Beranda - Pendidikan - Artikel - RPP Satu Lembar Bisakah ?
Feri Fren
Feri Fren

RPP Satu Lembar Bisakah ?

Print Friendly, PDF & Email

Oleh : Feri Fren (Widyaiswara LPMP Sumbar)

Surat Edaran Nomor 14 Tahun 2019 tentang penyederhanaan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) telah dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tertanggal 10 Desember 2019. Dalam edaran tersebut dinyatakan bahwa penyusunan RPP dilakukan dengan prinsip efisien, efektif, dan berorientasi pada peserta didik.

Penyusunan RPP bersifat efisien maksudnya adalah penulisan RPP dilakukan dengan tepat dengan tidak menghabiskan banyak waktu dan tenaga. Efektif, berarti penulisan RPP dilakukan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Sementara berorientasi pada peserta didik menegaskan bahwa penulisan RPP dilakukan dengan mempertimbangkan kesiapan, ketertarikan dan kebutuhan belajar peserta didik di kelas.

Esensi sebuah RPP bukan dari sekedar penulisan RPP semata, melainkan juga tentang proses refleksi guru terhadap pembelajaran yang telah dilakukannya. RPP yang telah dibuat guru dilaksanakan dalam proses pembelajaran, setelah itu guru melihat kembali RPP yang telah dibuatnya itu dan melakukan refleksi apakah maksud dari RPP yang disusun berdasarkan Kompetensi Dasar (KD) sudah tercapai dalam proses pembelajaran atau belum.


Artikel Lainnya

loading…


Disitulah terjadi pembelajarannya bagi guru, bukan pada penulisan RPP yang jumlah halamannya banyak sebagaimana yang selama ini dibuat. Kadangkala karena rumitnya penulisan RPP tersebut dirasakan guru, sementara tugas yang melekat pada guru sangat banyak tidak salah mereka membuatnya dengan pola copy paste.

RPP dibuat hanya untuk sekedar kelengkapan administrasi saja dan digunakan sebagai alat untuk menggugurkan kewajiban apabila ditanya oleh kepala sekolah dan pengawas.

Selama ini yang dirasakan guru dalam membuat RPP selalu diarahkan untuk mengikuti format yang kaku dan memiliki banyak komponen yang sudah digariskan. Guru diminta untuk menulis dengan sangat rinci dimana satu dokumen RPP bisa mencapai lebih dari 20 halaman.

Akibatnya untuk membuat sebuah RPP perlu menghabiskan banyak waktu. Guru yang seharusnya bisa mengerjakan tugas lain akan memiliki kekurangan waktu. Tugas mendidik dan melatih mulai terabaikan, termasuk juga dalam hal mengevaluasi proses pembelajaran serta memberikan tindaklanjutnya.

Bila kita cermati Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 14 Tahun 2019 tersebut, dari 13 (tiga belas) komponen RPP sebagaimana yang diatur selama ini dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah.

Untuk saat ini dalam menyusun RPP cukup memuat 3 (tiga) buah komponen inti saja yakni tujuan pembelajaran, langkah-langkah (kegiatan) pembelajaran, dan penilaian pembelajaran (assessment) yang wajib dilaksanakan oleh guru, sedangkan komponen lainnya bersifat pelengkap.

Untuk mengembangkannya, sekolah, kelompok guru mata pelajaran sejenis dalam sekolah, Kelompok Kerja Guru (KKG), Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), dan individu guru secara bebas dapat memilih, membuat, menggunakan, dan mengembangkan format RPP secara mandiri.

Untuk sebesar-sebesarnya demi keberhasilan belajar peserta didik. Namun demikian juga disampaikan bahwa RPP yang telah dibuat selama ini tetap dapat digunakan dan dapat pula disesuaikan oleh guru.

Seorang guru dalam menyusun RPP perlu juga memahami Undang-undang No.20 Tahun 2003. Pada pasal 1 ayat 1 menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran.

Agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Hal ini diperkuat dengan Permendikbud No.22 tahun 2016 tentang standar proses yang menyatakan pembelajaran dilaksanakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif.

Serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Kesemuanya itu perlu diperhatikan guru dalam menyusun sebuah perencanaan pembelajaran.

Disamping membuat perencanaan untuk mengajar, guru sebagai pendidik professional juga mempunyai tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Pemahaman lebih lanjut yang tidak kalah pentingnya bagi guru bahwasanya RPP merupakan rencana kegiatan pembelajaran tatap muka untuk satu kali pertemuan atau lebih. RPP dikembangkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan pembelajaran peserta didik dalam upaya mencapai Kompetensi Dasar (KD).

Setiap pendidik pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun RPP agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, efisien, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.

Dengan dikeluarkannya Surat Edaran Mendikbud Nomor 14 Tahun 2019 tersebut, Guru secara bebas dapat memilih, membuat, menggunakan dan mengembangkan format RPP asalkan tiga komponen inti sebagaimana yang telah digariskan harus termuat di dalamnya, yakni tujuan pembelajaran, kegiatan pembelajaran, penilaian.

Penyusunan RPP satu lembar pada dasarnya bisa dibuat oleh guru. Sebagai langkah awalnya tentu terlebih dahulu guru harus membaca dan memahami Kompetensi Dasar yang akan diajarkannya. Dengan demikian seorang guru sudah tahu hendak mau kemana dan sampai dimana gradasi pencapaian KD yang akan diajarkannya.

Tahap selanjutnya barulah memilih dengan apa tujuan pembelajaran itu akan dicapai beserta langkah-langkah pembelajarannya kepada peserta didik. Untuk melihat daya serap peserta didik terhadap materi yang telah diajarkan dan memastikan apakah mereka betul-betul telah menguasainya, barulah dilakukan evaluasi dan tindaklanjutnya. (*)



 

Tentang Saribulih

mm
Seorang praktisi pers yang juga bergerak dibidang pendidikan. Menulis dan berorganisasi merupakan hal yang mutlak baginya. Prinsipnya, seorang guru harus jadi penulis, karena dengan menulislah cakrawala dan kemampuan akan terus terasah. Organisasi juga suatu kebutuhan, karena bisa dimanfaatkan untuk bertukar pikiran

Baca Juga

234 SC Regwil Pasbar, Tabur Bunga di Makam Pahlawan

Spiritsumbar.com, Pasaman Barat – Sebagai generasi muda penerus bangsa Indonesia, dalam setiap kesempatan harus mampu ...