Beranda - Pendidikan - Artikel - Pola 4C Kepala Sekolah
Harnieti
Harnieti

Pola 4C Kepala Sekolah

Print Friendly, PDF & Email

Oleh: Harnieti,  (Kepala SMPN.3 Kec. Lareh Sago Halaban)

Sesuai dengan Permendikbud Nomor 6 Tahun 2018 bahwa kepala sekolah adalah guru yang ditugaskan sebagai kepala sekolah. Berbeda dengan sebelumnya, dimana kepala sekolah adalah guru yang mendapat tugas tambahan sebagai kepala sekolah. Dalam hal ini, kepala sekolah adalah guru yang ditugaskan untuk menjalankan tugas kepemimpinan di sekolah.

Berdasarkan aturan tersebut maka tugas pokok dan fungsi (tupoksi) kepala sekolah saat ini lebih ditekankan pada bidang manajerial, kewirausahaan dan supervisi. Oleh karena itu, seorang kepala sekolah harus professional dan memiliki kompetensi yang baik, serta selalu update terhadap informasi. Kepala sekolah adalah faktor penentu dalam meningkatkan kualitas pendiidkan di sekolah, Mulyasa, (2007:24).

Keberhasilan pelaksanaan program sekolah sangat ditentukan oleh kompetensi dan iklim yang dibangun oleh seorang kepala sekolah tempat ia ditugaskan. Apabila seorang kepala sekolah memiliki kompetensi yang baik serta pandai dalam membangun iklim sekolah yang kondusif, maka akan mudah dalam pencapaian tujuan dan program yang telah ditetapkan.

Sebaliknya jika suasana serta iklim sekolah tidak kondusif maka akan terjadi hal yang sebaliknya, Keith & Girling (1991).

Seorang kepala sekolah yang memiliki kompetensi yang baik, maka memungkinkan untuk mewujudkan sekolah yang berkualitas dan meningkatkan mutu pembelajaran di sekolahnya. Berkaitan dengan pembelajaran abad 21 yang kita kenal saat ini, tentu saja juga harus menjadi aspek yang harus diperhatikan oleh seorang kepala sekolah.

Kepala sekolah harus mampu menjadi pemimpin pembelajaran. Seorang kepala sekolah sekolah harus mampu menjawab dan menemukan solusi terhadap setiap permasahan yang ada. Dalam hal ini tanggungjawab kepala sekolah tidak hanya pada tuntutan administrasi, melainkan juga terhadap pembelajaran yang berumutu.

Berkaitan dengan Pola 4c yang kita kenal dalam pembelajaran abad 21, seharusnya juga diaplikasikan oleh seorang kepala sekolah dalam pelaksanaan tugasnya. Diantaranya, pertama kepala sekolah kreatif, yaitu seorang kepala sekolah hendaknya memiliki sikap dan jiwa kreativitas yang tinggi. Hal ini dimaksudkan agar kepala sekolah mampu mencarikan solusi setiap tantangan yang dihadapi sekolah.

Kreativitas yang tinggi membuat seorang kepala sekolah mampu melakukan berbagai terobosan. Menjadikan sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. Serta mampu mengubah sesuatu yang biasa menjadi hal yang luar biasa.
Kepala sekolah yang kreatif akan mampu menemukan berbagai terobosan baru serta ide-ide baru yang bermanfaat bagi kepentingan pengembangan sekolah. Sebab jiwa kreativitas muncul dari mereka yang memiliki pengetahuan, rasa tanggung jawab serta percaya diri yang tinggi dalam mewujudkan hal-hal baru.

Sikap kreatif diawali dari kemampuan seorang kepala sekolah dalam mengatasi berbagai permasalahan yang ada. Selanjutnya masalah-masalah yang telah diidentifikasi tersebut menuntut kemampuan kepala sekolah dalam mencarikan solusi dan jalan keluar yang tepat.

Berdasarkan permasalahan tersebut maka, kepala sekolah yang kreatif akan mampu menyusun berbagai perencanaan dan program yang bermanfaat. Program-program baru yang tepat dan sesuai akan mampu menggiring sekolah ke arah perkembangan yang lebih baik pula.

Kedua, kepala sekolah yang komunikatif, yaitu kepala sekolah yang mampu menciptakan pola interaksi yang harmonis dengan berbagai pihak. Sebab dalam pencapaian visi, misi dan tujuan sekolah tidak akan mungkin terwujud tanpa adanya dukungan dari berbagai pihak. Untuk itu kemampuan berkomunikasi yang baik sangat diperlukan oleh seorang kepala sekolah.

Tujuannya agar ia mampu menggerakan, memengaruhi dan memberdayakan seluruh stakeholder yang ada.
Kepala sekolah harus mampu melibatkan dan memanfaatkan potensi setiap warga sekolah untuk berperan aktif dalam pencapaian setiap program yang telah dirumuskan.

Kepala sekolah yang komunikatif, akan mampu menciptakan suasana yang kondusif. Suasana kondusif tentu saja mempengaruhi terhadap iklim sekolah. Hal ini akan berdampak positif terhadap keberhasilan kepala sekolah dalam mencapai tujuan sekolah.

Selain itu kepala sekolah juga harus mampu memastikan bahwa pola interaksi yang diterapkan guru dalam proses pembelajaran. Maksudnya adalah terciptanya interaksi antara guru dan siswa, antara siswa dengan siswa serta antara siswa dengan sumber atau media pembelajarannya. Pembelajaran berbasis interaktif akan membiasakan siswa untuk mampu dan terlatih dalam berkomunikasi dengan baik.

Ketiga, kepala sekolah yang kritis, maksudnya adalah bahwa seorang kepala sekolah harus mampu menyaring dan menyeleksi setiap infromasi yang ada. Tanggap terhadap hal-hal baru yang mendukung terhadap pembelajaran di sekolah.

Berpikir kritis adalah pemikiran yang masuk akal dan reflektif yang berfokus untuk memutuskan apa yang mesti dipercaya atau dilakukan. Kemampuan berpikir kritis bagi seorang kepala sekolah sangat dibutuhkan agar mampu menentukan cara terbaik dalam setiap pengambilan keputusan.

Seseorang yang berfikir kritis akan dapat menganalisis setiap permasalahan –permasahan yang dihadapi dengan bijak. Berangkat dari permasalahan yang ada, maka akan ditemukan faktor penyebabnya. Selanjutnya akan menentukan cara terbaik diantara yang baik.

Seorang kepala sekolah semestinya tidak mudah terpengaruh ataupun dipengaruhi oleh pihak-pihak tertentu. Mampu mendengarkan setiap masukan, tapi tidak menerima begitu saja semua informasi tanpa konfirmasi dan berusaha mencari kebenaran dari informasi tersebut.

Keempat, kepala sekolah yang kolaboratif, yaitu kepala sekolah yang mampu membangun kerjasama dengan setiap komponen yang terkait. Kerjasama yang diterapkan oleh kepala sekolah tidak hanya dengan warga sekolah saja, akan tetapi lebih luas dari itu. Kepala sekolah harus mampu membangun kerjasama yang baik dengan berbagai pihak.

Kerjasama yang baik akan berdampak positif terhadap keberhasilan setiap kegiatan di sekolah. Sebab apabila suatu kegiatan didukung oleh seluruh warga sekolah tentu hasilnya akan lebih maksimal. Sebaliknya kegiatan yang tidak atau kurang didukung oleh warga sekolah, maka hasil yang dicapaipun juga akan biasa-biasa saja atau bisa jadi gagal.

Selain itu pencapaian visi, misi dan tujuan sekolah sangat ditentukan oleh kemampuan kepala sekolah dalam membangun kolaboarasi yang baik. Melalui penerapan pola 4C bagi seorang kepala sekolah diharapkan mampu mengoptimalkan pencapaian setiap program sekolah. Semoga.

loading...

Tentang Saribulih

mm
Seorang praktisi pers yang juga bergerak dibidang pendidikan. Menulis dan berorganisasi merupakan hal yang mutlak baginya. Prinsipnya, seorang guru harus jadi penulis, karena dengan menulislah cakrawala dan kemampuan akan terus terasah. Organisasi juga suatu kebutuhan, karena bisa dimanfaatkan untuk bertukar pikiran

Baca Juga

Semen Padang FC vs Persebaya Surabaya

Irsyad Maulana Pecahkan Telur Kabau Sirah

SPIRITSUMBAR.com, Padang – Semen Padang FC berhasil meraih poin penuh dengan skor 1-0 pada pertandingan ...