Beranda - Pendidikan - Artikel - Rencana Kegiatan dan Skala Prioritas Anggaran Sekolah
Saribulih, owner Publik Spirit Sumbar (PSS Media Grup) saat penyampaian Materi Tokoh Inspirasi Zainuddin Labay
Saribulih, owner Publik Spirit Sumbar (PSS Media Grup) saat penyampaian Materi Tokoh Inspirasi Zainuddin Labay

Rencana Kegiatan dan Skala Prioritas Anggaran Sekolah

Print Friendly, PDF & Email

Oleh: Saribulih

Rencana Kerja Anggaran Sekolah (RAKS) adalah kegiatan perencanaan kerja terkait dengan belanja sekolah sesuai dengan anggaran masing – masing sekolah. Setiap lembaga diwajibkan untuk membuat RKAS, yang selalu dilaksanakan pada setiap tahun anggaran maupun tahun pembelajaran.

RKAS bertujuan agar sekolah memiliki perencanaan yang tepat. Sehingga anggaran telah teralokasi dengan pembelanjaan yang sesuai dengan kegiatan kerja sekolah. Dengan kata lain tidak digunakan secara tidak teratur atau ngawur.

Tak bisa dipungkiri, masih banyak kepala sekolah yang memanfaatkan anggaran sekolah secara ngawur. Karena, rencana kerja tidak dibahas melalui warga sekolah. Tragisnya, meraka hanya sekedar copy paste dari sekolah lain.

Tidak adanya rencana kegiatan juga akan berdampak tanpa adanya skala prioritas anggaran sekolah. Banyak, program yang naik di jalan salah satu pertanda sekolah tidak memiliki skala prioritas rencana kegiatan.

Dampaknya, ada sekolah yang kalang kabut diujung triwulan lantaran dana telah terkikis habis oleh kegiatan yang naik di jalan. Padahal, kegiatan tersebut bukanlah yang bersifat urgen atau hanya untuk mengejar prestise belaka.

Celakanya, penganggaran tersebut tidak pernah pula dibicarakan dengan warga sekolah. Hal ini, jelas akan menimbulkan dampak negatif dan mengganggu program yang justru dirancang sebelumnya.

Alangkah bijaknya, seorang kepala sekolah melaksanakan anggaran dengan skala prioritas dan mengedepankan kepentingan belanja rutinitas. Baik untuk menjamin kontinuitas proses pembelajaran dan peningkatan kompetensi guru melalui teknologi informasi.

Tak bisa dipungkiri, sumber pengetahuan utama di era teknologi ini adalah jaringan informasi. Suatu yang naif seorang kepala sekolah berpikiran pemanfaatan fasilitas teknologi informasi oleh guru merupakan untuk kepentingan pribadi.

Apalagi aturan guru agar 40 jam di sekolah termasuk didalamnya pengembangan kompetensi guru.

Dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19 tahun 2017 yang merevisi PP Nomor 74 tahun 2008 tentang Guru, beban kerja guru tidak hanya sekadar tatap muka, melainkan seluruh komponen beban kerja dihitung dalam delapan jam per hari bagi yang melaksanakan 5 hari kerja. Atau Ketentuan pelaksanaan beban kerja 40 jam per minggu

Komponen beban kerja yang seluruhnya dihitung itu, mulai dari merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, membimbing dan melatih peserta didik, hingga melaksanakan tugas tambahan yang melekat pada pelaksanaan kegiatan pokok.

Sedangkan pemenuhan beban kerja bagi guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah tertuang dalam Permendikbud Nomor 15 Tahun 2018.Dalam permendikbud ini secara rinci diatur beban kerja guru sebanyak 40 jam dalam satu minggu di administrasi pangkal atau Satminkal.

Dimana beban kerja tersebut terdiri atas 37,5 jam kerja efektif dan 2,5 jam istirahat.

loading...

Tentang Saribulih

mm
Seorang praktisi pers yang juga bergerak dibidang pendidikan. Menulis dan berorganisasi merupakan hal yang mutlak baginya. Prinsipnya, seorang guru harus jadi penulis, karena dengan menulislah cakrawala dan kemampuan akan terus terasah. Organisasi juga suatu kebutuhan, karena bisa dimanfaatkan untuk bertukar pikiran

Baca Juga

Karakter Dalam HOTS Matematika

Oleh : Ike Fitri Wardani  (Guru SMAN 1 Timpeh) Beberapa peristiwa fenomenal mengejutkan baru-baru ini ...