Beranda - Pendidikan - Artikel - Sanksi Sosial di Media Sosial
Saribulih
Saribulih

Sanksi Sosial di Media Sosial

Print Friendly, PDF & Email

Oleh: Saribulih

Sebuah mobil keluaran Nissan  menjadi gunjingan di Media Sosial lantaran parkir di Halte Trans Padang, beberapa waktu lalu. Peristiwa yang bermula di upload halaman resmi pemerintah itu juga dibagikan oleh banyak orang, termasuk situs berita. Alhasil, caci maki, kata-kata fitnah dan carut pungkang menghajar sang pemilik mobil.

Sang pemilik betul – betul dihukum dengan cara dipermalukan pada khalayak ramai. Malahan, si pemilik seperti tak punyak kesempatan lagi untuk membela diri. Padahal, bisa jadi sang pengguna mobil pribadi itu memiliki alasan yang bisa diterima akal sehat, dia menempatkan kendaraannya yang dianggap tidak pada tempatnya. Mungkin dia sudah lama meninggalkan Kota Padang yang menganggap itu hanya halte bus kota. Apalagi, pada lokasi  tersebut tidak ada rambu-rambu yang menjelaskan tenang halte Trans Padang. Khusus, di lokasi tersebut, juga tidak ada garis-garis kuning sebagai pertanda jalur khusus.

Sebelumnya, juga ada ribut-ribut tentang night party salah satu SMA Kota Padang yang dianggap melanggar norma dan susila. Malahan, tindakan mengupload dan menyebarkan kegiatan tersebut telah menimbulkan sifat antipati masyarakat terhadap pendidikan Kota Padang. Tak sedikit yang mencaci dan memaki. Bahkan, peristiwa itu dianggap kesalahan guru, kepala sekolah dan kepala dinas pendidikan. Mereka yang terlibat, seperti tidak diberi kesempatan untuk membela diri dan menjelaskan kondisi yang sesungguh.

Dua hal tersebut menggambarkan, betapa kejamnya kehidupan karena sudah sama dengan melempar fitnahan. Mereka diberi sanksi tanpa diberi kesempatan untuk membela diri. Malahan, hukuman telah mereka dapatkan sebelum pengadilan memberikan putusan sesungguhnya.

Dalam Al Quran ditegaskan Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan. “Dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan. (QS Al-Baqarah: 191)”

Rasulullah SAW bersabda: “Seseorang hamba yang membicarakan sesuatu yang belum jelas baginya (hakikat dan akibatnya), akan dilempar ke neraka jahanam sejauh antara timur dan barat. (HR Muslim).

Juga Al Quran dengan tegas mengibaratkan, fitnah seperti memakan daging saudaranya sendiri yang sudah mati. “Wahai orang yang beriman jauhilah kebanyakan dari prasangka, (sehingga kamu tidak menyangka sangkaan yang dilarang) karena sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa dan janganlah sebagian kamu menggunjing setengahnya yang lain. Apakah seseorang dari kamu suka memakan daging saudaranya yang telah mati? ( Jika demikian kondisi mengumpat) maka sudah tentu kamu jijik kepadanya. (Jadi patuhilah larangan larangan tersebut) dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Penerima Taubat lagi Maha Penyayang  (QS: Al-Hujarat ayat 12)”.

Media sosial sudah seperti neraka bagi kehidupan,lantaran penuh dengan sensasi dan ajang caci maki. Bukankah sanksi sosial itu jauh lebih menyakitkan dibandingan hukuman fisik?

Mestinya, untuk memberikan informasi kepada khalayak ramai, hendaknya berpijak kepada aturan jurnalistik. Baca: Luar Biasa, Mobil Mewah Kuasai Halte Trans Padang

Tak mesti harus menginformasikan secara terbuka, kecuali kalau hal tersebut memang tidak dilarang aturan. Seperti koruptor, pemerkosa atau tindak kejahatan lain yang diperbolehkan.

cover Edisi 23 (Terbit Tiap Senin)
cover Edisi 23 (Terbit Tiap Senin)

 

loading...

Tentang Saribulih

mm
Seorang praktisi pers yang juga bergerak dibidang pendidikan. Menulis dan berorganisasi merupakan hal yang mutlak baginya. Prinsipnya, seorang guru harus jadi penulis, karena dengan menulislah cakrawala dan kemampuan akan terus terasah. Organisasi juga suatu kebutuhan, karena bisa dimanfaatkan untuk bertukar pikiran

Baca Juga

Semen Padang saat menjamu Persela Lamongan

Semen Padang FC Kalahkan Skuat Nil Maizar

SPIRITSUMBAR.com, Padang – Semen Padang kembali sukses meraih tiga poin setelah menaklukkan tamunya, Persela Lamongan ...