Beranda - Pendidikan - Artikel - Sadar di Alam Bawah Sadar
Riyon
Riyon

Sadar di Alam Bawah Sadar

Print Friendly, PDF & Email

Oleh : Riyon

Seperti kalender tetap musim penghujan seperti banjir, siapapun gubernurnya di DKI itu tetap tak pernah lepas dari belitan masalah banjir.

Banjir bukan suatu hal yang langka dan sudah hal yang sangat biasa, sebagai peluh kern gat kota Jakarta. Pertanyaannya  tentu muncul asal muasalnya dari berbagai sudut pandang, faktor dan kondisi alam serta lingkungannya .

Banjir atau didaerah lain terjadi bencana alam kondisi sekarang, juga bukan fenomena alam. Kenapa terjadi banjir bandang, bencana alam,dan lainnya tentu kajiannya dari akar rumput.



Kita sebagai manusia ini, harus berkearifan ramahkan terhadap alam, bukan sekedar sosialisasi manis, Peduli Terhadap Lingkungan Jaga dan Pertahankan ! Tetapi darah yang ada dalam daging harmonisasi saling membutuhkan harus terbangun indah dan berkelanjutan dipertahankan.

Artikel Lainnya

loading…


Kata Menyadari itulah sebetulnya mengingatkan kita, arti salah satu bagian dari desakan dan kikisan banyak sekali kebutuhan hidup manusia . Alam jangan terlalu terbawa arus termarjinalkan . Kebutuhan manusia hidup selalu membutuhkan ,alam tetap terjaga dengan baik, jangan terlalu rakus di eksploitasi untuk suatu kepentingan dalam arti yang luas . Danb Ekosistem harus selalu terjaga dengan benar.

Setiap tahun selalu diperingati “Hari Kesadaran Nasional”, semoga makin kedepan semakin baik, berkuranglah orang yang banyak nggak sadar manfaat kelestarian ekosistem itu.

Kalau pemain kuda kepang mabuk /kesurupan, artinya itu nggak sadar, ya makan pecahan beling/kaca semorong lampu togok atau lainnya. Yang bahayanya itu yang katanya nggak sadar tapi makan segala cara di halalkan.Seperti ikan phiranha, asal apapun masuk dalam kehidupannya tersebut, terutama segala fauna habis sudah tinggal tulang belulang.

Umpamanya, dari satu atau dua sisi saja , kegiatan illegal loging yang tak pernah memudar bahkan menjadi-jadi , lalu lahan jadi tak lestari.

Pasca tambang illegal di DAS tanpa reklamasi, lahan yang tercederai menjadi potret buram di pandang mata publik. Lalu munculah bisikan dari hati sanubari = Quo Vadis, ekosistem yang tercederai itu. Dan dalam hati kita selalu bertanya : Tanggung jawab siapakah ini?. Jawabnya dalam kesimpang siuran ” Entahlah! “. Seriuskah, ndak kah?. Hanya diam seribu bahasa seperti batu dalam sungai andaikata batu itu bisa bicara, dari A sampai Z akan berkata sejujurnya. (*).



loading...

Tentang Saribulih

mm
Seorang praktisi pers yang juga bergerak dibidang pendidikan. Menulis dan berorganisasi merupakan hal yang mutlak baginya. Prinsipnya, seorang guru harus jadi penulis, karena dengan menulislah cakrawala dan kemampuan akan terus terasah. Organisasi juga suatu kebutuhan, karena bisa dimanfaatkan untuk bertukar pikiran

Baca Juga

Anggota Komisi VI DPR RI Nevi Zuairina bersama Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno tinjau kesiapan antisipasi virus corona di BIM, Sabtu 21/3

Sumbar Siapkan Dua Rumah Sakit Khusus, untuk Rawat Virus Corona

SpiritSumbar.com, Padang – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Barat (Sumbar) terus berupaya untuk memutus mata rantai ...