Beranda - Headline - Presiden Pertama dari Kota Padang
Bukan mustahil mereka ini, Presiden pertama dari Kota Padang
Bukan mustahil mereka ini, Presiden pertama dari Kota Padang

Presiden Pertama dari Kota Padang

Print Friendly, PDF & Email

Motivasi itu berhasil mendisiplinkan para bocah yang merupakan generasi masa depan Islam tersebut. (Baca: Menggali Potensi Penerus Bangsa)

Usai Shalat Dhuha, secara langsung mereka menggabungkan diri dengan kelompok masing –masing. Nugi, Airin, Arjuna dan Velisa yang selalu berlarian sambil bercengkrama juga menyatukan diri. Para bocah yang baru menajak usia 4 tahun itu, juga asyik menghafal (Tahfidz) Quran sambil bermain dengan Ustadz Syarif Hidayat. Apalagi, guru yang masih berstatus Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam – Pengembangan Ilmu Al Quran (STAI-PIQ) Sumatera Barat ini sangat menyukai dunia anak. Maka sangat klop antara keinginan santri dengan sang guru.
Artikel Lainnya

loading…


Selain itu, juga ada kelompok usia bocah usia 5 sampai 6 tahun, namun sudah bisa menghafal dengan baik. Mereka ini dibina oleh Ustadz Rahmad Hidayat, yang juga alumni STAI-PIQ.  Mereka memang masih sering bertindak usil, tapi hal itu justru memberi motivasi sendiri dalam proses pembelajaran. Apalagi daya tangkap mereka yang berada dikelompok ini sangat cukup tinggi. Mereka lebih cepat melakukan hafalan ayat demi ayat yang disodorkan para ustadz.

Selain itu ada kelompok level III yang berusia 7 sampai 9 tahun. Mereka ini, rata rata telah hafal beberapa surat juzz ama. Sedangkan kelompok yang sudah hafal banyak surat tergabung pada kelompok IV. Dikelompok ini sudah 2 orang yang hafal hampir 2 juzz. Malahan, salah satu dari mereka juga berhasil meraih juara 2 Tahfidz pada MTQ tingkat Kecamatan Lubuk Begalung beberapa waktu lalu.

Dua jam berlalu, para penghafal Al Quran masih fokus dengan bacaan masing-masing. Kecuali, kelompok  I, beberapa bocah ini sekali-kali tampak berkelakar. Namun, guru yang mengajar masih setia mendampingi para bocah ini.

Sebagaimana telah digariskan sebelumnya, para santri kembali berkumpul usai melakukan pembelajaran. Sebagai penanggung jawab, saya kembali memberi motivasi sambil menerima uneg uneg mereka.

Pada kesempatan itu, saya kembali menegaskan agar mereka mengikuti pelatihan mubaligh mulai Minggu (18/3/2018). “Mudah-mudahan, sudah ada yang bisa tampil berceramah dihadapan jamaah tarwih dan subuh pada ramadhan tahun ini,” ujar saya pada para santri dengan nada optimis.

Tak bisa dipungkiri, metode tahfidz yang diawali dengan membaca terjemahan menjadi dasar dalam menyampaikan ceramah. Para santri memang diharuskan menggunakan Al Quran sama, yakni 1 juzz sebanyak 20 lembar. Dengan cara tersebut, mereka mudah mengingat dan memahami posisi ayat yang dihafal.

Sebagai kata motivasi kembali disampaikan agar menjadi generasi cerdas dan berkhaklak mulia. Hari ini lah penentu masa depan. Karena, kita tidak pernah tahun tentang masa depan. “Saya sangat berkeyakinan, dari kelompok inilah munculnya walikota atau bupati. Malahan, bukan mustahil dari kelompok inilah, munculnya lahirnya presiden pertama yang berasal dari Kota Padang,” ujar saya yang disambut dengan Aamiin oleh para calon penghafal Al Quran tersebut.

Tingginya motivasi anak anak tersebut dalam belajar, makin memperkuat keinginan saya untuk meningkatkan pembangunan fisik masjid. Apalagi, saat ini para anak anak tersebut belajar hanya membentuk kelompok dalam ruang masjid. Hal ini, jelas tidak efektif dalam proses pembelajaran, karena akan mengganggu kelompok yang lain.

Satu langkah yang harus dilakukan dengan membangun beberapa ruangan dikanan dan teras masjid. Ada 2 titik yang bisa dimanfaatkan untuk ruang belajar Tahfidz dan TPQ. Dalam perhitungan kasar dibutuhkan biaya sebesar Rp15 juta.

Walau kondisi kas Masjid Al Quwait saat ini minus Rp16 juta lebih, namun pembangunan ini adalah hal mendesak. Karena, embrio generasi Islam yang cerdas dan berakhlak sudah mulai muncul. Tinggal lagi menunggu kelahiran dengan menyediakan tempat layak.  Kewajiban semua muslim untuk mempercepat proses kelahiran ini dengan memberikan infak dan sumbangan. Baik bahan bangunan maupun uang tunai.

Bagi yang ingin memberikan infak dan sumbangan dalam bentuk uang tunai, bisa melalui rekening Bank BRI, nomor : 5477.01.013471.53-5 atas nama: Masjid Al Quwait

Editor : Saribulih

Baca juga:

loading…


loading...

Tentang Saribulih

mm
Seorang praktisi pers yang juga bergerak dibidang pendidikan. Menulis dan berorganisasi merupakan hal yang mutlak baginya. Prinsipnya, seorang guru harus jadi penulis, karena dengan menulislah cakrawala dan kemampuan akan terus terasah. Organisasi juga suatu kebutuhan, karena bisa dimanfaatkan untuk bertukar pikiran

Baca Juga

Esteban Vizcarra saat berkostum Semen Padang FC

Jelang Hadapi Hongkong, Bima Sakti Pulangkan Esteban Vizcarra

Spiritsumbar.com – Pelatih Tim Nasional Indonesia, Bima Sakti memulangkan Esteban Vizcarra dan Rezaldi Hehanussa jelang ...