Beranda - Pendidikan - Artikel - Rancak di Labuah
saribulih
saribulih

Rancak di Labuah

Print Friendly, PDF & Email

Oleh: Saribulih

Dalam kehidupan, persaingan hidup makin berat . Kesempatan kerja terbatas sementara yang mencarinya semakin banyak.

Walau begitu ada juga yang mampu memaknai dengan bersungguh-sungguh dalam bersaing. Tapi, tak sedikit pula yang bermalas-malas. Namun toh hidup harus juga dijalani.

Yang agak mengherankan ada kecenderungan sebagian orang yang santai-santai saja. Tapi ingin juga terlihat hebat. Ingin juga berpenampilan gagah. Baginya jalan pintas akan mampu mengalahkan segalanya. Termasuk  untuk mendapatkan jabatan, menjilat pada atasan adalah hal yang lumrah dalam kehidupan. Terutama, dilakukan oleh mereka yang memang gila jabatan. Demi mengejar atau mempertahankan jabatan, dia rela menjilat atau bahkan bukan mustahil seperti hewan penjaga rumah. Caci maki oleh atasan diterima dengan tegar asal jabatan tetap mengakar.

Inilah yang dikatakan orang Minang dengan sindiran yang pandainya hanya melagak di tempat ramai, tapi modalnya kosong. Dia menganggap dirinya hebat, padahal diperoleh dari hasil menjilat. Kalaupun dia dapat jabatan, itu bukan karena kemampuan intelegensi, tetapi taklebih dari hasil caci maki yang ditahan selama ini dari atasannya. Dia tidak pernah berusahamelakukan terobosan, tapi tetap nekad untuk jual tampang kemana-mana dengan argumen hasil kerjanya. Orang seperti ini lah yang dijuluki rancak di labuah.

Berpenampilan klimis, rapi, gagah bak bintang sinetron, tapi tak memiliki kecerdasan. Dan tidak punya akal untuk mendapatkan jabatan. Kalau untuk urusan mencari nafkah ini, mati angin dia. Baginya yang mau diangkat semua terasa berat, yang mau dipegang semua terasa licin. Namun anehnya, selera makannya, selama bisa didapatkan dengan gratis, cenderung besar. (*)

 

Lebih lengkap, baca:

The Public Edisi 13/29 Februari – 6 Maret 2016

Cover Edisi 13 Thn III/28 Februari - 6 Maret 2016
Cover Edisi 13 Thn III/28 Februari – 6 Maret 2016




loading...

Tentang Saribulih

mm
Seorang praktisi pers yang juga bergerak dibidang pendidikan. Menulis dan berorganisasi merupakan hal yang mutlak baginya. Prinsipnya, seorang guru harus jadi penulis, karena dengan menulislah cakrawala dan kemampuan akan terus terasah. Organisasi juga suatu kebutuhan, karena bisa dimanfaatkan untuk bertukar pikiran

Baca Juga

Guru Seksi Penyebar Prestasi

Oleh: Donni Saputra ( Kepala SDN. 12 Api-Api Kecamatan Bayang Pesisir Selatan) Jangan ngeress dulu ...