Selasa , 18 Desember 2018
Beranda - Fokus - Peran MGMP Dalam PKB
Harnieti
Harnieti

Peran MGMP Dalam PKB

Print Friendly, PDF & Email

Oleh: Harnieti (Kepala SMPN 3 Kecamatan lareh Sago Halaban)

Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) merupakan pembaharuan yang dilakukan guru secar sadar untuk peningkatan kompetensinya dalam bidang pekerjaanya.

Pengembagan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) dilaksanakan dalam upaya mewujudkan guru yang profesional ,bermartabat dan sejahtera, sehingga guru dapat berpartisipasi secara aktif untuk membentuk insan Indonesia yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, unggul dalam ilmu pengetahuan dan tekonologi, memiliki jiwa estetis, etis, berbudi pekerti luhur dan berkepribadian.

Guru merupakan fasilitator dalam pelaksanaan pendidikan di sekolah, untuk itu guru dituntut untuk dapat mengarahkan dan menciptakan suasana kegiatan belajar mengajar yang kondusif, sehingga dapat mencapai tujuan pendidikan nasional. Selain itu guru juga dituntut agar lebih profesional, inovatif, kreatif, persfektif dan pro aktif dalam melaksanakan pembelajaran di sekolah.

Guru sebagai tenaga pendidik profesional hendaknya jangan cepat merasa puas dengan pengetahuan dan keterampilan yang sudah dimilikinya. Seorang guru yang profesional hendaklah berusaha selalu mengembangkan potensi dirinya, pengetahuan dan keterampilannya sehingga layanan yang diberikan kepada peserta didik semakin berkualitas. Guru yang inovatif dan kreatif akan mampu membangun daya imajinasi dan kreatifitas peserta didik yang secara otomatis akan memberi pengaruh positif pada peningkatan minat dan prestasi belajarnya.

Guru yang profesional tidak hanya dituntut untuk memiliki kinerja yang baik dalam melaksanakan tugas mengajar, mendidik dan melatih peserta didik saja, melainkan juga harus mampu melakukan pengembangan keprofesian berkelanjutan. Hal ini bertujuan agar guru selalu dapat mengupdate pengetahuannya setiap saat, agar guru tidak ketinggalan dalam setiap perkembangan yang ada.

Berbagai hal bisa dilakukan oleh seorang guru untuk dapat meningkatkan profesionalismenya. Berdasarkan Permeneg PAN dan RB Nomor 16 Tahun 2009, seorang guru dapat melakukan kegiatan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) melalui tiga komponen yaitu : 1) melaksanakan pengembangan diri, 2) melakukan publikasi ilmiah dan 3) menemukan dan menciptakan karya inovatif.

Kegiatan pengembangan diri dapat dilakukan melalui dua kegiatan yaitu : 1) melakukan diklat fungsional dan 2) mengikuti kegiatan kolektif guru. Kegiatan kolektif guru dapat dilakukan guru dengan mengikuti kegiatan KKG atau MGMP.

Berkaitan dengan pengembangan diri melaui diklat fungsional, biasanya guru dapat mengikutinya apabila ada panggilan untuk mengikuti diklat. Maka kegiatan yang mungkin dapat diikuti guru secara mudah adalah kegiatan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP).

Undang-undang RI Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen mengamanatkan guru untuk memiliki: (1) kualifikasi akademik minimum S1/D-IV; (2) kompetensi sebagai agen pembelajaran yaitu kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional; dan (3) sertifikat pendidik.

Agar guru dapat memiliki kompetensi sebagai agen pembelajaran sebagaimana yang diamanatkan pada undang-undang tersebut di atas, guru harus senantiasa meningkatkan profesionalismenya secara terus menerus melalui berbagai upaya antara lain melalui kegiatan MGMP.

Terbentuknya MGMP diharapkan dapat meningkatkan kinerja guru melalui koordinasi dan jejaring antarkelompok kerja dan musyawarah kerja. Forum-forum tersebut dibentuk pada tingkat kabupaten/kota/provinsi sebagai wadah koordinasi bagi guru mata pelajaran yang sejenis.

Dalam pencapaian tujuannya yaitu meningkatkan kompetensi guru, maka diharapkan MGMP dapat melaksanakan fungsi dan peranya dengan baik. Pengurus MGMP diharpakan mampu menginput segala kebutuhan peserta dalam hal pengembangan profesinya. Hal ini akan terlihat dari setiap program yang disusun MGMP.

Namun permasalahannya dewasa ini masih banyak kita temui di lapangan, bahwa MGMP hanya sebagai tempat untuk mengisi waktu saja bagi guru-guru. Kedatangan mereka di MGMP tidak memiliki tujuan yang jelas, sehingga MGMP sering diplesetkan dengan istilah yang kurang baik. Peserta MGMP kebanyakan tidak memahami akan pentingnya mereka mengikuti kegiatan, apa tindak lanjut yang harus dilakukan setelah mengikuti MGMP.

Dalam mengatasi permasalahan tersebut tentu harus menjadi pemikiran bagi pengurus MGMP, bagaimana menyusun program kegiatan yang betul-betul dibutuhkan oleh peserta. Pada awal pertemuan setiap semester, hendaknya telah terhimpun jenis PKB yang dibutuhkan peserta.

Bertolak dari hal tersebutlah disusun program kerja, agar guru betul-betul merasakan bahwa ia sangat butuh dan mau terlibat secara aktif dalam kegiatan MGMP. Hal ini penting agar setiap peserta merasa rugi apabila tidak menghadiri kegiatan. Peserta harus difasilitasi dengan berbagai hal, diantaranya materi kegiatan yang bermanfaat bagi mereka, sarana yang memadai serta fasilitas lain yang mendukung terlaksananya kegiatan.

Kepala sekolah sebagai koordinator dari setiap MGMP, sebenarnya juga mempunyai peranan penting dalam pengembangan MGMP. Mengapa tidak, karena dengan hadirnya kepala sekolah di MGMP akan memberikan nuansa lain bahwa MGMP betul-betul kegiatan formal dan tidak hanya sekedar menghabiskan waktu belaka. Apalagi bila kepala sekolah juga mampu memotivasi dan memberikan bimbingan dalam pelaksanaan kegiatan.

Selain itu pengawas mata pelajaran juga tidak kalah penting kehadirannya di kegiatan MGMP. Pengawas dapat mengevaluasi tingkat keterlaksanaan program kegiatan MGMP, dan seberapa jauh peranan MGMP dalam meningkatkan kompetensi guru. Pengawaspun juga tentunya sangat diharapkan andilnya dalam memberikan masukan dan arahan terhadap pembenahan MGMP.

Pada kenyataan sekarang ini, apakah semua kondisi di atas telah terealisasi di MGMP?, andaikan sudah tentu MGMP akan mampu memfasilitasi guru dalam pengembangan kompetensi yang dibutuhkannya. MGMP betul-betul akan menjadi wadah yang paling tepat dalam pelaksanaan PKB bagi guru. Namun, jika belum demikian, tentu perlu pemikiran kita bersama, seluruh komponen yang terkait agar MGMP mampu untuk berbenah.

loading...

Tentang Saribulih

mm
Seorang praktisi pers yang juga bergerak dibidang pendidikan. Menulis dan berorganisasi merupakan hal yang mutlak baginya. Prinsipnya, seorang guru harus jadi penulis, karena dengan menulislah cakrawala dan kemampuan akan terus terasah. Organisasi juga suatu kebutuhan, karena bisa dimanfaatkan untuk bertukar pikiran

Baca Juga

Darul Siska

Waspada dan Dekatkan Diri Pada Sang Pencipta

SPIRITSUMBAR.com – Putusnya jalur transportasi, telah menimbulkan keprihatinan semua pihak. Apalagi,  jalur transportasi darat merupakan ...