang lebih besar. Di satu sisi guru terselamatkan lalu bagaimana dengan sekolah yang tidak lagi punya guru mata pelajaran PKn, Agama, Seni Budaya, Olahraga, Prakarya dan TIK. Siapa yang akan mengajar dan bagaimana mutu pendidikan ke depannya ?
Dilema inilah yang membebani kepala sekolah di sekolah kecil . Kami dituntut untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah tapi guru kami harus dipindahkan atau harus tidak menerima sertifikasi. Pada hal kita semua tahu bahwa sertifikasi adalah merupakan tunjangan profesi yang dinantikan oleh para guru.

Aturan yang di keluarkan oleh pemerintah selalu berubah . Demikian juga halnya dengan aturan sertifikasi dan beban mengajar guru . Pemerintah mengharapkan mutu pendidikan meningkat tapi guru diikat dengan aturan yang banyak . Guru tidak lagi memikirkan bagaimana mencerdaskan peserta didik tapi guru harus berfikir keras bagaimana caranya data mereka valid dan menerima sertifikasi.

 

loading...

Tentang Saribulih

mm
Seorang praktisi pers yang juga bergerak dibidang pendidikan. Menulis dan berorganisasi merupakan hal yang mutlak baginya. Prinsipnya, seorang guru harus jadi penulis, karena dengan menulislah cakrawala dan kemampuan akan terus terasah. Organisasi juga suatu kebutuhan, karena bisa dimanfaatkan untuk bertukar pikiran

Baca Juga

Dr. Desmon, (tiga dari kanan) usai menerima piagam penghargaan PIM- 2 dari LAN (foto Ist)

Inovasi Smart Edu Antarkan Desmon Raih Ranking 3 Nasional

SPIRITSUMBAR.com – Dr. Desmon, Kepala Dinas Pendidikan Kota Padang Panjang, meraih Ranking-3 Diklat Kepemimpinan level ...