Beranda - Pendidikan - Artikel - Revolusi Moral
Riyon
Riyon

Revolusi Moral

Print Friendly, PDF & Email

Sangatlah menarik kita bahas dan meluruskan antara suatu judul dengan arti dan tujuan. Dalam suatu judul ada perbedaan tipis, maknanya pun lain. Barangkali kita tak bosan-bosannya mendengar di media elektronik seperti di TVRI, TV lainnya, atau dalam suatu acara berkelas nasional.

Pasca kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sering dilakukan oleh pejabat negara termasuk dihadapan para wartawan teramsuk didalam acara resmi yang dihubungkan dengan Revolusi Mental.

Bukan penafsran individu, kata revolusi, mental sebetulnya kurang tepat dikaitkanubah prilaku seseorang. Baik itu statusnya pejabat atau orang yang sangat berpengaruh. Implementasi dari revolusi mental dapat diartikan dan dikaitkan dengan nyali seseorang. Umpama hanya nyali kerupuk, bagaimana digembleng menjadi mental baja, tegar menghadapi suatu realita kehidupan.

Mental bisa diartikan dengan “Nyali”., implementasinya termasuk anak kurang nyali. Nyali yang berlebihan juga berbahanya. Istilahnya bisa “bagak indak ketentuan”, bisa otoriter, berbuat semena-mena dan sewenang-wenang terhadap orang lain. Karena yang dibanggakan itu ada.

Tipikal seperti ini pasti sangat ambisius, bisa dengan bersegala macam cara demi meraih kepentinganya terpuaskan dihalalkan. Apalagi sinyalemen saat ini “mencari yang haram saja susah, apalagi yang halal”. Karakter orang seperti ini, licin seperti belut bermitamorfose seperti bunglon. Revolusi mental tidak signifikan, kalau dikaitkan ubah prilaku seseorang/tabiat.

Yang sangat dibutuhkan dan kebutuhan sangat mendesak “Negara Kesatuan Republik Indonesia” (NKRI) yang sangat kita cintai ini adalah membangun “Revolusi Moral” bukan Revolusi Mental”. Kasus-kasus kriminal, KDRT, semua dari rapuhnya moral. Taibat seseorang dengan prilaku yang baik dan jahat memang bersumber dari Moral.

Dengan rapuhnya moral seseorang berarti rapuhnya keimanan akan berbuat diluar koridor, sekendak hatinya bibit kejahatan perlahan umbuh mengakar. Meskipun dengan kesadarannya, bukan sedang mabuk minuman oplosan., ada niat berbuat merugikan pihak lain, karena ada peluang dan kesempatan. Contoh seperti pejabat negara atau anggota DPR sebagai wakil rakyat harus memberikan suri tauladan sepakterjangnya terhadap rakyat, karena dia sebagai wakil wakyat, bukan malah menggerogoti uang rakyat dengan muatan-muatan kepentingan.

Semua itu bersumber rapuhnya moral/akhlak budi pekerti, didalam ajaran agama apapun tetap mengajarkan dan menjunjung tinggi moral, kepada pemeluknya.

Seseorang punya jabatan di pemerintahan, termasuk penjabat negara. Selama periode lima tahun mewakili rakyat dilegislatif dengan kebijakan yang kadang kala bertendensi rapuhnya moral telah melukai hati rakyat. Seperti terjadinya KKN, tindak pidana korupsi, pencucian uang, papa minta saham dan mama cukup pulsa saja, kasus Setya Novanto dengan dugaan mencatut nama Presiden RI danWakil Presiden RI. Semua, untuk kepentingannya, sogok-menyogok/suap menyuap, untuk memuluskan maksud dan tujuan dengan syarat muatan-muatan kepentingan, baik pribadi kroni atau golongannya.

Tetapi tujuan itu bukan tujuan yang sangat mulia, tujuan yang hanya mementingkan diri sendiri, selama dia memegang jabatan dan kekuasaan bagaikan sang raja punya kuasa segalanya. Dengan rapuhnya moral, punya power, ada kecenderungan dengan suatu tindakan perbuatan itu salah, ironisnya disini tidak ada mengenal unsur salah, kelalaian tetapi disengaja, kesempatan didepan mata lalu setan selalu menggoda “lakukan!” kapan lagi.

Seseorang menduduki suatu jabatan empuk, tersanjung punya power dan berpengaruh. Kalau moralnya rapuh, moralnya sudah rusak, moralnya sudah bejat tak akan memandang dirinya siapa, Istilahnya “seribu anjing menggonggong kafilah tetap lalu”. Sebab ada peluang dan kesempatan itu tak pernah terjadi dua kali, hanya satu kali.

Sama dengan suratan takdir kehidupan manusia oleh Tuhan YME, hanya sekali hidup didunia ini. Gerakan revolusi moral harus dikedepankan melebihi revolusi mental. Baik buruknya tiang negara juga tergantung dari kekuatan moral rakyatnya.. Istilah pepatah Minang ”Tak lapuak dek hujan, tak lekang dek paneh”.

Edukasi moral memang harus dibangun sejak anak-anak memasuki PAUD-NI. Namun sangat disayangkan sekitar tahun 1990an pembelajaran anak SD, SLTP masih syarat dengan Pendidikan Moral Pancasila (PMP), lni sangat bagus membina karakter anak bangsa bermoral. Kodisi saat ini yang namanya Pendidikan Moral Pancasila telah terkubur selamanya dalam tumpukan muatan pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn).

Ini sangat riskan sekali tragis, nilai yang sangat luhur dalam diri seseorang prilaku budi pekerti yaitu moralnya, sehingga PMP tidak tersentuh. Kurikulum pendidikan berbasis budi pekerti, tidak bisa lepas dihilangkan dari muatan proses pembelajaran disekolah. Kalau ingin sungguh-sungguh membangun karakter anak bangsa noktah awal edukasi dari pendidikan moral. Insyaallah kalau menjadi orang besar punya jabatan, punya power masih punya landasan moral, sehingga perbuatan yang dilarang apapun agamanya, tidak akan dilanggar dan terjadi. Mulailah saat ini marilah dengan sebuah ajakan positif, jadikanlah “moral pahlawan dalam arti luas dalam diri kita”. Didalam hidup dan kehidupan ini. Kondisi saat ini tak salah, wajarlah krisis moral tumbuh subur kemana-mana. Tak perlu kita saling tuding-menuding. Salah siapa atau siapa salah, pemerintahkah, atau guru kitakah. Dilematis bukan!.

Kondisi saat ini krisis moral memang sudah diambang batas kewajaran barangkali masih ingat bukan, lagu yang pernah diciptakan dan dinyanyikan Ahmad Albar “Dunia Ini Panggung Sandiwara” itu memang benar, bukan hanya aktor dan aktris main sinetron tafsirannya, jadi pemain utama sinetron dikancah/blantika politik dinegeri ini, dengan lakon penuh muatan kepentingan, sensasional bahkan mengoncang negeri Ranah Ibu Pertiwi. Sementara masyarakat sebagai penonton dilayar kaca sangat kebingungan dan penasaran siapa benar siapa salah dan mana yang betul…yaa!. dalam lakon sinetron politik tersebut, kita akan lihat perkembangannya, mudah-mudahan yang tidak beres akan beres. yang beres tentu akan lebih beres, semua kembali kepada moral.

Mari kita dukung penuh sebagai rakyat Indonesia Revolusi Moral, baik gaungnya perlu diperbesar, peran serta Nitizen, Media Cetak/Online, termasuk berbagai komunitas masyarakat menggencarkan revolsi moral. Insyaallah negeri ini sakan terbebas dari rusaknya moral.

loading...

Tentang Saribulih

mm
Seorang praktisi pers yang juga bergerak dibidang pendidikan. Menulis dan berorganisasi merupakan hal yang mutlak baginya. Prinsipnya, seorang guru harus jadi penulis, karena dengan menulislah cakrawala dan kemampuan akan terus terasah. Organisasi juga suatu kebutuhan, karena bisa dimanfaatkan untuk bertukar pikiran

Baca Juga

Pembangunan Daerah (PPD) Peringkat I Kategori Perencanaan dan Pencapaian Tingkat Kabupaten

Tanah Datar Peringkat I PPD Tingkat Nasional

SPIRITSUMBAR.com – Sejarah besar ditorehkan Kabupaten Tanah Datar di awal bulan suci Ramadhan 1440 H. ...